
"Udah sepi?" Adi bertanya kepada Yono, salah satu teman se-tim. Pandangannya terarah pada Yono yang sedang berjalan mendekat ke arahnya.
"Lumayan sepi. Cuma beberapa ada yang lagi eskul atau numpang WiFi!" jawabnya, lalu duduk di atas meja.
Yono. Siswa yang baru datang itu bernama Yono, anak teknik kelas 12, lebih tepatnya adalah teman sekelas Habil.
Di sisi lain, Liya menepuk jidatnya secara tiba-tiba, membuat beberapa pasang mata menatap dirinya aneh. "Astaga!"
"Aya naon?"
Liya menatap Adi dan Yono bergantian, menggelengkan kepalanya pelan lalu berucap, "gua baru inget!"
Jawaban Liya itu sontak membuat Adi mendengus, menatap Liya seraya menaikkan sebelah alisnya. "Apa?"
Liya diam selama beberapa detik, tak lama kemudian ia baru menjawab. "Gak jadi, hehe!" jawabnya di iringi dengan cengiran.
Hening.
"Kebiasaan," desis Adi, kedua bola matanya memutar tanda ia malas menghadapi seorang bernama Liya.
"Lama banget, kapan mulai?" Yulia menyeletuk. Antara tidak sabar dengan penelusuran atau ia ingin segera pulang.
"Bentar," jawab Adi.
"Siapa yang belum dateng?" Lanjutnya dengan sedikit berteriak, membuat atensi mereka beralih menatap Adi.
"Si Risa belum dateng!"
Adi mengeryit, "kemana dia?"
"Aku di sini," teriak Risa menggelegar, seraya memasuki kelas 12 tata busana.
Memang, kelas 12 tata busana saat ini sudah di nobatkan menjadi tempat berkumpul untuk penelusuran kali ini.
"Lama banget lo! Ngapain? Berak?" Tanya Yono meledek, tetapi malah di angguki oleh Risa, membuat hampir seluruh dari mereka yang melihat terkekeh geli karenanya.
"Bagus udah kumpul semua kan? Yuk, mulai!" Ucap Adi yang membuat seluruh anggota kini berkumpul.
Adi, Yulia, Wulan, Liya, Yono, Risa dan tiga kamera-men itu berkumpul, membentuk bundaran kemudian berdoa sesuai dengan kepercayaan masing-masing.
Setelah selesai, mereka menyempatkan untuk melakukan sebuah tos atau yel-yel untuk menambah semangat yang sudah ada.
"Semangat, Guys!" teriak Risa seraya menggepalkan tangannya, lalu memukulkannya ke udara. Membuat beberapa temannya juga melakukan hal yang sama.
"Semangat!"
"Kudu semangat!"
"Gini banget orang kalo cari nafkah," celetuk Yono membuat Yanto, selaku kembarannya itu menggeleng-gelengkan kepalanya seraya menjawab. "Mending lo, gua pegel nih megang kamera mulu!"
Ngomong-ngomong soal penelusuran, komunitas ini di bentuk sejak beberapa bulan yang lalu. Komunitas yang terdiri dari Adi, Yono, Risa, Yanto, Gunawan dan Agus sebagai kamera-men.
Bukan komunitas yang sia-sia, selain membantu 'mereka' yang terjebak, komunitas ini juga bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah lewat vidio yang mereka unggah di platform berlogo merah.
"Ya udah, gantian gua yang megang kamera. Gimana?" Yanto menggeleng, menolak tawaran Yono yang terdengar seperti ledekan.
"Udah, yuk mulai?"
__ADS_1
Satu kalimat dari Adi tersebut berhasil membuat keduanya saling diam. Membuat Yanto, Gunawan dan Agus langsung bersiap dengan kamera, tugas dan posisinya.
"Yuk, opening!" Ucap Risa semangat, yang di angguk-i oleh Adi dan Yono.
"Eh, kalian sini ke tengah! Mosok tamu di pinggir, sih?" Celetuk Risa, kemudian melanjutkan. "Lo yang bener dong, Adi!"
"Kok gua?"
Risa mengabaikan protes-an Adi, malah menarik pelan tangan Yulia, Wulan dan Liya secara bergantian agar berada di tengah.
"Nah, oke! Yuk, opening! " seru Risa tak sabar.
Sontak Hal itu membuat Gunawan, Agus dan Yanto langsung mempersiapkan kamera dan langsung mengambil posisi.
Di sana mereka memulai, memperkenalkan diri dan tak lupa dengan ketiga tamunya.
"Oke, mulai dari mana, nih?" Tanya Risa. Kedua tangannya berada di pinggang, pandangannya mengarah kesana-kemari dan tak lupa dengan pipinya yang menggembung.
"Kalo aku sih ya, udah ngerasain dari tadi ada yang mantau kita," ucap Risa, kemudian melanjutkan. "Mungkin kayak bingung, 'wahh kenapa nih tumben waktunya pulang gak pulang?', bingung juga kok ada yang bawa kamera."
Yono dan Adi mengangguk, menyetujui apa yang Risa katakan.
"Kelas ini menarik, sih. Mau liat di sini dulu atau kelas lain?" Tanya Adi menatap Risa, Yono dan ketiga tamunya bergantian.
"Di sini aja dulu kali, ya?" Usul Risa yang di angguk-i oleh Yono dan Adi.
"Boleh kalo gitu."
Yulia, Wulan dan Liya hanya diam, memperhatikan interaksi antara tiga indigo di depannya. Sedikit terkejut, karena ia baru tahu jika di sekolahnya ada beberapa indigo seperti Adi.
"Siapa di antara kalian yang katanya pernah liat penampakan?" Risa bertanya.
"Aku," celetuk Yulia menjawab. Matanya menatap Risa, dengan senyuman tipis terpampang.
"Gimana ceritanya?" Saat ini bukan Risa, tetapi Yono yang menyela.
"Waktu itu lagi di dalam mobil, sih. Ada di kursi belakang, dia bilang Nuri namanya dan dia minta tolong!" jelasnya secara singkat, membuat Risa dan Yono itu paham dan mengangguk.
"Kita panggil si Nuri bisa kali, ya?" Ucap Risa sedikit melirik Yulia dan tersenyum menggoda.
"Dari tadi dia ada di sini, Sa!" celetuk Adi datar, membuat Risa menoleh.
"Nuri yang mana? Yang itu gak, sih? Pake seragam sekolah terus di sini ada darahnya," ucapnya sedikit bergumam seraya memegang bagian kepalanya.
Yulia mengangguk, "pucet banget, kan?"
Risa mengangguk, sedangkan Yono terkekeh geli. "Ya iya, kalo pake lipstik biar gak pucet, itu namanya hantu mau kondangan, Ya!" ucapnya, kemudian tertawa pelan.
Adi terkekeh geli, tangannya ia gerakkan untuk menoel kepala Yono agar bisa sedikit serius dengan apa yang ia kerjakan saat ini. Hitung-hitung menjaga image di hadapan ketiga tamunya 'kan?
"Biar mereka bertiga gak terlalu tegang, Adi! Lo gak liat? Mereka udah pucet banget mirip Nuri!"
"Enak aja!" protes wulan dan Liya bersamaan. Merasa tak terima jika ia di samakan dengan Nuri.
"Aku mau buka komunikasi sama Nuri, gimana?" Tanya Risa setelah berhasil meredam tawanya. Pandangannya menatap Adi dan yono meminta persetujuan.
"Barusan udah nanya Nuri dan dia mau," lanjutnya.
__ADS_1
Terlihat Adi dan Yono mengangguk, "jaga-in, ya!" pinta Risa lalu menutup matanya.
Mencoba berkomunikasi dan membuka kesempatan agar Nuri bisa masuk ke dalam dirinya. Risa masih memejam, setelah beberapa detik kemudian ia membuka matanya.
Yono yang berada di sampingnya selalu sigap, waspada. Takut-takut jika sosok Nuri ini adalah sosok yang jahil.
"Hai!" Ucap Nuri yang berada di badan Risa seraya melambaikan tangan. Suaranya terdengar imut, gerak-geriknya juga terlihat menggemaskan.
"Hai, Nuri, ya?" Tanya Yono seraya memegang sebelah bahu Risa dan menatapnya.
Risa mengangguk, seraya memanyunkan bibirnya, membuat Yulia sedikit menjauh sebelum akhirnya Adi menahannya dan menggeleng. "Gak papa!"
Tetap saja, tercipta jarak antara Yulia dan tubuh Risa sekarang.
"Kamu kenapa?" Yono bertanya, membuat seluruh atensi mereka tertuju pada badan Risa dengan Nuri di dalamnya. Satu kamera dari Agus menyorot Risa dekat, memberikan kesempatan untuk penontonnya agar bisa melihat wajah Risa secara dekat.
Nuri masih diam.
"Kenapa, hm?" Yono bertanya, lagi. Nuri menggeleng, memainkan ujung baju yang Risa pakai dengan bibir mengerucut sebal.
"Gak mau cerita?" lagi-lagi Yono bertanya, masih berusaha sabar menghadapinya.
Nuri mengangguk cepat, "mau!"
Wajahnya sedikit mendongak, menatap Yono yang kini juga menatapnya balik.
"Tidak boleh saling mem-bully tau!" ucapnya pelan, hampir terdengar seperti mengadu.
Yulia, Wulan dan Liya memperhatikan. Di dalam hatinya, mereka sedikit takut. Sedangkan Adi, ia hanya mendengarkan. Matanya menjelajah ke setiap pojok kelas, jendela atau bahkan pintu di sana.
"Kenapa? Nuri dulu di bully, ya?" Yono bertanya, membuatnya mengangguk.
"Siapa yang nge-bully?" lagi-lagi ia bertanya, membuat Nuri menggeleng. Sedetik kemudian Risa sadar dan sedikit oleng. Untung saja Yono dengan sigap memeganginya.
Risa menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha mengumpulkan kesadarannya. Berdiri tegak, kemudian mengusap wajahnya. Ia menatap Yono, yang kini juga menatapnya.
"Nuri nya tiba-tiba pergi," ucapnya seraya mengalihkan pandangannya ke arah Yulia.
"Mungkin dia belum bisa cerita, kayak belum sanggup gitu kali, ya?"
"Gua pernah coba komunikasi sama dia," celetuk Adi, membuat Yulia menatapnya heran.
"Gua di bawa ke dimensi lain," lanjutnya.
"Berarti lo tau dia kenapa?" Adi mengangguk, kemudian mengingat kejadian dimana ia merasakan apa yang Nuri rasakan.
"Dia di bully sama dua kakak kelas, terus di dorong sama satu kakak kelasnya."
"Di dorong dari mana?" Risa bertanya, sedikit kasihan.
"Sekolah kita dulu tuh belum jadi. Ada bangunan yang belum kelar, terus si Nuri ini di seret ke atas bangunan. Nyampe atas dia di dorong sampe jatuh!" Adi menjelaskan, dengan kedua tangan yang mencoba memperagakan.
"Weh gila, sih! Kakak kelasnya psycho kali tuh!" celetuk Liya. Sepertinya ia mulai merasa nyaman di sini.
"Kayaknya, sih."
"Terus kenapa belakangan ini dia suka ngikutin gua dan nampak-in diri dengan sosoknya yang banyak darah?" Yulia menjeda, kemudian melanjutkan. "Kalo di sekolah ini ada beberapa indigo, kenapa harus gua yang dia mintain tolong?"
__ADS_1
Risa, Yono, Adi, Wulan dan Liya mengangguk setuju. Ini benar-benar aneh!
"Itu yang mau kita selidiki," celetuk Risa.