Still You

Still You
Saikopat.


__ADS_3

"What?!"


"Hah?!"


"Serius lo?"


Risa, Yono dan Alisa kini menatap Adi tak percaya, tak habis pikir. Bagaimana bisa?


Adi mengangguk seraya menyengir kaku dengan tangan menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "tapi udah lama putus!"


Di sisi lain, Yono dan Risa sedikit bingung. Mereka menatap Adi heran. "Lo kan pernah masuk ke dimensi tiga tahun lalu. kok gak tau Ana yang di maksud itu mantan lo?" Tanya Risa.


"Waktu itu gak terlalu fokus ke muka Ana, posisi waktu itu kan si Nuri ketakutan."


Adi menghela napas, lalu membuangnya kasar. "By the way, gua manggil dia Mila."


"Whatever. Mila Fauziana adalah satu orang, Adi!"


Yono terkekeh geli seraya menatap Risa. "Kenapa sih, Ris? Udah mantannya ini, bukan pacarnya."


"Lo suka Adi apa gimana?" Bisiknya pelan agar tidak ada yang mendengar ucapannya, sedangkan Risa dengan cepat membuang pandangannya.


🦋🦋


Hari yang melelahkan, membuat Yulia berkali-kali membuang napas secara kasar. Kakinya berjalan gontai, badannya terasa remuk, serta banyak pikiran yang mengganggu.


Yulia menyipitkan matanya guna memperjelas penglihatannya. Langkahnya terhenti, perasaannya berkecamuk. Setelah beberapa saat ia terdiam, Yulia mengendap-endap menuju pintu utama yang kini sedang terbuka lebar. "Ada maling, 'kah?" Ucapnya bermonolog, berbisik pada dirinya sendiri.


Langkah yang begitu pelan, secara pasti mengajaknya untuk semakin dekat dengan pintu rumahnya.


"Kok hening, ya?" monolognya lagi seraya menempelkan telinganya pada pintu di depannya, ingin menguping. Takut-takut ada perbincangan buruk di dalam.


Satu,


Dua,


Ti--


Belum sempat Yulia mengintip, seseorang keluar dari sana. Sontak Yulia terkejut, menahan napasnya seraya menatap seseorang di depannya.


"Ngapain?" Tanyanya bingung, membuat Yulia tersadar.


"L-lo yang ngapain di rumah gua?" Tanyanya dengan nada sinis. Ia membenarkan raut wajahnya, serta pakaiannya. Merasa malu karena kepergok seperti itu.


Habil diam, kemudian menoleh ke arah dalam. Sedetik kemudian, seorang paruh baya menampakkan dirinya.


"Tadinya mau main sama lo, eh lo nya gak ada. Karena ada Mama lo, gua di suruh masuk bentar."


Yulia diam, menatap Mamanya yang kini sedang berdiri, mematung di dekat Habil.

__ADS_1


"Tapi baru aja mau pulang, lo malah dateng!" Lanjutnya senang, tidak mengerti situasi macam apa ini.


Yulia diam, mengabaikan apapun yang Habil ucapkan. Beberapa detik setelah diam, ia bersuara. "Mama ngapain pulang? Ada urusan bisnis?"


Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Yulia menerobos masuk, mengabaikan Habil yang masih di ambang pintu.


"Lo pulang!" .


🦋🦋


Situasi yang terasa canggung, membuat Ine dan Yulia saling diam. Mamanya bernama Ine, baru saja landing dua jam yang lalu. Saat ini jam dinding di rumah Yulia menunjukkan pukul sembilan malam lebih sepuluh menit, tetapi Yulia belum merasa mengantuk sedikitpun.


Terdengar suara Ine yang sedang berdeham, berusaha mengusir kecanggungan di antara ia dan anaknya. Ine menoleh ke arah Yulia yang kini sedang membuang muka, lalu tersenyum miris. "Kak ...."


Yulia menoleh, membuat Ine semakin melebarkan senyumnya. "Kenapa marah?"


"Ngapain Mama pulang?"


Ine tersenyum lagi seraya meraih tangan Yulia, lalu mengusap-usap penuh kasih. "kangen kamu!"


Diam. Yulia menatap Mamanya dengan raut wajah datarnya. "Kangen, ceunah," jawabnya seraya menjauhkan tangannya dari tangan Ine. [Kangen, katanya.]


Miris.


Sedikit berkaca, Ine menunduk. "Maafin Mama."


"Maaf belum bisa jadi Mama sekaligus Papa buat kamu," lirihnya. Sesekali ia menyeka air matanya, membuat hati Anaknya diam-diam ikut tersayat.


"Yulia ke kamar dulu," pamitnya seraya berdiri, kemudian berlalu tanpa menunggu jawaban.


Di tempatnya, Ine menatap punggung Yulia dengan air matanya yang terus mengalir deras.


🦋🦋


Seorang anak perempuan berumur lima tahun itu menatap kedua orang tuanya. Ia berdiri di ambang pintu kamar orang tuanya dengan kaki yang sedikit gemetar.


"Kapan kamu ada waktu buat anak kita?"


Suara Ine terdengar lirih, tetapi lelaki di depannya itu terlihat tidak peduli. Yulia yang saat itu masih berumur lima tahun, perlahan ia bersembunyi di balik tembok, melihat apa yang terjadi setelahnya.


"Kamu pilih keluarga kita, atau selingkuhan kamu itu?" Ine bertanya, menatap Ridwan dengan penuh amarah.


Ridwan diam, mengabaikan pertanyaan istrinya tersebut. Tangannya bergerak mengambil minyak wangi, hendak memakainya.


Prang!


Minyak wangi yang hendak di pakai oleh Ridwan baru saja di ambil paksa oleh Ine, lalu di banting dengan kerasnya. Tubuh mungil Yulia kecil yang sedang menguping tersebut gemetar, dan lama-kelamaan ia terduduk takut seraya memegang kedua lututnya.


"Didik anakmu dengan baik, saya pergi!" Ucapnya datar, kemudian berlalu mengabaikan Yulia yang masih terduduk di balik tembok dekat dengan pintu.

__ADS_1


"Mas! Gak bisa gitu, mas!" Teriak Ine semakin menjadi kala Ridwan berlalu meninggalkan dirinya bersama Anak semata wayangnya.


Ine menangis di atas kasur, memikirkan bagaimana kedepannya dengan hubungan yang sudah hancur. Pikirannya kalang kabut diiringi suara tangisnya yang semakin menjadi.


"Astaga!"


Yulia terbangun, terduduk dengan napas ngos-ngosan dan jantungnya sedikit berpacu lebih cepat. Yulia mengacak rambutnya frustasi, mengumpat dalam hati.


'Mengapa mimpi itu terulang lagi?'


Tangannya meraih gelas di atas nakas, lalu meminumnya. Yulia diam, mengingat mimpi yang baru saja kembali terulang setelah sekian lama. Aneh dan mengganggu, pikirnya.


🦋🦋


Pagi hari, jam dinding di rumahnya sudah menunjukkan pukul enam pagi. Yulia berjalan menuruni tangga, ingin menuju dapur. Dirinya berniat menghindari Ine, karena suasana hatinya masih buruk untuk saat ini.


"Pagi sayang, tumben udah bangun?"


Di sana, Ine sedang menyiapkan sarapan. Menu nasi goreng dengan telur dan sosis sebagai pelengkap. Yulia melirik sekilas, mendengus pelan ketika Ine menyapanya.


"Dari kemarin juga kalo aku gak bisa bangun se-pagi ini, Yulia gak bakal bisa sampe lulus, Ma."


Yulia membuka kulkas, kemudian mengambil sebotol air mineral, lalu meminumnya.


"Yulia pergi dulu," pamitnya, kemudian berlalu. Mengabaikan Ine yang sedang mematung, menatap punggung anaknya yang semakin jauh dan menghilang tertutup tembok.


"Maafin Mama, Ya!" Gumamnya pelan, kemudian mengusap air matanya yang menetes perlahan.


🦋🦋


Yulia mendudukkan dirinya di kursi kebanggaannya, kemudian meremas rambutnya frustasi. "Maafin Yulia, Ma."


"Aargh!" Yulia berteriak, lalu mengacak rambutnya.


Sedetik kemudian Yulia teringat sesuatu. Tangannya dengan cepat mengambil ponselnya di saku celananya, lalu mencari satu nomor di sana.


Saat ini Yulia sedang berada di cafe C'Brand miliknya, sedangkan cafe-nya baru akan di buka sekitar pukul delapan pagi. Yulia menghela napas panjang, lalu membuangnya perlahan.


Bertepatan ketika ia akan menelepon Alisa, satu panggilan dari seseorang baru saja masuk. Yulia mengangkat sambungannya, lalu memberi salam.


"Waalaikumsalam, kenapa?"


"...."


"Gua di cafe, Bil."


"...."


"Jemput aja kalo lo mau. Kalo gua jadi lo sih ogah, ngabisin bensin."

__ADS_1


"...."


Yulia hanya bergumam malas, kemudian mematikan sambungannya. Sedetik setelahnya, Yulia menelepon Alisa. "Halo, kak!"


__ADS_2