Still You

Still You
Kapan Penelusuran?


__ADS_3

Bel istirahat sudah berbunyi sejak sepuluh menit yang lalu. Seperti biasa, suasana kantin memang tidak pernah sepi pengunjung. Yulia, Wulan, Liya, Adi, Habil dan ketiga temannya pun turut meramaikan suasana kantin saat ini.


Dan itu pasti.


Siapa yang tidak mau mengunjungi kantin di jam istirahat?


Mungkin hanya 1 di antara 10.


Suasana kantin yang cukup ramai, di tambah lagi Miko yang sedang duduk di atas meja, dengan sebuah gitar di pangkuannya. Seringkali ia memetik gitar tersebut, seraya bernyanyi asal.


"Yang bener dong lo kalo gitaran!" Protes Afif, membuat Miko memutar bola matanya malas.


Miko mengabaikan, tetap memetik gitarnya asal dan bergumam tipis dengan sedikit nada.


Di detik berikutnya, Miko berhenti memetik gitarnya, mencoba untuk memberikan tawaran kepada Wulan.


"Lan," celetuk Miko memanggil seraya menatap Wulan yang sedang sibuk dengan minuman di depannya, lebih tepatnya di meja sebelah.


"Hm?" Jawabnya dengan tatapan polos, sedikit kaget. Bibirnya masih menempel dengan sedotan.


Afif yang berada di dekat Aldi dan Miko itupun refleks menoleh ke arah Wulan juga. Sedikit kesal karena Miko memanggilnya seperti itu.


"Lo nyanyi gua gitar-in, gimana?"


Bukannya langsung menjawab sesuai dengan kemauannya sendiri, Wulan malah melirik ke arah Afif yang juga sedang menatapnya.


Sikapnya beberapa hari ini sedikit berbeda terhadap Wulan. Ah, lebih tepatnya Afif tidak se-menyebalkan kemarin-kemarin.


"Boleh, tuh. Wulan mau!" Celetuk Liya, membuat Wulan membelalakkan matanya tak terima.


Wulan menggeleng, "malas gua, Mik!"


Miko menghela nafasnya, kembali memetik asal gitarnya. Sebuah ide jahil terlintas di benaknya, membuat seringai-an jahilnya terpampang di wajah tampannya.


"Guys!" Teriak Miko, membuat seluruh atensi siswa-siswi yang berada di kantin kini diam dan menatap heran ke arah Miko.


"Setuju gak kalo si Aldi sama Liya duet? Nyanyi gitu, buat pajak jadian!" Serunya penuh semangat, membuat Liya membelalakkan matanya tak terima, sedangkan Aldi hanya menatap Miko datar.


"Setuju!" Mereka menjawab kompak.


"Sok lah!"


"Jangan, euy! Suara Liya cempreng gitu," celetuk salah satu siswa.

__ADS_1


Habil, yulia dan teman-temannya yang sedikit terkejut pun, mereka mencari sumber suara tersebut, dan terlihat lah Adam di sana. Memasang wajah tanpa dosanya.


"Wah, parah lo, Dam!" Celetuk Wulan, "tapi emang bener, sih!" Lanjutnya, kemudian tertawa di ikuti dengan tawa dari yang lainnya.


Liya mendengus, menumpu dagunya di atas meja dengan tangan kirinya. Matanya sesekali melirik Aldi yang juga meliriknya.


Seperti tidak di restu-i saja, harus saling lirik seperti ini.


Setelah beberapa menit kemudian, suasana kantin pun sudah menjadi tenang. Beberapa siswa-siswi yang berada di kantin pun, satu-per-satu mulai bepergian.


"Men, cabut dulu, ye!" ucap Miko kepada Adi, yang hanya di jawab lambaian tangan olehnya.


Setelah di rasa suasana kembali tenang, Adi menatap Yulia, Wulan dan Liya. Seperti ada sesuatu yang ingin di bahas.


"Jadi, gimana soal tawaran gua kemarin? Mau kan? Nanti pas sekolah udah sepi, rencana nya mau penelusuran di area sekolah."


Adi membuka suara, membuat Yulia, Wulan dan Liya menatapnya. Yulia bimbang, ingin bercerita tentang apa yang ia lihat, tapi tak yakin.


"Tenang aja, ijin ke pihak sekolah udah di atur!"


"Gimana?" tanyanya sekali lagi.


Yulia menatap Adi, bersiap-siap untuk bercerita. Tangannya memainkan sedotan di gelasnya, memutar-mutar sedotan tersebut sesuka hatinya.


Adi mengeryit bingung, "Nuri?"


Sekali lagi, Yulia menghela nafas panjang, lalu membuangnya kasar. "Gua ngeliat Nuri kemarin!"


Kalimat tersebut membuat Wulan, Liya dan terutama Adi membelalakkan matanya kaget. Benar 'kah?


"Banyak darah, kalimat lirih dan minta tolong!" Lanjutnya.


"Itu ... sosoknya setelah dia meninggal," jelas Adi seraya menganggukkan kepalanya.


Yulia menatap Adi, begitupun Wulan dan Liya. Sedikit merinding, Yulia berusaha mengontrol suaranya agar tidak berujar terlalu keras.


"Tapi kenapa? Gua bahkan bukan indigo!"


"Ayo lah, Ya. Yang bisa liat begituan bukan cuma indigo kek gua!"


Kalimat itu membuat Yulia kembali menghela nafas. Benar juga, pikirnya.


"Sosok itu bisa nampak-in diri ke siapapun selama dia mau dan ada tenaga lebih!" Lagi, Adi berujar.

__ADS_1


"Tapi gua bingung, kenapa dia nampak-in diri ke gua?" Tanya Yulia, membuat Adi mengedikkan bahu tidak tahu.


"Biasanya ... satu sosok yang berani nampak-in wujud asli ke manusia itu ada hal penting yang --"


"Dia minta tolong!" Potongnya.


"Minta tolong?" Adi mengulang, takut salah dengar. Pertanyaan itu membuat Yulia langsung mengangguk mengiyakan.


"Padahal ada lo, Di! Kenapa ke gua?"


"Kenapa dia mau buang-buang energi buat minta tolong ke gua padahal ada lo yang bisa liat?"


Yulia seakan frustasi, mengingat wujud seram dari sosok Nuri kemarin. Ingatan tersebut belum juga hilang, membuat Yulia sedikit pusing karena terus-menerus memaksa dirinya untuk menghilangkan ingatannya.


"Mungkin ada suatu hal yang bisa narik Nuri buat minta tolong ke lo," tebak Adi asal.


"Tapi apa?"


"Gua belum tau."


Lagi-lagi Yulia mendengus, menoleh ke samping, membuatnya dapat melihat Wulan dan Liya yang sedang diam menontonnya.


"Ck!" Decak Yulia pelan.


"Kalo gitu, nanti lo harus ikut gua buat penelusuran di sekolah! Nanti kita cari Nuri, pasti ada."


Yulia tercengang, sedikit mengumpat di dalam hati. Yulia ingin jauh dari sosok Nuri, tetapi malah di ajak untuk mencarinya?


"Tenang aja, ada gua dan tim gua juga," ucap Adi menenangkan, membuat Yulia mengangguk ragu.


Setelah itu mereka diam, bergelut dengan pikirannya masing-masing.


"Adi, Neng Yulia," sapa penjaga kantin tiba-tiba. "Wulan, Liya!" lanjutnya di iringi senyuman tipis yang langsung di balas senyuman oleh ke empatnya.


"Iya, Teh?" Tanya Adi.


"Bel masuk teh udah bunyi dari tadi, kantin oge udah sepi. Teu aya niatan balik ka kelas?"


Sontak kalimat dari penjaga kantin tersebut mengagetkan Yulia, Adi, Wulan dan Liya. Se-serius itu 'kah mereka membahas Nuri? Sampai bel masuk saja tidak terdengar.


Mereka saling tatap, "Waktunya Bu garang, anjim!" serunya kompak seraya melotot.


"Makasih, Teh! Kita ke kelas dulu, ya!" ujar Adi, kemudian berlalu mengikuti ketiga temannya yang sudah berlari mendahului nya.

__ADS_1


"Yulia, Wulan sama Liya emang gak ada akhlak. Masak gua di tinggal?"


__ADS_2