
Hari yang di tunggu kini tiba. 3 Syawal, tepatnya pukul 19.20 WIB. di cafe C'brand yang masih bertuliskan 'closed' di jendela.
Para pegawai yang di minta untuk masuk sehari saja, sedari tadi sudah asik bergelut dengan peralatan masaknya. Di sana sudah terdapat Wulan dan Liya yang sedang memandu, dengan Aldi di sekitarnya sedang melihat gerak-gerik mereka
"Ngapain sih lo ikut berangkat jam 6 tadi?!" Tanya Wulan sedikit kesal. Gadis itu selalu saja menggerutu, dengan tangan yang sudah lihai mencampurkan bahan-bahan.
"Afif aja gak ada tuh ngintil-in gue!"
Liya terkekeh seraya berjalan menghampiri Aldi yang kini sedang bersidekap. "Dia kenapa, sih?"
Terlihat Aldi mengedikkan bahunya tak tahu, kemudian ikut terkekeh.
"Pacaran mulu lo berdua! Liya! Bantuin gue, kek!"
Liya yang di teriaki kini malah terkekeh geli, kemudian berbisik pelan di telinga Aldi. "PMS, keknya! Tinggal dulu, ya! Takut maung-nya ngamuk, soalnya pawangnya gak ada!"
"Ck, gue denger, ya!"
🦋🦋
Akhirnya semua kini sudah selesai. Liya dan Wulan saat ini bisa bernapas lega karena seluruh hidangan sudah tersaji di atas meja. Wulan, Liya dan Aldi kini duduk di atas kursi yang mereka buat posisi melingkar. Tak lama, Habil datang, kemudian di susul oleh Aditya.
"Hallo ... apa kabar lo pada?" Seru Aditya seraya mendekat dan ber-tos ria.
"Gue sih baik, kalo yang onoh gak tau, ya!" Jawab Liya seraya melirik Habil yang sedang memasang wajah datarnya.
"Baik gue!"
Tawa mereka berempat langsung terdengar saat Habil menjawab dengan nada ketusnya.
"Pasti baik, lah! Orang bengkel yang di urusin aja lancar jaya gitu!"
"Yoii, gue aja kalah saing!" Jawab Aldi yang langsung dapat lirikan tajam dari Habil.
__ADS_1
"Lo apa kabar, Lan?"
Wajar saja Adi bertanya. Sejak kelulusan SMK, dia memutuskan untuk masuk ke universitas luar kota, dan baru kali ini ia bertemu kembali dengan teman-teman lamanya ini.
"Lo gak liat pipi gue ngembang gini? Udah pasti dong, gue bahagia selalu!"
"Bahagia sih bahagia. Giliran galau aja gue yang jadi korban!" Protes Liya sengaja, membuat beberapa kekehan terdengar.
"Yang lain mana, nih?"
Mendengar pertanyaan dari Adi, kini Habil melihat jam tangannya. "Biasa, udah ngaret 10 menit!"
Baru saja Habil diam, satu mobil merah kini memasuki area parkir cafe yang membuat semua mata tertuju pada si kemudi.
"Miko, tuh!" Ucap Wulan.
Adi hanya manggut-manggut, kemudian berucap. "Bodo amat, sih. Bukan Ayang gue juga!"
"Loh? Yulia bukan sih?"
Liya berseru, ketika ia melihat Yulia yang kini sedang berjalan mendekat, seraya menggandeng lengan Miko.
Kening Habil, Adi, Liya dan. Wulan kini mengernyit heran. Kok bisa?
Sedangkan Aldi, ia tidak peduli.
Hingga jarak antara meja dan Yulia kini hanya menyisakan 3 meter. Yulia dan Miko diam sejenak, tanpa melepaskan gandengannya.
"L-lo kok bisa sama Miko?" Tanya Liya sedikit terbata.
Tak ada jawaban, hingga Adi berucap. "Oh ... mungkin karena searah!"
"Tapi kan bisa minta jemput gue, kenapa Miko?"
__ADS_1
Skakmat!
Disaat mereka sedang panas-panasnya, kini Afif tiba-tiba datang tak tahu kondisi. Dengan tingkah tak tahu dirinya, ia mengetuk pintu kaca cafe tersebut, membuat yang ada di dalam sedikit terkejut.
Di tambah lagi, Afif berjalan masuk menerobos di tengah Miko dan Yulia, membuat gandengan tangan mereka terlepas.
"Assalamualaikum Yaa ahli baiti ...."
Ucapan Afif yang awalnya lantang, kini berubah menjadi pelan. Sepertinya ia baru sadar jika saat ini, cafe sedang dalam kondisi tak enak.
Afif melihat ke arah meja dan Yulia secara bergantian, kemudian terkekeh pelan. Ingin mengusir rasa canggung yang ada, batinnya.
"Udah, jangan bengong mulu!" Ucap Afif berusaha membuyarkan kesunyian.
"Wehh ... apa kabar, Bro?" Ucap Afif, seraya bersalaman dengan Adi. "Makin jelek aja lo!"
Adi terkekeh, kemudian mengangguk. "Jelek gini banyak yang naksir!"
Di kursi lain, Yulia dan Miko baru saja duduk berdampingan. Terlihat baju couple yang mereka pakai, cukup menjawab segala keingintahuan teman-temannya.
"Makan dulu kali, ya? Baru ngobrol?" Saran Wulan, seraya menatap satu-per-satu temannya.
Tak lama dari itu, Suara deheman dari seseorang kini membuat semua mata memandang dirinya.
"Boleh gue ngomong dulu sebelum makan?"
Seluruh mata menatap Yulia dengan raut wajah yang berbeda-beda. Habil dan Aldi dengan wajah datarnya, Wulan dan Liya dengan wajah bingung, Adi dengan wajah ingin tahu dan Afif dengan wajah semangatnya.
"Ngomong aja, Ya!" Ucap Afif menggebu-gebu.
Teman-temannya sampai tak paham lagi, kok bisa Afif bertingkah seperti ini?
Yulia tersenyum tipis, kemudian menatap satu-per-satu wajah temannya. Kemudian mulai membuka suara.
__ADS_1
"Sebenernya gue udah pacaran sama Miko sejak setahun yang lalu."