
"Iya, gue udah pacaran sama Miko sejak tahun lalu!"
Semuanya dibuat melongo oleh penuturannya. Tak ada yang menjawab untuk beberapa detik, sampai Wulan kini bertanya.
"Becanda lo, Ya?"
Liya terkekeh sinis, seraya menatap Yulia. "Udah jelas dia gak becanda, Lan!"
Wulan menganggukkan kepalanya beberapa kali, kemudian ikut terkekeh sinis.
"Gak canggung walau gak komunikasi? Bohong banget!"
Lagi-lagi Wulan tertawa, membuat suasana terasa sedikit panas. "Empat tahun kita gak komunikasi, itu keputusan siapa? Keputusan lo!"
"Dan sekarang apa? pulang-pulang lo gak ada ngabarin, malah sok gak kenal sama kita, Ya!"
Liya menepuk-nepuk pundak Wulan, seraya tersenyum tipis. "Berisik lo, Lan," bisiknya dengan nada becanda.
Wulan yang mendengar bisikan Liya, kini terkekeh geli. "Kebawa suasana gue tuh!"
Sedangkan Habil, Afif, Aldi dan Aditya hanya bisa melongo. Meyakinkan dirinya bahwa mereka tidak salah dengar.
"Gue mau minta maaf sama kalian, terutama lo, Bil!"
Habil yang disebut kini menoleh. Alisnya terangkat sebelah, menunggu Yulia kembali berbicara.
"Gue bakal lebih bersyukur kalo empat tahun gue tinggal, lo udah ada cewek baru, Bil!"
Habil terkekeh, melirik Miko sekilas. "Tenang aja, besok pagi juga bisa gue dapet cewek baru!"
Tak bisa di pungkiri, kini hatinya sesak. Matanya sedikit berkaca, tapi ia tahan agar tak tumpah.
__ADS_1
Afif meringis, melihat Habil yang sesekali terkekeh miris. Tangannya terulur untuk menepuk-nepuk bahu temannya tersebut.
"Tangan lo gak bisa diem banget, Fif!"
Afif yang awalnya kasihan, kini ia mendengus. Kembali menepuk bahu Habil lebih keras, "Ck!"
Di tempatnya Yulia tersenyum tipis, kemudian mengangguk kala mendengar jawaban Habil.
Tuk tuk!
Habil mengetuk meja bagian yang kosong di depan Miko, kemudian berucap. "Jangan temuin gue lagi kalo lo masih sayang muka!"
🦋🦋
Di kos Afif, kini Habil dan Aldi berada. Tiga bungkus rokok berbeda merk kini berada di tengah, dengan korek di sekitarnya. Satu batang rokok yang hampir habis kini berada di tengah-tengah jari telunjuk dan jari tengah milik Habil.
Dihisap, lalu di hembuskan.
Afif melongo. Pasalnya, selama empat tahun terakhir Habil sudah berhasil mengurangi jatah rokok hariannya.
Flashback on.
"Rokok, Bro?" Tanya Afif, seraya mengeluarkan sebungkus rokok dari saku celananya.
Habil menggeleng, '"Seharian gue udah abis tiga!"
Afif terkekeh, menganggukkan kepalanya. "Maksimal perhari, tuh?"
"Udah kayak minum obat ae sehari tiga kali!"
Tak puas meledek, Afif kembali tertawa. Bibirnya kembali menghisap rokok, kemudian menghembuskan asapnya.
__ADS_1
"Masih pengen berhenti rokok lo?" Aldi terkekeh, seraya menatap Habil.
Yang di tatap hanya mengangguk sekali, tanpa mengeluarkan kata.
"Kenapa pengen?" Tanya Afif ingin tahu.
Habil menatap Afif, kemudian mengedikkan bahunya. "Biar nanti gak kebiasaan ngerokok!"
"Istri sama anak gue nanti bakal ikut bahaya kalo gue masih suka ngerokok!"
Mendengar jawaban Habil, kini Afif melongo. Sampai saat Habil melemparkan bungkus rokok milik Afif tersebut, membuatn lamunan Afif buyar.
"Lo juga harus kurangin rokok! Biar Wulan sama anak lo nanti gak ikut nanggung bahayanya!"
Flashback off.
Tiba-tiba Habil terkekeh, seraya menghembuskan asap rokoknya. "Sebenernya tujuan gue berhenti rokok itu buat siapa, dah?"
Aldi menoleh sekilas, mengedikkan bahunya acuh. "Yulia!"
Jawaban dari Aldi kini membuat Habil terkekeh geli, membuat Afif menatap ngeri ke arah temannya tersebut.
"Ikhlasin aja, Bro! Besok cari gebetan baru bareng gue!"
"Ogah!"
"Yang ada gue keliatan jelek kalo nyari-nya bareng lo!" Lanjutnya.
Habil menoleh ke arah Aldi setelahnya. "Cari gebetan bareng lo aja, Al. Yo?"
"Ogah, lah! Ntar malah gue yang ketularan jelek!"
__ADS_1
Habil menghela napas panjang, lalu membuangnya. "Dibalikin, dong!"