
Hari demi hari, Minggu ke bulan, bulan ke tahun. Semuanya berjalan dengan cepat, terasa begitu cepat, kecuali ketika sedang dalam masalah dan bersedih.
27 Ramadhan. Hari ini, grup chat yang sudah beberapa bulan ini kosong, kini terasa hidup kembali ketika satu-per-satu dari mereka mulai hadir meramaikan.
Afif.
Bukber lah hayuk!
Miko.
Udah tua, bukber mulu yang di pikirin. Sekali-kali, mikir buat ....
Wulan.
Nikahin saya.
Respon Wulan yang spontan tersebut membuat semuanya, kecuali Afif terbahak di tempat. Wulan yang mengetik itu dengan spontan pun, ia kaget.
Habil.
Udah di kode, Bro. Gas dah!
Liya.
Uhuk uhuk
Aditya.
Uhuk^2
Miko.
Bau-bau nya ada yang di kode tapi gak peka, nih.
Aldi.
Turu, wahai menungso.
Afif.
Diem lu pada. Bulan Syawal gua nikah!
Hening.
Semakin kaget, hingga tak ada yang ingin merespon. Hingga akhirnya Wulan kembali membalas dengan jawaban yang tak kalah mengejutkan.
Wulan.
Di tunggu, ya.
wulan.
Maharnya.
Setelah percakapan di grup chat tersebut, kini kembali hening. Kembali sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Bahkan, rencana bukbernya kini hanya menjadi sebagian dari rencana Ramadhan ditahun ini.
Tiga hari lagi sudah memasuki hari raya idul fitri, membuat kebanyakan orang bersiap-siap karenanya. Membeli baju baru, sandal baru, atau bahkan uang baru.
__ADS_1
🦋🦋
Bersamaan dengan itu, Yulia kini berjalan kearah luar bandara. Sesampainya di luar, kepalanya menoleh kesana-kemari seakan mencari keberadaan seseorang.
Setelah 5 menit menunggu, sebuah mobil kini berhenti di dekatnya.
Pepp pepp!
Suara bel mobil tersebut membuat Yulia menoleh, kemudian mendekat. Senyuman tipis terukir kala kaca mobil perlahan terbuka.
Yulia membuka pintu mobil tersebut, kemudian ia masuk dan menutup pintunya kembali.
"Lama nunggu, ya?"
Yulia berdeham, seraya memasang sabuk pengaman. "Ayo jalan!"
Seorang di sampingnya mendengus, kemudian mulai menjalankan mobilnya. "Dikira gua supir lo kali, ya?"
"Emang."
Terlalu ketus, membuat seseorang di sampingnya berkali-kali menghela napas berat.
25 menit perjalanan, kini mereka sampai. Rumah minimalis bernuansa langit, yang tentunya sudah banyak berubah dari sebelum ia pergi.
Yup, rumahnya.
"Lo gak bawa sugar daddy buat nginep disini, 'kan?" Pertanyaan Yulia yang menggema membuat Alisa mendengus. Yup, Alisa lah yang sedari tadi ada di sampingnya.
Alisa berjalan ke arah sofa, lalu duduk di sana. "Kebetulan udah 12 sugar daddy sih yang udah pernah gua ajak nginep disini."
Diikuti oleh Yulia yang duduk di sofa yang lain. "Mana tema nya jadi serba biru lagi!" Protesnya dengan mata yang sedang mengoreksi seisi rumahnya.
Alisa memutar bola matanya malas. Ia menghela napas panjang, lalu membuangnya kasar.
"Lo di sana ngapain aja sih, Ya? Pulang-pulang tuh jadi dermawan kek, bukannya malah bawel!" Protes Alisa.
Yang di protes malah mendengus, kemudian menyenderkan punggungnya ke senderan sofa.
"Mama lo kapan pulang? Kenapa gak ikut balik?"
Yulia mengedikkan bahunya acuh, diiringi dengan mata yang perlahan menutup. "Masih ngurusin anaknya kali."
Alisa mengerutkan keningnya tak paham, "anak?"
"Hm ... anak perusahaan."
Bugh!
Yulia membuka matanya kala ia merasakan sebuah bantal mendarat mengenai wajahnya. Ia menatap Alisa, seraya menaikkan sebelah alisnya. "Naon sih?"
"Sana istirahat! Biar besok bisa temuin temen-temen lo yang udah rindu berat tuh sama lo!"
"Empat tahun gak ketemu, udah males gua, Tan."
🦋🦋
06.00 WIB.
__ADS_1
Seperti biasa, sinar matahari kini masuk kedalam kamar pribadi milik Habil, membuat sang pemilik kamar kini menggeliat tak nyaman. Jangan salahkan bundanya yang sejak pagi tadi sudah membuka gorden kamarnya.
Salahkan saja Habil yang tak mau bangun dengan alasan mengantuk.
Habil menguap, sedangkan tubuhnya kini sedang menggeliat guna merenggangkan otot-ototnya. Tak lama kemudian, ia duduk. Pikirannya terbang entah kemana, sedangkan matanya berkedip-kedip guna mengumpulkan nyawanya yang seakan belum terkumpul.
Ting!
Ting!
Ting!
Suara berisik dari ponselnya kini mengalihkan atensinya. Habil mencari ponselnya, kemudian meraihnya.
Afif.
Batalin puasa enak nich.
Afif.
Batagor sama mpek-mpek enak mana ya?
Aldi.
@Wulan
Habil terkekeh di tempat, kemudian meletakkan ponselnya asal. Ia turun dari ranjang, kemudian berjalan keluar dari kamarnya.
"Morning, Bunda!"
Habil berjalan lunglai kearah dapur, dimana Ani kini sedang mengiris wortel.
"Pagi juga, Anak bunda."
Masih terus mengiris, mengabaikan Habil yang kini sedang berdiri di sampingnya.
"Bun," panggilnya.
"Bunda!" Lagi, Habil memanggil Ani, seraya memainkan wortel utuh yang belum sempat Ani iris.
"Kenapa?"
Ani bertanya tanpa menoleh, sedangkan Habil masih asik dengan wortelnya.
"Wortel buat apa, Bun? Bunda gak puasa?"
"Puasa," jawab Ani singkat. Ia terus melanjutkan aktivitas nya, berusaha mengabaikan putera tampannya yang akhir-akhir ini selalu mengganggu dirinya dengan kalimat yang sama.
"Menurut Bunda ...,"
"Kira-kira Yulia kapan pulang, ya?"
"Masih inget Habil gak, ya?"
"Terus ... kira-kira nanti bakal hubungin Habil gak ya, Bun?"
Tak ada habisnya Habil berucap, hingga kini Ani menoleh.
__ADS_1
"Apa yang bakal kamu lakuin kalo tiba-tiba nanti Yulia dateng?"