Still You

Still You
Kasus Nuri Telah Usai.


__ADS_3

Habil dan Yulia berjalan beriringan, menikmati angin yang berhembus lumayan kencang. Pantai yang sedang pasang, disertai suara ombak yang sedang menggulung di sampingnya.


"Lautnya pasang, Ya. Ke tempat lain ae, yuk?" Ajak Habil.


Yulia diam, terlalu menikmati angin yang sedang membelai lembut pipinya. Habil mendengus pelan, menatap punggung Yulia yang semakin menjauh darinya.


"Kacang terus," protesnya pelan, kemudian berjalan menyusul.


Pagi yang cerah dengan matahari yang bersinar indah, membuat kondisi pantai saat ini semakin panas. Angin yang lumayan deras, membuat rasa panas tersebut sirna seketika.


"Biarin pikiran di otak gua hilang kebawa angin."


Kalimat Yulia tersebut membuat Habil diam, memandangi gadis di sampingnya yang kini sedang berhenti, menikmati angin yang sedang membawa rambutnya terbang, seraya merentangkan kedua tangannya.


"Kalo lo mau bagi-bagi pikiran, lo boleh bagi ke gua."


Yulia menoleh, diam untuk beberapa saat. "Cukup selalu ada buat gua aja," ucapnya, kemudian tersenyum.


Habil mengerjapkan matanya beberapa kali, merasa tak percaya dengan apa yang ia dengar. "H-hah?"


🦋🦋


Alisa berdiri di depan rumahnya. Merasa cemas dan ragu, tetapi ia merasa bahwa ia harus. Sekali lagi, Alisa melihat jam tangannya, kemudian menggerutu kesal.


Jam tangannya kini sudah menunjukkan pukul sembilan malam lebih empat puluh lima menit. Alisa gelisah, berjalan kesana-kemari tanpa henti. Langkahnya berhenti, merasakan ponsel yang sedang ia genggam terus saja bergetar.


Yulia is calling ....


"Lo kemana aja, sih? Lumutan nih, gua!"


Tanpa salam atau sapaan terlebih dahulu, Alisa mengomel. Di seberang sana, Yulia mendengus seraya menjauhkan ponsel dari telinganya.


"Sepuluh menit lagi gua harus udah ada di tempatnya Ana, kalian dimana, sih?" Lanjutnya panik.


"...."


Alisa mendengus, "bilang dari tadi, dong! Ya udah, gua share lokasi ke lo, ya!"


Lega. Itulah yang Alisa rasakan saat ini. Ia memasukkan ponselnya ke dalam saku, kemudian berlalu menuju ke tempat di mana Ana menunggunya.


"Semoga gua masih bisa balik ke rumah dengan selamat," doa nya.


🦋🦋


Seorang wanita sedang berdiri di roof top gedung kosong yang sudah lama tak terpakai. Mila Fauziana, namanya.


Ana berdiri seraya menatap pemandangan malam di depannya. Sesekali ia menatap jam di layar ponselnya. Emosinya memuncak kala ia melihat angka 22.01 Waktu Indonesia Barat di sana.

__ADS_1


"Sialan," umpatnya seraya melemparkan ponselnya ke sembarang arah. Rasa jengkelnya kepada Alisa yang belum juga datang, membuat emosinya di ujung tanduk sekarang.


Sebelah tangannya ia masukkan ke dalam saku, mengambil satu-satunya barang yang berada di sana.


"Sekali dateng, abis lo sama gua!" Ucapnya penuh penekanan di setiap katanya, seraya menatap pisau lipat yang sedang ia pegang.


Ana menyeringai, menatap pisau tersebut secara terus-menerus. Beberapa detik kemudian, sebuah suara di sekitarnya membuat dirinya menoleh dan waspada.


"Sama siapa lo kesini?" Tanyanya seraya menatap Alisa yang baru saja muncul, dengan mata yang menatap menginterogasi.


"H-hah? Sendiri, lah. Lo kan udah bilang kalo gua harus sendiri," jawabnya sedikit gugup, kemudian menyengir kaku.


Alisa merutuki dirinya yang bersikap kaku, tangannya menggaruk tengkuknya yang tak gatal, serta langkahnya yang semakin pelan.


Ana menatap Alisa tajam, serta menyipitkan matanya. Tangan kanannya memutar-mutar pisau lipatnya, lalu menyeringai.


"N-ngapain lo bawa pisau?" Tanya Alisa gugup dengan sedikit meninggikan suaranya.


"Buat nyincang lo!"


Seketika napas Alisa tercekat, matanya membelalak tak percaya dan langkahnya mundur perlahan.


"Jangan bercanda, Na."


Lagi dan lagi Ana menyeringai, membuat Alisa semakin takut nan gugup. "Berhenti, Lis."


"Alisa diem," teriaknya geram, seraya melemparkan pisau lipat ke arah kaki Alisa.


Alisa membelalakkan matanya, ingin berpindah tempat untuk menghindar, tetapi tak mampu. Kakinya seakan kaku, sampai sebuah pisau menggores kaki kirinya.


Ana kembali menyeringai, kemudian berjalan pelan menuju Alisa yang kini terduduk seraya memegang kakinya yang mulai mengeluarkan darah.


Tepat di depan Alisa, Ana berjongkok. "Makanya, kalo gua bilang diem, ya diem!"


Tangannya mengambil pisau yang tak jauh dari kakinya, kemudian menodongkan kepada Ana. "Lo jangan macem-macem sama gua, Lis."


Ana mengangkat dagu Alisa, agar Alisa mau menatap dirinya. "Mau muka cantik lo gua sayat?" Tanyanya seraya menempelkan pisau tersebut ke pipi Alisa.


Alisa menggeleng, matanya mulai berkaca karena ulah teman lamanya tersebut.


"Sebenernya gua lebih suka pakai pisau buah dari pada pisau tajem," ucapnya mengaku.


"Tapi kalo kali ini gua pake pisau buah, gua bakal kalah set sama polisi."


"Lo pasti udah nyuruh polisi ke sini, 'kan?"


'Sial!'

__ADS_1


Alisa mengumpat dalam hati, meruntuki dirinya yang sedari tadi gugup karena mencoba untuk berbohong.


Srek .... (Anggep aja suara pisau yang di gesekin ke pipi Alisa.)


"Akh ... A-ana ... l-lo apa-apaan, sih?"


Alisa berusaha menahan rasa perih. "Agh!"


Srek ....


Lagi, pisau tersebut melukai pipinya secara perlahan.


"Seberapa banyak lo ngejawab, sebanyak itu muka lo bakal lecet," ucapnya memperingati..


Alisa menggeleng dengan mata berkaca-kaca. "Ya t-tapi kenapa lo gini sama gua?"


Srek!


"Karena lo udah mulai berani sama gua!"


Emosinya semakin menjadi, matanya tertutup oleh amarah. Tatapan Ana berubah menjadi semakin tajam dan tidak suka.


"Lo harus menderita sebelum mati, Lis!" Ujarnya seraya mengangkat tangan yang memegang pisau, ingin menusuk paha Alisa.


"Jangan bergerak!"


Satu perintah tersebut membuat Ana menoleh sekilas, menatap datar, lalu dengan cepat menusukkan pisau yang ia pegang ke perut Alisa. Yang seharusnya menusuk paha, kini berubah menusuk perut Alisa kala polisi datang.


Di detik berikutnya, dua polisi menodongkan pistol ke arah Ana, dan satu polisi lainnya yang mengunci tangannya, lalu memborgolnya ke belakang.


Satu polisi yang terlihat sebagai pemimpin, ia mendekat ke arah Alisa dan menelepon ambulance. Untung saja ada rumah sakit terdekat di sini.


Suara ambulance kini terdengar sedikit nyaring dari atas gedung kosong tersebut dan beberapa detik kemudian petugas medis bergegas untuk menggotong Alisa dan membawanya berlalu menuju rumah sakit.


Yulia tercengang, ia mematung. Kakinya terasa kaku, satu per satu rasa bersalah menghampiri dirinya.


"Ya!" Panggil Adi, seraya menepuk pundak Yulia pelan membuat lamunannya buyar.


"Eh, iya?"


"Ayok!"


Yulia diam, menatap Adi dengan tatapan kosong.


"Ayok, Ya!" Ajak Adi lagi, seraya menarik pelan lengan Yulia. Jika dalam keadaan normal Yulia akan marah, tidak untuk kali ini.


Yulia hanya diam, mengikuti langkah Adi yang membawa dirinya menuju motor milik Adi dan berlalu ke rumah sakit menyusul Alisa yang sedang bertaruh nyawa.

__ADS_1


"Ini salah gua, ya?"


__ADS_2