Still You

Still You
Penelusuran atau Penyesalan?


__ADS_3

"Aneh!" Celetuk Risa.


Tiga kamera yang sedari tadi hidup baru saja di matikan. Risa berjalan mondar-mandir, masih di dalam kelas 12 tata busana.


"Diem dong, Risa!" Perintah Agus dengan sedikit teriakan. Yang disuruh malah seakan tidak mendengarnya.


"Ck," decak Agus. Tangannya tidak diam, melainkan mengotak-atik kamera yang sedari tadi ia pegang.


"Ini pasti ada hubungannya sama Yulia," celetuk Adi yang di angguki oleh Risa, diikuti dengan yang lainnya.


"Tapi apa?" Tanya Risa, membuat Adi mengedikkan bahu tidak tahu.


"Kita coba panggil si Nuri lagi aja, gimana?" Usul Yono, membuat hampir seluruh pasang mata tertuju padanya.


"Ya ... gas. Kita coba lagi komunikasi sama dia!" Lanjutnya.


Hening.


Setelah hening beberapa detik, terdengar seruan yang terdengar begitu semangat dari Risa. "Lah, iya! Kenapa gak kepikiran dari tadi?"


Seruan Risa tersebut membuat Adi mendesis, kemudian melirik Yulia dan Liya di dekatnya. "HP mulu lu pada!"


Liya menyengir, sedangkan Yulia hanya melirik datar. Yono berjalan mendekat ke arah mereka, kemudian duduk di kursi dekat Wulan yang sedang memejamkan mata di atas tumpuan kedua tangannya.


"Tidur wae!" Tegurnya seraya mengetuk meja, membuat Wulan sontak membuka matanya. Ia menatap malas ke arah Yono, seraya memutar matanya.


Yono terkekeh, pandangannya beralih menatap Adi dan Risa secara bergantian. "Gimana? lanjut sekarang atau besok aja?"


"Ya udah, sekarang aja!" jawab Risa menggebu.


Entah mengapa, Risa selalu bersikap semangat dalam harinya. Beberapa lelaki sampai mengagumi dirinya yang terkenal selalu ceria.


Risa berjalan mendekat di mana teman-temannya duduk. "Ayo!"


Adi terkekeh geli melihat Risa yang sangat semangat, ingin rasanya ia mengacak rambut Risa supaya menjadi sedikit berantakan lalu memukul Adi karna kesal.


"Duduk," celetuk Yono seraya menunjuk kursi kosong di dekatnya dengan dagunya.


Risa melirik kursinya sekilas, kemudian duduk di sana.


"Sambil duduk aja, Sa!" celetuk Adi, membuat Risa menatapnya.


"Kalo sama duduk ya minimal susun kursinya gitu biar jadi memanjang!" Risa memberi saran, di angguki oleh Yanto, Agus dan Gunawan.


"Bener, biar ngambil gambarnya juga enak," ucap Agus menyetujui.


"Mau-an lo! Bilang aja capek berdiri," tuduh Yono kemudian tertawa pelan.


"Mutualisme, No!" Bela Gunawan dan di angguki oleh Yanto.


"Udah sama-sama duduk, sama-sama enak masih ae berantem, heran!" Yanto membuka mulut. Mata dan tangannya fokus dengan game puzzle di ponselnya.

__ADS_1


"Di!" Panggil Yulia, membuat Adi menoleh seraya menaikkan sebelah alisnya. "Hm?"


"Bisa agak cepet gak? Gua harus ke cafe, nih!" ucap Yulia bertanya, dengan nada berbisik. Tak enak jika sampai terdengar dengar yang lain, pikirnya.


Terlihat Adi yang sedang berfikir, kemudian mengangguk.


"Guys, gua ada acara. Di lanjut besok aja, ya?"


Bukan, itu bukan suara Yulia, melainkan Adi. Semua pasang mata menatap ke arah Adi seraya memasang raut wajah heran .


"Tumben?"


"Tumben?" Adi mengulang.


"Tumben ada acara, biasanya lo kan gabut!" jawab Agus kemudian tertawa pelan, memancing yang lainnya juga ikut menertawakannya.


"Emang," Adi menjeda. "Acara gua tidur!" lanjutnya seraya berdiri.


"Yuk," ucap Adi seraya menatap Yulia, mengajaknya untuk pulang.


Yulia mengangguk, menepuk pelan pundak Wulan, mengajak kedua temannya untuk pulang bersamanya.


"Ah elah, si Adi mah!" protes Risa. Bibirnya sedikit ia majukan di iringi dengusan kasar. "Teu seru!"


"Udah jam segini, besok lagi!" ucap Adi seraya mengacak rambut Risa, membuat sang empunya semakin mengerucut sebal.


Risa melirik jam dinding di kelas, kembali mendengus ketika ia melihat angka empat di sana.


"Jam empat sore," celetuknya pelan, kemudian kembali mendengus.


"Risa pulang sama siapa?" Adi bertanya. Menyempatkan menoleh menatap Risa yang masih cemberut.


Diam.


Entah ia kesal kepada Adi atau hanya suasana hatinya yang kurang baik.


"Biar Risa pulang sama gua aja," ucap Yono menjawab. Matanya melirik Risa, memperhatikan Risa yang sedari tadi memanyunkan bibirnya.


Adi mengangguk, mengiyakan perkataan Yono. Tak lama kemudian, Adi, Yulia, Liya dan Wulan yang sedari tadi tidur itu pun pergi meninggalkan kelas, menuju parkiran. Mengabaikan Yono, Yanto yang kini sedang berdebat.


"Lo anterin naik angkot, gua yang bawa motor!" Titah Yanto seraya memasukkan ponsel yang sedari tadi ia gunakan untuk game puzzle.


Yono mendengus, "Ngalah kek bang sama Adek!"


Kalimat tersebut membuat Risa menatap Yono dan Yanto secara bergantian. "Risa bawa motor sendiri!" ucapnya kemudian berdiri.


Pernyataan barusan membuat Yono dan Yanto diam, menatap Risa heran.


"Dari tadi kenapa diem?" Tanya Agus, tapi di abaikan. Agus menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha memaklumi teman wanitanya yang satu ini.


"Pulang atau nginep?" Tanya Risa kemudian berjalan keluar, meninggalkan kelas. Sedetik kemudian, Yono, Yanto, Agus dan Gunawan yang sedari tadi diam kini sadar dan bergegas pulang. Ah, lebih tepatnya mengikuti Risa.

__ADS_1


Se-nakal apapun mereka, menjaga wanita itu harus. Terlebih jika wanita itu bersamanya, itu adalah tanggung jawab mereka untuk menjaganya.


Sampai parkiran, mereka berjalan menuju motornya masing-masing dan berlalu dari sekolah menuju rumah Risa, memastikan Risa selamat sampai rumah, baru kemudian pulang ke rumahnya masing-masing.


🦋🦋


Pukul tujuh malam, Habil merebahkan dirinya di atas kasur empuknya. Memejamkan matanya sejenak, kemudian satu pertanyaan terlintas di pikirannya.


Habil membuka matanya secara tiba-tiba, menatap atap kamarnya kemudian bergumam. "Tujuan hidup gua ini apa, sih?"


Hening.


Matanya berkedip, masih setia menatap atap yang ada di atasnya.


"Tujuan hidup gua ... apa?" Lagi, ia bergumam.


Flashback on.


Sore tadi, Habil sedang berada di salah satu restoran, dengan seseorang di depannya yang menatapnya tajam.


"Mau kamu itu apa?" Tanya-nya.


Pertanyaan itu terdengar miris, terlontar dari bibir tipis seorang gadis yang bernama Ara.


Ara. Gadis seumuran Habil itu menatapnya datar, dengan mata yang sedari tadi menatapnya tajam. Di atas meja, ada satu gelas berisi kopi susu dan satu gelas berisi jus alpukat. Sesekali Ara meminumnya, dengan pandangan yang terus menatap lelaki di depannya.


"Kamu ngehindar," ucapnya menjeda.


"Mutusin hubungan sepihak."


"Lewat chat pula," lanjutnya kemudian terkekeh miris.


Habil melihatnya dengan wajah tanpa dosanya. Ia meminum kopi susunya, kemudian sedikit berdeham.


"Oke," celetuknya. "Aku ulang."


Ara mengerutkan keningnya bingung, membuat Habil langsung melanjutkan kalimatnya yang sempat ia tunda.


"Aku minta maaf, kita putus!"


Ara tersenyum miris, berbisik pelan. "Bunda-mu juga wanita, Bil!"


Habil diam, menatap Ara sebentar, kemudian mengeluarkan selembar uang seratus ribu dan meletakkannya di atas meja. Di detik berikutnya, Habil berdiri dan berlalu setelah mengacak rambut Ara dan berbisik, "Maaf."


Dan tanpa dia sadari, satu pasang mata sedang melihat interaksinya dengan mantan pacarnya.


Flashback off.


Habil menghela nafas panjang, kemudian membuangnya perlahan. Ia kembali bergumam, "kalo terus nyakitin cewek, tujuan hidup gua apa, ya?"


Satu persatu ingatannya kembali muncul, di saat ia meninggalkan banyak gadis demi kesenangannya sendiri. Memutuskan hubungan lewat pesan dan mengabaikannya di saat mereka meminta kejelasan.

__ADS_1


"Gua usaha-in, gua bener-bener sayang sama cewek gua selanjutnya!" Yakinnya. Habil kembali menghela nafas, kemudian memejamkan matanya tanda jika ia menyesali perbuatannya.


"Bunda-mu juga wanita, Bil!" Monolognya.


__ADS_2