Still You

Still You
Kasus Nuri (2)


__ADS_3

Alisa meneguk ludahnya dengan susah payah, kemudian meyakinkan dirinya untuk menatap Adi dengan Nuri di dalamnya. Wajahnya di tekuk, suasana hatinya kian memburuk.


"Nuri ...," panggil Alisa dengan suara sedikit gemetar.


Nuri diam.


Di sekitarnya terdapat Risa dan Yono yang sedang memperhatikan, memastikan bahwa ini semua aman terkendali.


"K-kamu ... kenapa tega sama aku?" Tanyanya sedikit terbata. Suara khas laki-laki yang Adi miliki seakan hilang, tergantikan oleh suara yang lebih pelan dan lirih.


"Kenapa teman kamu ngedorong aku?"


"Apa salahku?"


Pertanyaan-pertanyaan itu tertumpuk, belum terjawab. Yang di tanya pun, kini hanya diam dengan kaki gemetar dan badannya mulai panas-dingin.


"Nuri ... maafin aku," lirih Alisa seraya meraih tangan Adi yang terasa dingin. Wajar saja, saat ini Nuri ada di dalamnya.


"Maaf karena aku gak bisa cegah Ana waktu itu."


Alisa mulai menangis, merasa sangat bersalah dan menyalahkan dirinya sendiri. Di saat SMK, dirinya memang gemar mem-bully bersama Ana. Sejenis hobi.


Tetapi ia sama sekali tak ada niat untuk mendorong Nuri dari lantai tiga waktu itu. Ia kira, Ana hanya menggertak, tetapi faktanya Ana malah mendorongnya dan tak sempat Alisa cegah.


Terlihat Nuri tersenyum tipis, "janji ya? Harus hidup lebih baik lagi. Jangan mem-bully atau menyakiti siapapun, lagi."


Dengan cepat Alisa mengangguk, tersenyum haru, kemudian menatap mata Adi penuh harap. Sedetik kemudian Alisa menoleh ke arah Risa dan Yono yang masih diam memperhatikan, "mau peluk Nuri, boleh?"


"Sok aja, nanti yang kamu peluk badannya Adi, tapi itu Nuri kok," jawab Risa seraya mengangguk ragu.


Mendengar jawaban Risa, Alisa kembali menatap Adi. "Nur ... boleh peluk?"


Lama menunggu jawaban, Alisa tak tahan. Ia langsung memeluk Adi seraya membisikkan, "makasih, Nuri. Aku janji bakal jadi orang yang lebih baik!"


Tak ada respon jawaban dari Nuri, hanya saja Alisa merasakan ada kedua tangan yang membalas pelukannya. Alisa tersenyum lega, membiarkan dirinya memeluk Nuri dengan lama sekali ini saja.


Alisa masih pada posisinya, sampai sebuah suara mengagetkan dirinya.


"Alisa," panggil Adi seraya melepas pelukannya. Setelah terlepas, Adi berjalan ke salah satu kursi dan duduk di sana seraya mengumpulkan kesadarannya.


Alisa mengikuti Adi dengan langkah kecil, menatap Adi bingung. Ia berdiri tepat di depan Adi, menunduk untuk menatap Adi yang sedang memegang kepalanya.

__ADS_1


"Kenapa?"


Pertanyaan itu membuat Adi mendongak, menatap Alisa yang sedang memasang wajah polos dengan mata dan hidung merahnya.


Karena menangis.


"Tadi meluk Nuri atau aku?"


Dengan cepat, Alisa menjawab. "Nuri!"


Adi mengangguk, ia berusaha untuk menahan tawanya.


"Tapi tadi Nuri nya tiba-tiba keluar pas kamu peluk lama. Berarti kamu meluk siapa?"


Alisa berpikir sebentar, sedetik kemudian pipinya memerah malu. "Ka-kamu?"


Adi terkekeh di buatnya, menatap Alisa yang saat ini bertingkah menggemaskan. Untung saja dia lebih tua darinya secara umur, kalau tidak, pasti sudah ia jahili sedari tadi.


"Barusan gua sama Risa abis komunikasi sama Nuri," ucap Yono menggema di ruangan kelas yang kosong. Adi dan Alisa kompak menoleh, memperhatikan Risa dan Yono yang sedang berjalan mendekat ke arah mereka.


"Gimana?" Adi bertanya, membuat Yono duduk di meja samping Adi, sedangkan Risa duduk di kursi, di ikuti dengan Alisa di kursi lainnya.


"Ada beberapa kemauan Nuri buat Alisa sama Ana, yang ngedorong Ana, 'kan?"


"Nuri mau lo sama Ana itu gak nge-bully lagi," ucapnya memberi jeda. "Ngejalanin hidup yang damai, tanpa nge-bully apalagi sampe ada korban lagi."


Alisa masih memperhatikan, air matanya sesekali keluar, tetapi dengan cepat ia menyekanya.


"Terus ...," Yono menjeda, mengingat apa yang Nuri ucapkan padanya tadi.


"Nuri juga mau lo sama Ana gak neko-neko, gak nakal, pokoknya hidup kalian harus lebih baik lah dari dulu."


Alisa mengangguk cepat, "bilangin sama Nuri, pasti aku bakal usaha buat jadi lebih baik! Nanti aku bakal hubungin Ana, aku sampe-in!" Jawabnya menggebu.


Yono mengedikkan bahunya, "dia udah denger sendiri!"


"Adalagi," celetuk Risa membuat tiga pasang mata kini beralih menatapnya.


"Tadi juga Nuri bilang," jedanya. "Dia mau kita minta ke pihak berwajib untuk ngebuka kembali kasus tiga tahun lalu yang udah di tutup karena di anggap cuma kecelakaan. Setelah pihak berwajib setuju ngebuka kasusnya lagi, Nuri mau kita bilang kalo Ana yang udah ngedorong dia."


Risa menatap Alisa yang kini mulai memucat lalu melanjutkan, "dan Alisa sebagai saksinya."

__ADS_1


Risa tersenyum, menepuk bahu Alisa lalu berucap. "Tenang aja, itu semua juga gak asal nangkep atau apa."


Yono mengangguk, "polisi akan tetap menyelidiki dan mengurus semuanya."


"Kemungkinan terbesar, Ana bakal di tahan sebagai hukuman atas perbuatannya. Jika khawatir Ana akan melakukan hal yang sama, atau bahkan lebih bahaya dari kasus Nuri," lanjut Yono menjelaskan.


"Oke anak-anak, bapak guru belum bisa menjelaskan semuanya karena bapak belum belajar tentang hukum atau pun tentang gangguan psikopati. Jadi, sampai sini tolong di paksa untuk paham, ya?" Canda Yono dengan gaya sebagai guru, membuat suasana yang tadinya tegang, kini menjadi sedikit cair berkat candaan garingnya.


"Gak pantes lo jadi guru, minggat lo!" Canda Adi, kemudian terkekeh.


"Sialan lo!" Umpatnya membuat ketiganya tertawa. Yono mendengus, lalu menoel kepala Adi dan di detik berikutnya, terjadilah peperangan antar lelaki.


"Ah gak seru, cuma jitak-jitakkan, nih? Tusuk-tusukkan kek biar seru!" Teriak Risa membuat Yono dan Adi berhenti, lalu menatap dirinya.


Secara kompak, Yono dan Adi berujar. "Lo yang kita tusuk, mau?"


🦋🦋


Adi, Risa, Yono dan Alisa baru saja keluar dari lorong kelas, berjalan menuju lapangan dimana motor Adi dan Yono berada.


"Risa pulang sama lo, No?" Tanya Adi membuat Yono mengedikkan bahunya acuh.


"Mending bonceng kunti gua mah dari pada dia," celetuknya membuat Risa membelalakkan matanya tak terima.


Risa menatap jengkel ke arah Yono yang sedang memakai helm hitamnya. Sedangkan Adi, ia terkekeh, beralih menatap Alisa yang sedari tadi diam. "Bawa motor atau mau balik sama aku, Teh?"


Alisa diam menatap Adi, lalu menggeleng, "gak bawa motor, nanti bisa pesen ojek online, kok!"


"Sama aku ae teh," ucapnya, tetapi Alisa menggeleng. "Eh enggak, ajak Risa aja."


Adi menoleh ke arah Risa yang sepertinya tidak bisa berdamai dengan Yono, lalu terkekeh ketika melihat apa yang Risa lakukan terhadap Yono. Adi menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu sedikit berteriak. "Yon, lo anterin Risa sampe depan rumahnya, jangan sampe lecet!" Titah Adi.


"Kenapa gak sampe depan kamarnya, Di?"


Adi terkekeh lagi, berubah menjadi tawa ketika ia melihat Risa yang kembali memukul helm hitam yang Yono pakai. "Budeg lo, Yon. Mampus!"


"Permisi?"


Satu kata tersebut membuat Risa, Yono, Adi dan Alisa diam, menoleh di mana suara itu berasal.


Dua adek kelas yang mereka tahu adalah ketua OSIS dan wakilnya itu tersenyum ramah. "Naon?"

__ADS_1


"Kita mau bahas sesuatu perihal acara buat kelulusan aa sama teteh. Boleh minta waktunya beberapa menit?"


__ADS_2