Still You

Still You
Rumor gak tuh ?


__ADS_3

Jam tangan Yulia kini sudah menunjukkan pukul enam pagi. Yulia berjalan santai menuju pintu rumah Ani. Sekali lagi, ia menarik napasnya panjang, lalu menghembuskan-nya dengan kasar.


"Nih jantung kenapa kek mau lompat, dah?"


Lagi-lagi Yulia berusaha menenangkan dirinya, kemudian bersiap untuk mengetuk pintu di depannya.


Tok tok!


Tak bisa di pungkiri, ia cemas dan jantungnya terus berdetak kencang.


🦋🦋


Mobil merah milik Yulia baru saja memasuki gerbang SMK 7 Gajah Mada. Tak lama setelahnya ia turun, di susul oleh Habil dari pintu penumpang.


Yulia menarik napas, kemudian membuangnya perlahan. Ia berjalan memutari mobilnya, mendekati Habil yang baru saja selesai menutup pintu samping kemudi.


"Bisa jalan sendiri 'kan?" Tanya Yulia.


"Gua duluan, ya?"


Habil tercengang, ia menatap Yulia tak percaya. "Kejam banget, udah kayak ibu tiri!"


Yulia sedikit terkekeh, kemudian tangannya dengan cepat memeluk lengan kanan Habil. "Ya udah, bareng aja, ayok!" Ucapnya semangat, seraya menarik-narik lengannya pelan.


Lagi-lagi Habil tercengang, menatap lengannya tak percaya. "Ya?"


"Hm?"


Yulia menoleh. Ia diam kala pandangannya bertemu dengan Habil saat itu. Untuk beberapa saat, mereka saling tatap sebelum akhirnya Yulia sadar dan memutuskan pandangan terlebih dahulu.


Yulia salah tingkah. Pipinya merona.


Ia mengalihkan pandangannya menatap apapun di sekitarnya selain Habil, membuat Habil yang menyadarinya lalu tersenyum tipis.


"Kenapa, Ya?" Tanya Habil seraya menahan senyumnya.


"Ayok, keburu bel!"


Yulia melepaskan lengannya dari lengan Habil, kemudian berlalu meninggalkan Habil yang masih menatapnya dengan senyuman yang semakin lebar.


Habil menggeleng, "Apa nih artinya?"


🦋🦋

__ADS_1


"Eh tau gak, teteh yang sikap nya dingin tuh. Siapa dah namanya? Ya ... Ya ...."


"Milea?" Celetuk siswi berhijab tersebut seraya tertawa, membuat lawan bicaranya sedikit kesal.


"Iya ... iya ... teh Yulia 'kan? Dia kenapa?" Ralatnya


"Dia yang se-cuek itu, tadi gua liat dia dateng ke sekolah bareng cowok!"


"Udah gitu dia yang nyetir! Gila gak tuh?" Ucapnya antusias.


Aldi yang kini sedang berjalan tanpa ekspresi, kini langkahnya semakin pelan kala ia mendengar segerombolan siswi di dekatnya seperti membicarakan seseorang yang ia kenal.


"Gimana ceritanya itu teh, kok bisa di setirin?"


"Atau mungkin mereka ...."


"JADIAN?!" Tebaknya kompak, kemudian tertawa di detik selanjutnya.


Aldi berhenti sejenak tanpa menoleh, kemudian melanjutkan langkahnya menuju kelas.


🦋🦋


Di dalam kelas 12 teknik Habil duduk seraya memainkan ponselnya, tetapi bayangan tentang Yulia selalu saja muncul dalam benaknya.


Habil terkekeh seraya menggeleng pelan. "MasyaAllah nempel!"


Pertanyaan tersebut membuat Habil sontak terkejut, refleks menoleh. "Suka banget buat jantung orang kaget?"


Bukannya meminta maaf, Aldi melengos seraya berjalan duduk di tempat duduknya. "Lo jadian?"


Hening.


Habil mengangkat sebelah alisnya, "sama siapa?"


Sedangkan Aldi, ia mengedikkan bahunya, lalu menatap Habil. "Ada adek kelas lagi gibahin lo."


"Hah?"


Lagi-lagi Aldi mendengus ketika ia melihat respon Habil yang lamban. "Mereka kaget Yulia setirin lo!"


"Malah ngira kalo kalian jadian!" Lanjutnya.


Habil yang sedari tadi diam, diam-diam ia tersenyum simpul. Hatinya berbunga-bunga kala ia mendengar kabar tersebut. Secocok itu 'kah Yulia dengan dirinya?

__ADS_1


"Weh ... si Habil mah ya sekarang abis nyium aspal otaknya geser. Senyum-senyum sendiri, euy!" Ucap Afif meledek, dengan volume yang lumayan keras, membuat semua yang berada di dalam kelas menoleh untuk beberapa detik.


"Jomblo diem!" Titah Aldi membuat Afif sedikit cemberut.


Miko yang baru saja datang bersama Afif, ia terkekeh mengejek seraya menepuk bahunya. "Skenario Tuhan memang ngedukung buat nge-bully lo, Fif!"


"Gak inget lo? Lo malah lebih lama nge-jomblo nya dari pada gua!" Ucap Afif berusaha membela diri. "Kelamaan jomblo jadi ngenes lo!"


Miko mendengus, "Pacaran mulu, gak mandiri lo?"


"Nge-jomblo mulu, gak laku lo?"


Yah, begitulah adu mulut dua algojo. Aldi dan Habil yang sedari tadi menonton itu pun, mereka mendengus kasar seraya menggeleng.


"Pulang sekolah kalian gelut di lapangan, gua kasih pisau buah satu-satu!"


🦋🦋


Di tempat lain, di dalam kelas 12 tata busana. Yulia yang baru saja memasuki kelasnya, ia berjalan lamban. Langkah kecilnya membawa dirinya semakin dekat dengan bangku kesayangannya.


"Tumben banget udah dateng?" Tanya-nya kepada Adi yang sudah duduk tampan di kursinya.


"Gua emang rajin, lu aja yang gak mengakui, Ya."


Mendengar penuturan Adi, Yulia dan Wulan kompak berdecih, seraya memutar bola matanya malas.


"Liya belum dateng, ya?" Tanya Yulia membuat Wulan mengangguk.


"Senin udah ujian praktek, ya?"


Lagi-lagi Wulan mengangguk, sedangkan Yulia hanya diam. Ingatannya menerawang jauh, mengingat Habil dengan kondisi tangan yang seperti itu.


'Apa mungkin, lengan Habil akan lekas membaik sebelum hari senin tiba?' -Batinnya.


"Selamat pagi para readers ku tersayang!"


Yulia sedikit terkejut, mendengar suara yang baru saja menusuk telinganya. Liya tiba-tiba datang, berjalan mendekat seraya berteriak nyaring.


"Readers? Gua cuma kasih vote ke cerita lo, Li. Bukan baca!"


Seketika Liya diam. Raut wajah yang tadinya cerah, kini tampak menjadi kesal. Adi terkekeh, ia menggeleng pelan seraya menatap Liya yang kini sudah duduk di bangkunya.


"Becanda, Li. Sensian banget, napa dah!"

__ADS_1


Liya diam, tidak memperdulikan. Sebuah kalimat yang baru saja ia dengar pagi ini, kini kembali teringat. Liya menatap Yulia, kemudian berucap. "Ya!"


"Lo jadian sama Habil?"


__ADS_2