
Hari Sabtu, pukul 20.44 WIB. Afif sedang berbaring di atas kasurnya. Menatap atap kamar kost miliknya yang sudah ia tempati sejak ia menjadi mahasiswa baru.
"Jadi anak kost gak enak ternyata," gumamnya pelan. Matanya masih menatap atap kamarnya, sedangkan pikirannya memikirkan hal yang tidak terduga.
Setelah beberapa saat ia mematung, tiba-tiba ia teringat akan sesuatu. "Tanggal berapa, nih?"
Afif mengguling, meraih kalender kecil di atas nakas, lalu melihatnya.
"Dua puluh lima?" Ia masih bergumam, seraya mengingat sesuatu.
"Mantep, lima hari lagi tanggal muda!" Lanjutnya semangat.
Di samping tanggal 25 tersebut, Afif mengerutkan keningnya kala ia melihat tanggal 26 yang dulu sempat ia lingkari dengan pena berwarna merah.
"Dua enam? Hari apa, ya?"
Matanya masih setia menatap kalender, sampai beberapa detik kemudian, matanya bergeser menuju ke bawah. Melihat tulisan kecil di sana.
'Seratus hari jadian sama Wulan.'
Afif membacanya, tetapi otaknya tidak bekerja. Ia hanya menganggukkan kepalanya, kemudian meletakkan kalender tersebut di tempatnya, lalu kembali pada posisi sebelumnya.
Sedetik setelahnya, Afif membelalakkan matanya kaget, seraya bergerak kembali menatap kalendernya miris.
"Seratus hari sama Wulan?"
"Kok bisa lupa?"
"Belum beli kado, astaga!"
🦋🦋
Di tempat lain, di waktu yang sama. Wulan baru saja memasuki rumahnya dengan langkah malas. Di tangan kanan dan kirinya terdapat kresek berisi makanan untuk makan malam hari ini.
Wulan duduk dengan santainya di atas kursi yang berada di kamar kostnya. Kresek makanannya ia letakkan di atas meja berukuran sedang, kemudian ia menyenderkan punggungnya, seraya memejamkan matanya.
"Baru semester dua aja udah stress, apalagi semester lima, ya?" Gumamnya bermonolog.
Beberapa menit kemudian, ia membuka matanya. "Si Adi apa kabar, ya?"
"Kenapa gak ke universitas yang sama, sih? Malah ke luar kota!" Sungutnya sebal.
Wulan bergumam, sesaat kemudian ia membuka kresek yang ia bawa. Perutnya yang dari tadi sudah berbunyi, kini terdengar semakin jelas.
"Gak Adi, gak Yulia. Sama aja!" Monolognya dengan tangan yang bergerak membuka makanannya.
"Mending makan, dah lah!"
"Sabar ya, Cing! Makanannya dalam perjalanan ke mulut!"
🦋🦋
Keesokan Harinya, tepatnya hari minggu. Wulan membuka matanya perlahan. Matanya memicing kala sinar matahari mulai menembus kaca jendela di kamarnya.
Wulan menguap, kemudian merenggangkan otot-ototnya. Wulan yang memang masih mengantuk saat itu, ia kembali memejamkan matanya. Berusaha mencari posisi ter-enak yang bisa membuatnya nyaman dalam tidurnya.
Ting!
Ting!
Ting!
__ADS_1
Notifikasi pesan yang baru saja masuk membuat Wulan mau tak mau kembali membuka matanya dan melihat layar ponselnya.
Dua puluh sembilan panggilan tak terjawab.
Tiga belas pesan belum di baca.
Melihat notifikasi tersebut, Wulan mendengus, kemudian melihat siapa yang menelepon dan apa isi pesan teks nya.
Drrrtt ....
Getaran ponselnya yang di susul oleh suara notifikasi telepon kini membuat Wulan sepenuhnya sadar. Tanpa pikir panjang, ia mengangkat sambungan teleponnya dan langsung terdengar berbagai macam omelan dari seberang sana.
"Kemana aja sih, Sayangku?"
"Lama banget, ish!" Rajuknya manja.
"Gatau ini hari apa? Atau gimana?"
"Ah kamu mah," ucapnya kembali dengan nada merajuk.
Wulan mengerutkan keningnya bingung, kemudian menjauhkan layar ponselnya dan memastikan, apakah yang sedang mengomel ini benar-benar kekasihnya, atau bukan?
Apipah <3
Nama tersebut terpampang di layar ponselnya, membuat Wulan mendengus sebal.
"Apa, sih? Baru bangun ini," jawabnya kesal setelah beberapa saat mengabaikan Afif.
"Kamu lupa kalo hari ini tepat 100 hari kita jadian?"
Wulan diam, ia melongo. Tak habis pikir oleh pemikiran kekasihnya tersebut.
Wulan kembali menarik napas, lalu membuangnya pelan. Berusaha bersabar dengan lawan bicaranya.
"Sayang, wanita-mu ini baru bangun tidur, loh!" Wulan berbicara, seraya mempertahankan senyum masamnya yang tidak bisa Afif lihat.
"Terus?"
Wulan berdecak pelan, kemudian menjawab, "seenggaknya biarin aku makan dulu, atau cuci muka."
Afif diam. Hal tersebut membuat Wulan kembali mengecek layar ponselnya, seraya menaikkan sebelah alisnya.
"Ha--"
"Iya udah, gih!"
Suara yang tiba-tiba terdengar tersebut, membuat Wulan sedikit terkejut. Ketika ia ingin menjawab, suara Afif kembali terdengar.
"Ya udah, aku matiin, ya. Assalamualaikum," ucapnya, kemudian mematikan sambungannya.
🦋🦋
Jam tangan yang Wulan pakai kini sudah menunjukkan pukul setengah satu siang. Wulan yang sudah rapi dengan setelan bajunya itupun kini menghela napas. Cukup gelisah, karena kejadian pagi tadi.
"Apa harus gua susul ke kost, ya?" Monolognya.
"Ah, ikutin arahan hati ae dah!"
Wulan berdiri, mengambil kunci motor dan bergegas keluar. Ia membuka pintu, tetapi dirinya malah terkejut.
Wulan melihat Afif sedang berdiri di depannya, dengan tangan kanan yang terlihat seperti akan mengetuk pintu. Sedetik kemudian, Afif menurunkan tangannya, lalu melihat Wulan dengan tatapan bertanya.
__ADS_1
"Mau kemana?" Tanyanya lembut, tetapi dengan nada datar. Wajahnya pun tak menunjukkan senyum sedikitpun.
Wulan yang merasa sedikit gengsi untuk mengakui bahwa dirinya hendak menghampiri Afif, ia menggaruk tengkuknya pelan.
"Hehe, gak kemana-mana!"
Afif diam. Ia memutuskan untuk duduk di kursi depan kost Wulan, di ikuti Wulan yang duduk di kursi satunya.
Afif masih diam. Di dalam dirinya, ia berusaha mengusir rasa kesal yang semakin menumpuk. Berusaha berfikir tentang hal yang ia sukai selama mereka mempunyai hubungan.
Satu menit.
Dua menit.
Masih diam, membuat Wulan sedikit gelisah. Sesekali ia melirik Afif yang sepertinya enggan melihat kearahnya.
Lima menit.
Sepuluh menit.
"Sayang," panggil Wulan, dengan nada merengek.
Afif menoleh, menatap Wulan yang terlihat sedikit takut dengan dirinya.
Afif menghela napas panjang, lalu membuangnya perlahan. "Apa?" Jawabnya selembut mungkin, di iringi dengan senyum tipisnya.
Wulan diam, memperhatikan Afif yang sedang tersenyum tipis, kemudian ia bertanya, "marah?"
🦋🦋
Keduanya sama-sama tertawa renyah. Mengabaikan jarum jam yang tetap berjalan dan kini sudah menunjukkan pukul setengah lima sore.
"Kura-kura ninja itu katak atau kodok?" Tanya Afif tiba-tiba, membuat Wulan langsung berfikir.
"Katak!" Jawabnya cepat, membuat Afif menggeleng pelan.
"Kura-kura ninja, loh. Masa iya di samain sama katak, sih?" Jawabnya, kemudian terkekeh geli.
Wulan cemberut, mencubit pelan lengan Afif yang malah membuat Afif gemas.
Afif melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, menunjukkan pukul 17.45 WIB. yang artinya, ia harus pulang sekarang.
"Aku pulang, ya?"
Wulan menatap Afif, tetapi ia bingung harus merespon bagaimana.
"Huh? Pulang?"
Afif diam. Terlihat dari raut wajahnya bahwa ia belum ingin meninggalkan Wulan untuk saat ini.
Setelah beberapa menit diam, Afif kembali bersuara. "Ya udah, aku pulang dulu, ya."
"Udah mau magrib soalnya," lanjutnya.
Wulan mengangguk, mengikuti Afif yang sekarang sudah berdiri.
"Hati-hati, ya!"
"Terima kasih, hadiah nya."
Afif mengangguk, seraya tersenyum simpul. "Aku gak dapet hadiah, nih?"
__ADS_1