
Yulia memasuki kamarnya dengan langkah pelan, kemudian berjalan sedikit cepat menuju tempat tidurnya.
"Ah ... akhirnya ketemu juga sama kasur," celetuknya setelah membanting dirinya di kasur, kemudian memeluk guling nya erat.
Matanya terpejam, di iringi rasa nyaman yang perlahan menghampiri, membuat dirinya semakin hanyut di alam mimpi.
🦋🦋
Ani berjalan tergesa, mencari ruangan atas nama Habil. Ia tak konsen, membuat dirinya beberapa kali hampir menabrak orang-orang yang lewat.
Ani membuka salah satu pintu ruangan secara tak sabaran. Matanya melihat Habil yang sedang duduk dengan gips yang sudah terpasang di tangan kirinya.
"Astaga, kok bisa?" Ani berjalan mendekat.
Habil menoleh, menatap Ani yang sedang mencemaskan dirinya. Ia menyengir, "takdir, Bun!"
Ani menghela napas, kemudian diam memperhatikan tangan Habil. "bolos sekolah?" Tanya-nya, kemudian kembali menatap Habil.
Habil yang masih setia menatap bundanya, ia menyengir tanpa dosa. "Hehe, engga kok. Tadi Habil udah nyampe di sekolah!"
Ani diam, alisnya terangkat sebelah seraya menatap Habil tajam, membuat Habil mau tak mau harus mengaku.
"Habil udah sampe sekolah, Bun."
"Habil bolos cuma buat nyamperin Yulia di rumah sakit, Bun. Gak bolos yang aneh-aneh, kok!"
Seketika Ani membelalakkan matanya kaget. "Calon mantu Bunda kenapa?"
🦋🦋
Tiga hari sudah berlalu, dan sekarang Alisa baru saja sadar dari koma nya sejak beberapa menit yang lalu.
Di seberang telepon, Yulia senang. Sampai-sampai ia berteriak nyaring, membuat beberapa siswi yang berada di dalam kelas kini menatapnya heran.
"Kamu teh kenapa, Ya?"
Yulia menggeleng, tersenyum tipis, kemudian beralih menatap Wulan dan Liya.
"Tante gua udah bangun!"
"Serius?!"
Yulia mengangguk, bibir merah muda miliknya kini tak henti-hentinya mengembang.
"Syukurlah kalo gitu!" Ucap Liya seraya tersenyum.
"Iya syukur dia bangun sebelum ujian praktek minggu depan!" ucap Wulan datar. "Kalo ujian praktek masih koma, temen gua gak bakal konsen ntar!"
Yulia mengangguk, senyumnya perlahan memudar, kemudian kembali fokus menatap kedua temannya.
"Ngomong-ngomong ... gua udah gak ngeliat Habil beberapa hari ini. Dia kemana, ya?"
Bukannya langsung menjawab, Wulan dan Liya malah memicingkan matanya, mengendus-endus bagaikan kambing, lalu berucap. "Ahh ... ini mah bau-bau orang kangen, ya gak, Li?"
Liya terkekeh, lalu mengangguk. "Bener banget!"
"Abis gak peduli, sekarang kangen!" Imbuhnya.
__ADS_1
Wulan mengangguk, "kali aja Habil udah jadian sama cewek lain, Ya!"
Sengaja. Wulan dan Liya ingin sekali melihat respon sahabatnya akan bagaimana jika mendengar kabar tentang Habil yang sudah mengencani wanita lain.
Yulia diam, lalu mengedikkan bahunya. "Bodo!"
"Punten neng geulis!"
Tiba-tiba saja Adi memasuki kelas, mendekat ke arah bangkunya dengan sapaan seperti itu, membuat ketiga gadis tersebut menatapnya datar dan mengabaikannya.
Adi mendengus, "Kok gua dikacangin?"
🦋🦋
Yulia berjalan melewati lorong rumah sakit, menuju ruangan Alisa. Niat awalnya untuk menjenguk Alisa bersama Wulan, Liya dan Adi seketika sirna ketika Wulan dan Liya harus menjaga cafe yang semakin banyak pelanggannya. Sedangkan Adi, ia mengaku bahwa ia harus pulang lebih awal hari ini.
Yulia mendengus dengan kaki yang kini sudah berdiri di depan pintu ruangan Alisa. Perlahan, tangannya bergerak membuka pintu tersebut.
Yulia terdiam, pandangannya menangkap beberapa orang di sana yang kini sedang menatapnya.
"Masuk, Ya!"
Ucapan Alisa tersebut membuat Yulia tersadar, lalu tersenyum simpul.
"Mama mana?" Tanya nya seraya melangkah mendekat, mengabaikan beberapa pasang mata yang sedari tadi menatapnya.
"Pulang, karena ada temen-temen gua jadi mbak Ine bisa pulang dan tenang."
Suaranya masih terdengar sedikit lemas, tetapi Yulia sudah lega karena Alisa sudah sadarkan diri.
Seketika Yulia membeku. Jujur saja, ia akan merasa sangat tidak nyaman jika seorang lelaki menggodanya, terlebih jika ia tidak mengenalnya.
Alisa menoleh, lalu menggeleng. "Diem lo!"
Bukannya diam, lelaki itu malah terkekeh mengejek. "Neng, namanya siapa?"
Yulia diam, kemudian mendengus. "Tan, gua pulang dulu. Di sini gerah!" Ucapnya kemudian berbalik berniat pergi.
"Eh, Aa nanya nama doang loh, Neng!"
Salah satu lelaki tersebut menghadang dirinya, membuat Yulia diam seraya menatapnya tajam.
"Weh gila, gua di pelototin! Haha," ia meledek, membuat Yulia semakin geram.
"Kiki, minggir. Godain ponakan gua, abis lo sama gua!!"Alisa mengancam, tetapi di abaikan.
Ceklek.
Suara pintu terbuka, menampakkan seseorang yang sedang berdiri di ambang pintu dengan gips di tangan kirinya.
Hening ....
Yulia menoleh ke ambang pintu, ia mematung.
Habil berjalan mendekati Yulia, kemudian meraih lengannya. "Yuk, pulang!" Ucapnya, seraya menarik lengannya pelan.
"Bro, saha maneh?"
__ADS_1
"Ganteng pisan, euy!"
"Kadieu atuh dek, ayok kenalan!"
Di ruangan Alisa, kini terdapat tujuh orang Yaitu Alisa, Yulia, Habil, dan empat teman alisa yakni dua gadis dan dua lelaki.
Habil mengabaikan ucapan yang menurutnya tidak penting, kemudian melanjutkan langkahnya dengan lengan mungil yang ia tarik selembut mungkin.
Habil membawa Yulia menyusuri lorong, dengan Yulia yang masih diam dan menurut, mengikuti Habil yang kini berjalan di depannya.
"Bil?"
Langkahnya terhenti. Perlahan Habil melepaskan genggaman tangannya, lalu berbalik menoleh ke arah Yulia.
"Lo kenapa? Tangan lo ... kenapa?"
Habil terkekeh, mencubit hidung Yulia pelan. "Gak papa!"
"Di gips gini masih bisa bilang gak papa?" Yulia berucap dengan nada yang sedikit kesal, membuat Habil lagi-lagi terkekeh.
"Gaya-gaya an doang ini."
Yulia mengangguk, diam sejenak. "Boleh gua pukul dong, ya?" Tanya-nya dan di detik berikutnya tangannya bergerak seperti ingin memukul.
Bukannya mengaku, Habil malah diam memperhatikan dengan bibir yang menahan senyuman. "Kok lo gitu, sih?" Sebalnya.
Melihat Yulia yang sedang sebal, Habil tertawa pelan, kemudian mengacak-acak rambut Yulia. "Gua gak papa."
Yulia diam. Tubuhnya terasa kaku, detak jantungnya semakin cepat dan pipinya merona.
"Khawatir?" Lagi-lagi pertanyaan Habil tersebut menambah rasa panas pada dirinya.
"Hahaha gemes banget, sih!"
Habil tertawa, kemudian kembali menggerakkan tangannya yang sedari tadi masih berada di atas kepalanya.
"Astaga ... tadi pamitnya sebentar, ternyata lagi berduaan di sini!"
Kalimat yang baru saja Ani lontarkan tersebut mampu membuat Yulia refleks menepis tangan Habil yang masih mengacak-acak rambutnya. Yulia semakin gugup, kemudian tersenyum kaku.
"Eh, tante!" Yulia menyapa, dengan gerakan refleks mencium tangan Ani.
"Hei, Cantik!" Ani tersenyum, tangannya menangkup kedua pipinya. "Kabar baik, 'kan?"
Yulia mengangguk. Keduanya saling melempar senyum, membuat Habil yang berada tak jauh darinya kini merasa terasingkan.
"Ekhem! Aduh ... haus nih, Bun!" Ucap Habil sengaja, seraya mengelus tengkuknya dan membuang pandangannya ke arah atap.
Ani dan Yulia menoleh, kemudian saling tatap satu sama lain.
"Kamu denger gak, barusan ada suara-suara aneh?"
Yulia menatap Ani yang sedang memberi isyarat, membuatnya kini menahan tawa. "Iya Bun. Suara siapa, ya?"
"Cicak mungkin, ayok kita ke parkiran!" Ani menggandeng lengan Yulia, kemudian berjalan menjauh dari posisi sebelumnya. "Tante anterin pulang!"
Habil diam, menatap dua orang yang sedang mengabaikan, serta meninggalkan dirinya. Ia mendengus, "Anak nya gua apa Yulia, dah?"
__ADS_1