Still You

Still You
Dia kembali.


__ADS_3

Keringat yang terus mengalir dari kening ke hidung, baru kemudian menetes. Habil terus berlari memutari lapangan basket, kurang dua putaran lagi, pikirnya.


Di pinggir lapangan, terdapat pak Mukhlis yang sedang mengawasi Habil. Benar-benar anak itu, bukannya belajar malah menyelinap masuk untuk menggoda anak kelas lain.


Setelah beberapa menit, Habil berhenti. Nafasnya yang tersengal-sengal, membuatnya harus menunduk, kedua tangannya memegang lutut sebagai tumpuan nya.


Kepalanya bergerak menoleh dimana pak Mukhlis tadi berdiri, kosong.


"Sialan, ternyata udah gak di pantau," Habil mengumpat pelan.


Satu tangan terulur dari samping ke depan wajahnya, membuat Habil sedikit terkejut, lalu mendongak untuk menatap si pelaku.


Seseorang yang membelakangi cahaya matahari tersebut membuat dirinya susah melihat dengan jelas, siapa orang itu.


"Gak mau lo gua kasih minum?" sentaknya sedikit sinis membuat Habil refleks berdiri tegak, ingin menatapnya.


Senyuman tipis terukir ketika ia mengetahui bahwa dia adalah Yulia. Dia membawakan sebotol air mineral kepadanya, membuat Habil senyum-senyum sendiri di buatnya.


"Jangan senyum-senyum sendiri!"


Habil menyengir, kemudian mengambil air mineral yang Yulia kasih untuknya. Lampu ijo nih, batinnya.


Terlalu percaya diri, memang.


"Kapok gak lo ke kelas gua?" Yulia bertanya, seraya berjalan menuju kursi pinggir lapangan yang kebetulan, terhindar dari teriknya matahari karena pohon besar di sekitarnya.


Habil mengikutinya, duduk di sampingnya seraya meminum air yang sempat Yulia kasih.


Habil meneguknya setengah, kemudian menutupnya kembali.


"Panas-panas ngapain ke lapangan?"


Mendengar pertanyaan Habil, Yulia mendesis. "Kasih lo minuman lah, pinter!"


Habil menyengir kuda, tampak tidak merasa bersalah. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari sesuatu yang mungkin saja ia temui di sana.


"Ngapain lo?"


Habil menggeleng, kemudian berbisik. "Nyari ekor lo, kok gak ikut?"

__ADS_1


"Mereka dapet majikan baru."


Hening.


Majikan?


Terdengar kekehan dari arah samping, membuat Habil menoleh dan terlihat lah Yulia yang sedang terkekeh seraya menatapnya.


Cantik, pikirnya.


Habil yang menatapnya tanpa kedip, ia sedikit terkejut kala Yulia memukul pelan lengan Habil yang sedikit basah oleh keringat.


"Eh? Kenapa?"


Yulia mendengus, menyenderkan tubuhnya ke senderan kursi. Ia menatap lurus, mengabaikan Habil yang sedang menatap dirinya.


"Abis ini ujian nasional, gua pengen belajar sama lo. Boleh?"


Sedikit terkejut dengan penuturan Habil tersebut. Yulia menoleh, mengernyitkan keningnya heran, tangannya terulur menyentuh kening Habil, berniat mengecek suhu badannya.


"Sakit lo?" Tanyanya dengan tangan yang masih nempel pada kening Habil. Habil tersenyum tipis, menatap tangan Yulia tersebut, membuat matanya sedikit juling karenanya.


Habil menyengir dengan wajah tanpa dosanya. Tubuhnya juga ikut ia senderkan di senderan kursi, mengikuti Yulia.


"Gua cuma pengen banggain Bunda ae," celetuknya seraya menatap lurus. Yulia menatap heran, benarkah?


"Telat lo!"


Jeda.


"Otak lo emang bisa mahamin buku setebel itu?"


Hening.


Habil diam. Sebenarnya, ia hanya memanfaatkan waktu agar bisa terus bersama dengan Yulia. Ia ingin membuatnya berubah mencintainya seperti Habil mencintainya.


Berjuang kembali istilahnya, tetapi kali ini secara halus.


Habil tersenyum tipis, kemudian menoleh menatap Yulia. Pandangan mereka bersatu, membuat detak jantung satu sama lain berdetak sedikit lebih cepat.

__ADS_1


Yulia memutuskan pandangan terlebih dahulu, kemudian menatap lurus kedepan. Menatap lapangan yang semakin panas.


"Jam tiga sore, tiap lo pengen belajar, lo tinggal ke rumah gua," ucapnya, kemudian berdiri dan pergi meninggalkan Habil yang kini sedang tersenyum senang, menatap punggung Yulia yang kini semakin menjauh.


"Seneng ye di hukum pak Mukhlis?" pertanyaan yang di dasari ledekan tersebut membuat Habil menoleh ke belakang.


Habil terkekeh, kemudian kembali menatap lapangan yang tadi terinjak oleh Yulia. "Hukuman pak Mukhlis ada hikmahnya, Men."


Miko. Ia melangkah, berniat duduk di samping Habil.


"Eh, stop!" Refleks Miko berhenti, belum mendudukkan bokongnya di atas kursi itu. Ia menoleh, menatap Habil heran.


Habil bergeser, kemudian menepuk kursi bagian sampingnya. "Sono ae lo, jangan di sini. Bekas Yulia soalnya!"


Miko menatapnya curiga, sedetik kemudian ia menunjuk wajah temannya tersebut.


"Lo naksir Yulia beneran? Bukan karena taruhan?"


Dengan santai, Habil mengangguk. "Nanti malem gua traktir. Ajak Aldi sama Afif juga, tentuin tempatnya, terus kasih tau gua lewat chat!"


Miko mengangguk mengiyakan. Matanya melihat botol air mineral di dekatnya, kemudian meraihnya. Miko membuka tutup botol tersebut, berniat meminumnya.


Niatnya gagal ketika tangan Habil merebutnya kala ia akan meminumnya.


"Beli dong lo! Gua males ngebagi iler ke lo!"


Miko berdecak, "awas ae lo sampe ngebagi kesusahan hidup ke gua!"


Habil hanya tersenyum tipis, dengan lesung pipi yang nampak di pipinya. Tangannya terangkat membentuk huruf 'ok', memberi isyarat bahwa ia menyetujuinya.


Di saat mereka bercanda, getaran ponsel di saku Habil kini terasa. Habil mengerutkan keningnya bingung, "siapa dah?" gumamnya.


Pasalnya, nomor tersebut tidak di kenal. Habil juga tidak tahu itu nomor siapa.


Habil mengangkatnya, sedetik kemudian sebuah suara terdengar. "Habil, ini aku Yuni. Apa kabar?"


Deg.


Habil meneguk ludahnya kasar, detak jantungnya berdetak cepat dan mendadak tubuhnya panas.

__ADS_1


Dia kembali.


__ADS_2