
Malam ini, pukul delapan malam. Miko dan Afif sedang duduk di salah satu meja, sebelah pojok di cafe C'Brand.
C'Brand adalah cafe bernuansa modern dengan pelayanannya yang terkenal sangat baik.
Afif menyeruput jus alpukat yang tadi ia pesan. Seruputan terakhir yang menimbulkan suara yang tidak mengenakkan jika di dengar.
"Ck, minuman gua sampe abis. Habil mana, sih?" gerutunya sebal, membuat Miko meliriknya sekilas.
"Awas aja sampe gak dateng." Masih bergumam, kemudian melanjutkan. "Gua gak bawa uang buat bayar anjir kalo dia sampe ngibul!"
Hampir tersedak.
Miko yang sedang meminum kopi hitamnya, hampir saja tersedak karena penuturan temannya tersebut.
Apa katanya?
"Jangan becanda dong lo! Serius gak bawa duit?"
Afif menoleh, menaikkan sebelah alisnya curiga. "Jangan bilang lo juga gak bawa duit?"
Miko mengangguk, dan sedetik kemudian mereka serempak mengumpat, "mati!"
"Siapa mati?"
Miko dan Afif sedikit tersentak kaget, langsung menoleh mencari seseorang yang baru saja menjawab.
"Alhamdulillah," ucap Miko dan Afif bebarengan kala mereka melihat Habil dan Aldi di sana, berdiri menatap mereka heran.
Habil dan Aldi berjalan semakin mendekat, lalu duduk di kursi samping yang masih kosong.
"Siapa dah yang mati? Ayam lo?" Tanya Habil seraya duduk, membuat Afif melotot.
Sejak kapan ia memelihara Ayam?
Habil, Miko dan Aldi terkekeh, melihat mata sipit Afif yang berusaha membelalak. Lucu.
"Pesen dah buru, gua yang bayar."
Kalimat yang keluar dari bibir tebalnya itu, membuat Miko, Aldi terutama Afif bersorak senang.
Membuat beberapa pengunjung menatapnya aneh.
Jarang-jarang mereka makan gratis. Sebelum Afif mengangkat tangannya tinggi-tinggi untuk memesan, Habil berucap.
"Pesanan sebelum gua dateng bayar sendiri, ya!"
Afif menoleh tak terima, ingin protes, tetapi Habil menyelanya sinis. "Apa lo?"
Miko yang tahu Habil sedang mengerjai temannya, ia menahan tawa, sedangkan Aldi terkekeh geli.
Sebenarnya Habil dan Aldi sudah mendengar beberapa obrolan mereka, lebih tepatnya disaat mereka bilang jika mereka tidak membawa uang.
Bisa-bisanya Habil se-jahil itu.
Afif mendengus, tidak jadi memesan. Punggungnya ia senderkan di senderan kursi. Bibirnya sedikit mengerucut seperti wanita yang sedang di kerjai oleh lelakinya.
Aldi melirik Afif, kemudian terkekeh geli. "Gua yang bayar kalo Habil gak mau bayar."
Sedetik kemudian, Afif melihat Aldi dengan matanya yang berbinar. "Bener lo?"
Aldi mengangguk, Miko menggeleng seraya terkekeh, sedangkan Habil, ia mendengus.
"Pantes jomblo lo, gak mau modal gitu!"
Diabaikan. Afif lebih memilih mengangkat lengannya tinggi untuk memanggil seorang waiters.
Lagi-lagi Habil mendengus, tangan kanannya berada di atas meja, menumpu dagunya malas. Ia gagal mengerjai Afif gara-gara Aldi, lagi.
__ADS_1
"Empat minuman dan makanan recommended yang ada di sini ya, Mbak!"
Waiters itu mengangguk, lalu mencatat. "Oh iya, karena mas beli semua yang recommended, tinggal beli satu menu lagi bisa dapet bonus foto berdua sama pemilik cafe, mas."
Waiters tersebut menjelaskan panjang lebar, membuat Habil, Aldi, Miko dan Afif mengernyit.
"Yang punya cafe artis, Mbak?" Afif bertanya polos, membuat sang waiters tersenyum di iringi gelengan.
"Terus?"
"Pemilik cafe ini juara nasional dancer dua tahun berturut-turut, Mas. Jadi, berminat atau tidak?"
Sebelum Afif menjawab 'iya', Habil terlebih dahulu menyelanya. "Tidak, itu saja cukup."
Waiters itu mengangguk seraya tersenyum, "empat makanan dan minuman recommended akan kami siapkan, silahkan di tunggu ya, Mas."
Habil, Afif, Miko dan Aldi mengangguk, dan waiters tersebut pergi menyiapkan pesanan.
Mereka mengobrol, sesekali bercanda dan tertawa pelan di sana. Mulai dari hal tidak penting, sampai hal yang lumayan penting.
"Gua saranin, sebelum lo bener-bener ngejar si Yulia, lo pastiin semua pacar lo itu udah lo putusin," ucap Miko memberi wejangan.
Habil yang menanggapinya santai, ia mengangguk-anggukan kepalanya tanpa peduli.
Seingat Habil, ia sudah memutuskan semua pacarnya. Jadi, tenang saja.
"Sebelum lo mewek-mewek karena Yulia ninggalin lo, dengerin ucapan dari gua!"
Habil mendengus, menatap Miko jengah. "Iya!"
"Si Ara juga udah lo putusin, kan?" Afif bertanya, membuat Habil mengangguk.
"Udah!"
"Lo mau lan--"
Ucapan Miko terputus karena beberapa waiters mengganggunya. Ah, lebih tepatnya mereka mengantar pesanannya.
Aldi melihat kepergian waiters tersebut, membuat sebuah suara mengagetkan dirinya.
"Manis ye, Al?"
Dengan cepat, Aldi menoleh ke sumber suara. Habil sedang terkekeh mengejek di sana, membuat Aldi mendengus.
"Liya lebih manis."
Sontak, kalimat tersebut membuat ketiga pasang mata menoleh ke arahnya, menatapnya penuh tanya.
"Udah jadian?"
"Traktiran na teu lupa kan?"
"Teu traktiran teu langgeng!"
"Berisik!"
Satu kata penuh penekanan itu membuat Habil, Miko dan Afif diam, menatap Aldi yang kini sedang menyeruput kopi hitam di depannya.
Miko yang sedari tadi sedang memakan kentang goreng di depannya, ia mengedikkan bahu.
"Belum nembak guys, masih ancang-ancang!" ledeknya di iringi kekehan.
Habil dan Afif tertawa pelan, menatap Aldi dan ikut menggodanya.
"Nembak orang kek Liya ternyata butuh ancang-ancang juga ya!" Afif meledek, kemudian terkekeh geli.
Aldi yang tidak peduli, ia hanya mengambil kentang goreng di depan Miko, kemudian memakannya.
__ADS_1
"Kek Liya? Liya kek gimana emang?" Habil bertanya, menatap Afif dan bersiap menggoda Aldi.
Afif berfikir, kemudian berceletuk. "Aneh!"
"Aneh, kalo lo tembak juga pasti gak bakal mau sama lo!" Jawab Aldi seraya mengunyah. Wajahnya datar, tatapannya lurus menatap siapa saja yang lewat di depannya.
"Kalo ngomong jangan terlalu jujur, Al!"
"Kesian, dia lagi jomblo gitu."
Miko tertawa setelah mengucapkan itu, membuat Afif sedikit mengerucut sebal.
Seperti kaum hawa saja.
"Bisa ganti topik yang lebih bermanfaat?" Aldi berucap, membuat keadaan di antara mereka menjadi diam sejenak.
"Kalian mau lanjut kemana abis SMK?" Miko mencoba memulai obrolan baru yang mungkin sedikit bermanfaat.
"Universitas Gajah Mada enak kayaknya," celetuk Afif membuat semuanya mengernyit heran.
Enak apanya? Di makan, kah?
"Kalo gua sih pengen Universitas Indonesia, sebagai tanda gua cinta negara," jawab Habil, kemudian tertawa renyah.
"Kalo lo Al?" Miko bertanya, karena sedari tadi Aldi selalu diam.
"Kerja, duitnya baru buat kuliah tahun depan."
Mereka bertiga tercengang, kaget. Pasalnya, Aldi termasuk anak dari seorang pebisnis yang kemungkinan besar bisa mem-biaya-i dirinya untuk bebas memilih universitas mana yang dia mau.
"Cuma pengen mandiri," celetuknya singkat.
Habil, Afif dan Miko mengangguk, menghargai apapun keputusannya selama tidak melenceng dari aturan yang ada.
"Gua sendiri juga kayaknya kuliah sambil kerja, dah!" celetuk Miko, kemudian menyeruput sisa kopi hitam yang tadi ia pesan sebelum Habil dan Aldi datang.
"Kira-kira Yulia universitas mana, ya?"
Kalimat tersebut membuat tiga pasang mata menatapnya heran.
"Apa urusan lo? Mau biaya-in?"
Habil menyengir, "tapi kalo dia mau jadi istri gua mah ayok aja gua biaya-in!"
"Masih di anggep temen aja halu lo kemana-mana!" Aldi menggerutu, membuat Miko dan Afif terkekeh mengejek.
Mereka ini suka sekali mengejek, ya?
"Perkataan itu doa, Men. Aamiin-in aja napa dah!"
Terdengar dengusan kasar setelah itu.
"Halo, selamat malam!"
"Satu dua tiga, tes."
Suara tersebut membuat atensi Habil dan ketiga temannya menoleh ke arah panggung kecil di depan. Menampakkan seseorang yang sepertinya ingin menyanyikan sebuah lagu.
"Kayak kenal," celetuk Afif ketika melihat seorang perempuan yang sedang berdiri disana, mengobrol dengan seorang gitaris.
Mengobrol tentang lagu yang akan di bawakan lebih tepatnya.
Gadis itu memakai dress selutut, tubuh ramping dan heels itu membuatnya semakin terlihat cantik. Rambut di cepol dan make up tipis menambah kesan cantik di sana.
Hampir seluruh atensi pengunjung mengarah padanya. Termasuk Habil, Miko, Afif dan Aldi. Setelah beberapa menit di sana, sebuah lagu dengan judul Rindu Aku Rindu Kamu-Doel Sumbang dan Nini Carlina terdengar begitu nyaman di telinga.
Lagu lawas, namun tetap nyaman di dengar.
__ADS_1
Semenit kemudian, Afif baru sadar dan sedikit mengagetkan.
"Anjir, Wulan bukan?!"