Still You

Still You
Kasus Nuri.


__ADS_3

Adi merebahkan dirinya di atas kasur. Matanya menatap layar ponsel yang sedang menampilkan satu nomor dengan nama 'Alisa' di sana.


"Telepon gak, ya?"


Adi bimbang. Ingin menelepon Alisa, tetapi ragu. Bagaimana caranya menyampaikan niatnya? Atau, bagaimana caranya mengobrol dan sejenisnya.


Ting!


Satu notifikasi terdengar, menampilkan satu pesan yang


baru saja masuk pada bar notifikasi. Adi meliriknya, dengusan kasar terdengar dari bibirnya kala ia membacanya sekilas.


Risa.


Jangan lupa hubungin Alisa! Sampek pura-pura lupa, gua kirim kunti buat lo!


Adi menggeleng, berkali-kali ancaman tersebut muncul di benaknya, lalu bergumam. "Lo lupa, kalo gua satu spesies sama lo?"


Setelah beberapa detik Adi memikirkan apa yang akan ia sampaikan, ia memencet ikon telepon dan menunggu sambungan telepon tersambung.


"Halo, ini siapa?"


🦋🦋


Adi bersiap-siap untuk menemui seseorang. Bukan di cafe atau restoran apalagi pantai dan taman, melainkan sekolahnya saat ini.


Ya, SMK 7 Gajah Mada.


Setelah siap, Adi berjalan menuju motornya dan berlalu dari kost nya saat ini. Setelah beberapa menit di perjalanan, akhirnya ia sampai.


Adi menghentikan motornya tak jauh dari seseorang yang kini sedang berdiri menatap gedung sekolah di depannya. Ia turun, kemudian berjalan mendekat.


Sekilas adi melihat suasana sekolah yang sepi. Wajar saja, karena ini adalah hari libur.


Adi berdeham, "Kamu ... Alisa, ya?"


Gadis itu menoleh, mengalihkan atensi dari gedung di depannya. SMK 7 Gajah Mada yang kini terlihat sangat berbeda dari tiga tahun lalu, pikirnya.


Alisa tersenyum, melihat Adi seraya mengangguk. "Iya, Alisa!" Jawabnya seraya mengulurkan tangannya untuk bersalaman, berniat berkenalan.


"Adi," ucapnya seraya menjabat tangan Alisa sesaat.


Setelah itu, Alisa kembali menatap gedung teratas, lebih tepatnya jejeran kelas 12 berada. Refleks, Adi mengikuti arah pandangan Alisa, kemudian tersenyum samar.


"Nuri ada di salah satu kelas sebelah sana," jelas Adi tanpa melihat Alisa.


Dari ujung matanya, Adi melihat Alisa yang mengangguk pelan, seperti tak berdaya. "Dari lantai itu juga, Nuri di dorong."


Adi mengangguk mengiyakan. Ingatan kala Nuri memperlihatkan kejadian tersebut kembali terlintas.


"Kalo boleh tau ... hubungan Nuri sama kalian itu apa? Kenapa kalian nge-bully dan ... Nuri punya salah apa?"

__ADS_1


Sedikit enggan untuk menjawab, Alisa masih bungkam. Matanya menatap lurus, kosong. Ingatannya terbang, kembali mengingat dimana hari itu terjadi.


"Seangkatan. Kita ... seangkatan," lirihnya sedikit ragu.


Adi menunduk, menatap yang ia injak, lalu mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti.


Beberapa saat kemudian, Adi kembali mengangkat wajahnya, menatap kembali bangunan tinggi dengan sosok Nuri di salah satu jendelanya, sedang menatap ke arah mereka seraya melambaikan tangannya.


"Keliatannya ... dia pengen ketemu sama kamu."


Kalimat tersebut membuat Alisa menoleh, menatap Adi seraya mengeryit heran. " Em ... 'keliatannya'?"


Adi mengangguk.


"Kamu selalu bisa ngeliat Nuri?"


Sekali lagi, Adi mengangguk, lalu menoleh ke arah Alisa.


"Tergantung orang nganggep-nya gimana," jawabnya.


"Mau duduk di sana?" Adi bertanya, seraya menunjuk salah satu kursi panjang di dekatnya, tetapi Alisa menggeleng. "Gimana kalo kita ke kelas yang kamu maksud?"


Sedikit tak percaya, Adi terdiam, menatap Alisa seperti tak yakin. "Serius?"


Alisa mengangguk, matanya sedikit memerah, seperti menahan tangisan (?)


"Kalo gitu, aku hubungin temen dulu, ya? Takut bahaya kalau hanya berdua, terus ketemu sama arwah yang bisa aja punya dendam sama kamu."


Tanpa menunggu persetujuan dari Alisa, Adi menelepon Risa, baru kemudian Yono agar cepat bergegas menuju tempatnya sekarang.


Alisa mengangguk, lalu melempar senyuman. "Terima kasih!"


Adi mempertahankan senyumannya, lalu menunjukkan jalan. "Lewat sini, Teh!"


Mereka berjalan beriringan, melewati lorong kelas yang sepi. Hanya ada beberapa siswa, yang entah sedang apa di sana.


Langkah demi langkah membawa mereka semakin dekat, tanpa obrolan. Banyak hal yang ingin Adi tanyakan, tetapi masih ia pikirkan. Harus 'kah ia bertanya?


"Gangguan psikopati pada Ana waktu itu tiba-tiba gak ke kontrol," jelasnya tiba-tiba, membuat Adi langsung memasang telinga dan mendengarkannya.


"Nuri itu cantik."


"Sampai-sampai ... seseorang yang Ana suka malah menyatakan cinta padanya," lanjutnya.


"Itu sebabnya dia ngedorong Nuri?"


Alisa menggeleng, berhenti melangkah lalu menatap Adi yang kini juga menghentikan langkahnya.


"Seorang psikopat tidak akan bahagia dan tinggal diam, ketika ia melihat seorang yang tidak ia suka bahagia," tuturnya seraya menatap datar Adi.


Adi diam. Berusaha menerka-nerka, ada apa sebenarnya?

__ADS_1


"Jika kamu mengetahui Ana adalah psikopat, mengapa tidak kamu jauhi?"


Alisa diam, menatap Adi untuk beberapa saat, baru setelah itu ia melanjutkan langkahnya. Lagi-lagi Adi di buat bingung.


Adi menghela napas, lalu membuangnya kasar. "Semoga aja gua masih sehat wal afiyat pas pulang dari sini," gumamnya, kemudian kembali berjalan, mengikuti Alisa.


Sedikit tercengang, Adi melihat Alisa yang asal masuk ruangan, membuat Adi mempercepat langkahnya lalu berucap. "Bukan di sana, tapi di sebelahnya," ucapnya, kemudian terkekeh.


Adi melangkah masuk ke dalam kelas 12 tata busana, di ikuti Alisa di belakangnya. Sesaat, Adi tersenyum tipis kala ia melihat Nuri di tempatnya.


"Mau ngobrol sama Nuri?" Adi menawarkan, tetapi Alisa malah diam.


Sedetik kemudian, Alisa tersenyum. "Emang bisa?"


Adi mengangguk, "bisa."


Adi menoleh ke arah Nuri, lalu menganggukkan kepalanya, lagi. Sedetik kemudian, Adi memejamkan matanya sesaat, lalu tersenyum aneh.


"Halo, Alisa ...," sapanya pelan, membuat Alisa membelalakkan matanya tak percaya.


Jadi ... memang beneran bisa, ya?


"Adi?" Dua orang tiba-tiba masuk seraya memanggil Adi. Ya, Risa dan Yono. Mereka masuk, dengan napas tersengal-sengal karena berlari. Kedua pasang mata tersebut membelalakkan matanya tak percaya, ketika melihat Adi yang sepertinya sedang tidak dalan keadaan normal.


Dengan buru-buru Yono mendekat, berjaga agar tidak ada sesuatu hal yang tidak di inginkan terjadi.


"Ada apa ini?" Risa bertanya, menatap Alisa yang terlihat sedikit memucat.


"Tadi ... Adi nawarin aku buat ngobrol sama Nuri," jawabnya ragu.


Mendengar jawaban itu, Risa dan Yono menghela napas lega. "Gua pikir kerasukan," ucap Yono.


"Lanjut dah, kita pantau!"


🦋🦋


"Gak lama lagi ujian praktek."


"Terus kelulusan, dan setelahnya acara perpisahan."


"Perpisahan enaknya ngapain?"


Sekumpulan anggota OSIS, ketua dan antek-anteknya kini sedang mengadakan rapat dadakan, mengingat tak lama setelah ini kelulusan akan segera tiba.


"Brunch party?"


"Bakar-bakaran aja, gimana?"


"Pensi eksklusif aja euy, gimana?"


Satu per satu saran dari seluruh anggota membuat ruang rapat saat ini terdengar semakin bising. Dan pastinya, menjadikan sang ketua OSIS semakin bingung karenanya.

__ADS_1


"Di gabung aja, gimana?"


Sampai satu kalimat dari salah satu anggota OSIS membuat Rizal, sang ketua OSIS itu mengangguk. Sesaat ia berpikir, lalu bertanya. "Gimana?"


__ADS_2