
Hari ini, pulang sekolah. Adi sedikit terkejut kala ia melihat seorang gadis di depan pintu kos-kosan nya. Dia sedang duduk di kursi kayu seraya menatap ponsel yang ia pegang.
Gadis itu menoleh ketika ia mendengar suara mesin motor yang berhenti di sekitarnya, membuat Adi bisa melihat dengan jelas siapa wanita tersebut.
Raut wajah Adi tetap datar, mematikan mesin motornya setelah memarkirkannya. Ia juga melepas helm, kemudian turun dan berjalan ke arah kos-kosan nya, ingin masuk.
"Adi!"
Satu panggilan itu membuatnya berhenti, tanpa menoleh. Tangannya sibuk membuka kunci pintu kos di depannya. Niatnya untuk mengabaikan gadis itupun gagal karena panggilannya.
"Udah lupa sama aku?"
Kalimat tanpa dosa tersebut sungguh membuat Adi ingin melemparinya dengan kata-kata pedasnya.
Tapi ia tahan. Tidak mungkin kan dia menyakiti hati seorang wanita didepan kos nya?
Sedikit lama, Adi menoleh. Masih menatap dengan tatapan datar, tanpa senyum.
"Ngapain?"
Nada tanya nya terdengar ketus, sama sekali tak senang dengan kehadirannya.
"Aku ... kangen!"
Mendadak, Adi terkekeh sinis, menatapnya tajam. Sempat hilang kesabaran untuk sesaat, untung saja segera terkontrol lagi.
"Urang cape. Kalo mau ngobrol, nanti malam bisa ke cafe C'Brand jam setengah Sembilan."
Setelah berbicara begitu, Adi langsung masuk ke dalam kos, meninggalkan seseorang yang baru saja mengganggu mood nya.
Mengapa wanita itu kembali?
🦋🦋
Malam ini, Adi sedang bersiap-siap untuk pergi, menepati janji. Ia berdiri di depan cermin, menatap pantulan dirinya di sana.
Kaos putih, hoodie biru navy, celana jeans dan sepatu putih. Adi mendekatkan wajahnya ke cermin, menatap jerawat yang sepertinya baru muncul di antara kedua alisnya.
"Buset, kalo sujud pas sholat bisa kejedot ini mah," gerutunya seraya mengusap jerawatnya .
Menatap nanar wajahnya yang padahal hanya terdapat satu jerawat baru di sana.
"Jadi gak cakep lagi."
Sedetik kemudian, Adi terkekeh. Menyadari jika dirinya berlebihan. Ia kembali berdiri tegak, menatap pantulan dirinya lalu sedikit mengacak rambutnya yang sedikit basah.
Setelah itu, ia mengambil tas selempang pria miliknya, lalu memakainya. Tak lupa ia memakai minyak wanginya, kemudian keluar dari kos, lalu menuju motor yang terparkir di sana.
Ting!
Satu notifikasi terdengar, pertanda satu pesan baru saja masuk. Adi mengambil ponsel di dalam tasnya, kemudian membaca pesan yang berhasil membuatnya mendengus.
Mila.
Aku sudah sampai, kamu gak lupa kan sama janji kamu?
🦋🦋
Malam ini, pukul delapan lebih tiga puluh menit. Seorang gadis sudah duduk manis di meja paling depan, dekat dengan panggung kecil di sana.
Mila namanya.
__ADS_1
Ia sedang menunduk, dengan jari-jarinya yang sedang menari di atas layar ponsel miliknya. Seperti sedang mengetikkan sesuatu.
Setelah dua puluh menit menunggu, seseorang datang. Duduk di kursi tepat di depannya. Terlihat wajahnya datar, membuatnya sedikit gugup.
"Waktu gua ...," ucapannya menggantung, ia melihat jam tangan yang ia pakai. "Tiga puluh menit!"
Dia Aditya Muhammad. Duduk dengan tangan yang bertaut di atas meja, menatap Mila masih dengan wajah datarnya.
Terdengar helaan nafas Mila, mungkin untuk menghilangkan rasa gugupnya.
"Aku ... mau perbaikin hubungan kita," cicitnya pelan.
Mendadak, detak jantung Adi berdetak dua kali lipat lebih kencang dari biasanya.
"Aku tau kalo aku salah, aku minta maaf!"
Adi masih diam. Otaknya berfikir, ia harus bagaimana? Sempat melamun, hingga sebuah sentuhan tangan mungil itu terasa dan mengagetkan dirinya.
Adi buru-buru menarik tangannya, berusaha tenang.
Mila. Dia adalah pacar pertama, sekaligus patah hati pertamanya. Ia yang sudah berani meninggalkan dirinya tanpa alasan.
Ketika kelas sepuluh, Mila mengenal beberapa teman lelaki di sekolah barunya, membuat dirinya semakin jauh dari dekapan Adi.
Hilang kabar, bahkan tidak mau menemuinya. Adi kecewa dan sejak itu pula dirinya menganggap bahwa hubungan dia dan Mila sudah berakhir.
Hingga dirinya berpindah sekolah ke SMK Gajah Mada pun, bayangan Mila masih sering mengisi pikirannya. Dan semenjak ia mengenal Yulia, Wulan dan Liya, bayangan Mila perlahan memudar dan hilang.
"Adi ...," lirih Mila.
Adi menghela nafas, otaknya mencari jawaban yang pas menurutnya. Hingga sebuah suara di panggung kecil itu terdengar.
"Satu, dua, tiga, tes."
"Ah, sorry. Gua udah ada cewek baru!"
Wajah Mila yang sedari tadi terlihat sedih, kini semakin terlihat begitu memelas. Entah itu pura-pura atau nyata, Adi tidak peduli.
"Cewek baru? Siapa?"
Adi berfikir sebentar, mempertimbangkan dan memikirkan resiko yang siap menghadangnya kapanpun.
"Liat cewek yang lagi cek sound? " Refleks, Mila menoleh ke arah panggung, terdapat Wulan di sana. "Dia cewek gua."
Sedetik kemudian, Mila menggeleng, menatap Adi tidak percaya.
"Mana buktinya kalo dia pacar kamu?"
Adi terkekeh, mengangguk pelan.
"Habis dia nyanyi, gua kenalin!"
Tak lama kemudian, lagu dengan judul Rindu Aku Rindu Kamu-Doel Sumbang dan Nini Carlina terdengar begitu nyaman di telinga.
Wulan menyanyikannya.
Lagu lawas, namun tetap terasa nyaman di dengar anak millenial.
Adi memperhatikan Wulan, sesekali senyum manis terlihat di bibirnya. Sengaja, Adi tahu jika Mila masih memantaunya.
Ketika tiba-tiba ombak di laut pasang.
__ADS_1
Cinta kita berdua juga pasang, sayang.
Ketika tiba-tiba ombak di laut surut.
Cinta kita berdua tetap pasang.
Dan itulah lirik terakhir. Terlihat, Wulan tersenyum lega, kemudian menyerahkan mic ke gitaris, mengobrol sebentar kemudian turun dari panggung.
Adi berdiri, mendekat ke arah Wulan.
"Bantuin gua, nanti gua jelasin!" bisiknya membuat Wulan bingung.
Tangan Wulan di tarik pelan oleh Adi, sedangkan pikiran Wulan menerawang jauh memikirkan bantuan apa yang di maksud.
"Kenalin, Wulan. Cewek gua," ucapnya memperkenalkan, membuat Mila mendadak berdiri, memperlihatkan ketidaksukaan-nya.
Wulan kaget, tangannya terulur canggung untuk berkenalan. Bukannya menyambut uluran tangannya, Mila malah berdecih, "masih cantik-an aku, Di!"
Wulan yang mendengar itu, ia membelalakkan matanya tak terima, menatap Mila tak kalah sinis.
Enak saja. Memangnya, apa salahnya?
Wulan menarik uluran tangannya dengan sedikit kesal, kemudian bertanya. "Kamu siapa? Sopan banget ngomong gitu," sindirnya.
Oke, Wulan berusaha bertanya dengan kesabaran di bawah rata-rata.
Mila melengos, melipat kedua tangannya di depan dada, membuat Wulan mendengus.
"Adi ... kasih aku kesempatan. Kita balikan, ya?"
Seperti tidak tahu malu, Mila memohon seraya memegang lengan kiri Adi, membuat Wulan sedikit paham dengan masalahnya.
Wulan menepis tangan Mila dari lengan Adi, menatap garang, seakan-akan dirinya benar-benar pacar orang di sampingnya ini.
"Kamu jaga sikap, dong! Masak pacar saya di ajak balikan, jelas-jelas ada saya. Pacarnya!" Wulan mengomel, dengan sedikit tekanan di kata terakhir.
Beberapa pasang mata mulai menatap mereka. Adi yang sadar, ia berusaha berbisik untuk menghentikan Mila yang kurang sopan. Berharap sikapnya itu bisa di rubah untuk beberapa menit kedepan.
"Lo yang nyanyi di sini kan? Dapet gaji? Mana owner cafe-nya?"
Wulan mengernyit, mengapa gadis itu bawa-bawa owner?
"Kenapa, sih?"
Pertanyaan dan sentuhan lembut di bahu Wulan itu membuat dirinya sedikit kaget. Wulan beralih menatap Yulia yang kini sedang menatapnya bingung.
"Siapa lo?" pertanyaan sinis itu membuat Yulia mengalihkan pandangannya, menatap Mila dengan tatapan datar, tidak suka.
"Maaf, kenapa ribut-ribut sama teman saya?" Yulia bertanya, berusaha sesopan mungkin. Mengingat jika sekarang posisinya adalah pemilik cafe.
Terlihat, Mila mengangguk, meremehkan.
"Temen lo?" Yulia mengangguk, kemudian mengimbuhkan. "Saya sekaligus owner di cafe ini!"
Mendadak, Mila diam. Wajahnya sedikit pucat karena menahan malu.
"Tadi lo nyari owner kan? Tuh, bilang aja dia suruh pecat gua. Sok-in!"
"Udah astaga," lerai Adi, kemudian menarik pelan tangan Mila dan membawanya keluar dari cafe. Takut jika kehebohan semakin menjadi dan Mila akan semakin malu.
Tak lama kemudian, sebuah kalimat dari seseorang di belakangnya membuat Wulan diam membeku.
__ADS_1
"Anak baru itu pacar lo?"