
Wajah pucat dengan tubuh sedikit gemetar itu membuat Habil sedikit panik. Tidak tahu Yulia melihat apa, hingga gadis di sampingnya se-takut ini sekarang. Saat ini mereka sedang duduk di sofa rumah Habil, dengan Habil dan bunda Ani di sampingnya.
"Minum lagi yuk, sayang?" Ani menyodorkan segelas air putih kepada Yulia, membuat Yulia yang hampir kembung itu kembali meminumnya.
"Terimakasih, tante!" Tuturnya seraya tersenyum tipis.
Perasaan takutnya perlahan hilang, tergantikan oleh perasaan nyaman karena berada di samping Ani.
"Gimana kalo panggil bunda?" Tanya Ani seraya mengelus rambut Yulia, menatapnya penuh sayang.
Yulia mengangguk canggung, tersenyum kaku. "Iya, Bunda!"
Ani tersenyum puas, begitupun Habil yang sedari tadi menatap interaksi dari kedua orang di depannya.
Yulia yang sadar di perhatikan, ia melirik Habil yang saat ini sedang menaik-turunkan kedua alisnya. Yulia mendesis, kemudian tersenyum canggung ke arah Ani, bundanya Habil.
"Sudah makan?" Pertanyaan tersebut di tujukan pada Yulia, membuatnya menggeleng.
"Habil ke kamar dulu ya, Bun!" Ani mengangguk, masih setia mengusap rambut hitam gadis di dekatnya.
"Titip, Bun. Itu calon menantu Bunda soalnya!" Bisiknya seraya terkikik geli, membuat Yulia merasa malu karena mendengar penuturannya.
Bagaimana pun, ini adalah pertemuan pertamanya dengan Ani.
"Yuk, makan!" Ajaknya seraya menuntun Yulia berjalan ke arah dapur, di mana meja makan itu berada.
"Yulia masih kenyang, Bunda," cicitnya pelan.
Lagi-lagi Ani tersenyum hangat, membuat Yulia seakan-akan merasakan kehangatan Bundanya di sini. Ia menuntun Yulia untuk duduk di kursi, dengan meja makan di depannya.
"Gimana ceritanya kok kenyang sebelum makan?"
Pertanyaan tersebut membuat Yulia menoleh sebentar, kemudian menyengir kuda. Gigi putihnya nampak begitu rapi. Pandangannya kini berpindah melihat piring di depannya yang semakin berisi karena Ani.
"Udah cukup, Bun!"
"Makan yang banyak ya, sayang!" Suruhnya seraya duduk di kursi yang lainnya. Ani menatap Yulia yang kini tersenyum canggung, merasa tak enak.
Bagaimana bisa ia merasa enak jika pertama kali bertemu sudah di kasih makan sebanyak ini?
"Bun, badan kecil kek gitu mana bisa abisin makanan yang bunda ambilin. Sepiring penuh?" Celetuk Habil tiba-tiba, membuat Yulia dan Ani menoleh.
Habil berjalan mendekat, duduk di samping Yulia. Tangannya mengambil nasi, lauk dan sayur yang ada, mengabaikan tatapan sebal Yulia terhadapnya.
Yulia mendesis, kalau saja tidak ada bundanya, sudah pasti akan ia sahuti sampai diam membisu.
__ADS_1
"Lia makan ya, Bun," ucapnya membuat Ani mengangguk setuju. Bahkan, senyuman di bibirnya tersebut tidak pernah pudar sedari tadi.
"Bunda tinggal dulu, ya? Makan yang banyak," pamitnya yang di balas senyuman.
Setelah beberapa menit diam dan makan, Yulia menatap nanar piring di depannya. Nasinya masih tinggal setengah, sedangkan piring Habil? Isinya sudah habis tak tersisa.
"Jangan di paksain, udah kenyang kan?" Tanya Habil, seraya mengambil piring di depan Yulia.
"Nanti perut lo buncit kalo di paksain," imbuhnya meledek.
Yulia mengerucutkan bibirnya sebal, menatap Habil dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
"Jangan gitu, nanti ada yang makin tumbuh!"
Sontak, tatapan kesalnya berubah menjadi tatapan bingung. Apa yang tumbuh?
Habil terkekeh, tangannya masih setia merapikan piring kotornya di meja makan. Sedetik sebelum Habil berjalan untuk meletakkan piring kotor, sedangkan Yulia ingin mengambil alih.
"Biar gua aja!" Ucapnya, kemudian berjalan menuju wastafel tempat dimana piring kotor di cuci.
Habil yang sempat berdiri, ia duduk kembali. Menatap punggung Yulia yang kini tampak sedang membersihkan piring kotornya.
Seulas senyuman terukir di bibir tebalnya. "Cocok!" Celetuknya pelan.
"Cocok?"
"Cocok jadi mantu Bunda," bisik-nya kemudian tertawa, sedangkan Ani tersenyum geli.
Yulia yang mendengar suara ramai di belakangnya, ia berbalik, menoleh Habil dan Ani yang sedang tertawa. Senyum tipisnya terukir kala Ani memergokinya.
"Udah selesai, belum?" Ani bertanya, membuat Yulia melirik satu piring kotor yang masih belum ia bilas.
Yulia menggeleng, "belum, Bunda."
Ani berjalan mendekati Yulia, mengarahkan tangan Yulia yang penuh busa untuk di bilas.
"Biar Bunda aja yang selesaiin!"
"Mau belajar 'kan? Bunda udah beliin cemilan, di makan ya!" Ucapnya seraya menyelesaikan membilas piring kotor yang tinggal satu.
Yulia mengangguk, tersenyum lagi. Ia melirik Habil sekilas, kemudian melihat Ani lagi.
"Lia belajar dulu ya, Bun!"
Ani hanya mengangguk, dan lagi-lagi tersenyum.
__ADS_1
Melihat kepergian Habil dan Yulia ke ruang tamu, Ani terkekeh geli. Kepalanya menggeleng pelan, "pantas saja puteraku sampai terpesona olehnya!"
🦋🦋
Untuk yang kesekian kalinya, Yulia mendengus. "Lo itu emang gak mau paham-in atau gak dengerin penjelasan gua, sih?"
Yulia sebal, rasa-rasanya ingin mencakar wajah tampan Habil saat ini juga. Sayang saja, saat ini ia sedang berada di dalam rumah Habil, ada bundanya juga yang sudah baik kepadanya.
"Gua? Gak bisa fokus karena wajah lo ngalihin dunia gua, Ya!" Tuturnya tanpa dosa. Benar-benar, ya!
"Ck, gua males belajar sama lo lagi kalo lo begonya kelewatan!"
"Eh, salah! Lebih tepatnya ngajarin, bukan belajar!" Ralatnya, lucu. Membuat Habil harus bersusah payah menahan tawanya.
"Gua ngerti, Ya."
"Tapi gua gak habis pikir sama Al jabar!" Tuturnya membuat Yulia mengerutkan keningnya heran. "Hah?"
"Betapa sedihnya di X kalo sampe gak ketemu si Y!"
Kalimat Habil barusan berhasil membuat Yulia benar-benar ingin mencakar wajah tampan-nya sekarang juga.
Ah, sebentar. Tampan, ya?
"Bego!" Umpatan pelan yang terdengar seperti bisikan itu terdengar oleh Habil.
"Kalo gua pinter, mana mungkin minta belajar sama lo, hm?"
Yulia membuang pandangan ke arah lain, tangan kanannya mengambil sebungkus cemilan yang ada di dekatnya. Yulia membukanya, lalu memakannya tanpa memperdulikan Habil yang saat ini menatapnya dan sedang menahan tawa.
"Pelan-pelan, Ya!"
Yulia menurut, semakin pelan dan mungkin emosinya sudah semakin reda.
"By the way ... di mobil tadi, lo liat apa?"
Deg.
Yulia berhenti mengunyah, ingatannya kembali mengingat sosok Nuri. Perlahan, ia menoleh ke arah Habil. Bulu kuduk yang tadinya biasa saja, kini mulai berdiri tanpa permisi.
Di ujung matanya, sosok itu kembali muncul. Di pojok ruangan, memantau Yulia yang kini sudah mulai peka terhadapnya.
"Please, jangan tanya!" Cicitnya pelan seraya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia mulai takut.
Habil menghela nafas, mengangguk pelan. Kedua lengannya terulur, menangkup wajah cantik gadis di depannya. Sedetik kemudian, Habil membawanya ke dalam dekapan hangatnya.
__ADS_1
"Sorry, gua gak bakal nanya lagi."