Still You

Still You
3 Pria Kurang Ajar.


__ADS_3

Yulia A.S.


Perumahan Asri, gang Apel, rumah nomer 25.


Adi membuka balasan pesan dari Yulia, membacanya lalu bersorak kegirangan.


"Yes!"


Sedetik kemudian Adi merebahkan tubuhnya di atas kasurnya, memejamkan matanya sejenak lalu menghela napas penuh harap.


"Semoga aja ke-khawatiran gua cuma sebatas ketakutan gua aja, Ya!" Gumamnya.


Sesaat kemudian, ponselnya bergetar terus-menerus, tanda ada seseorang yang menelponnya. Adi membuka matanya, meraih ponselnya lalu mengangkat sambungannya.


"Yeoboseyo?" Ucap Adi berniat menggoda seseorang di seberang sana. [Halo]


Terdengar sebuah tawa pelan di seberang, membuat Adi yakin jika seseorang itu sedang tersipu malu karena ulahnya.


"Kenapa? Tumben telpon?" Tanya Adi setelah tertawa tanpa suara.


"Itu ...," ucapnya menggantung.


Adi mengeryit bingung, memikirkan kemungkinan yang ada.


"Apa? Tugas?" Tebaknya.


"Atau mau minta saran tentang album BTS? Mau beli?"


Di tempatnya, gadis itu menggeleng, mengerucut sebal. "Bukan, ih!"


Adi terkekeh, ingin mencoba menebaknya lagi. "Kangen aku nih pasti."


Kalimat Adi tersebut membuat gadis di seberang sana tersipu, pipinya sedikit memerah menahan malu.


Tak lama setelahnya, terdengar gumaman pelan darinya, membuat Adi tertawa. "Haha, becanda, Risa!"


Ya, gadis yang sedari tadi menelpon adalah Risa. Entah apa tujuannya menelpon, tetapi Adi suka menjahilinya. Menggemaskan.


"Kenapa, hm?" Tanya Adi. Entah mengapa gadis itu terus saja diam. Ada apa, ya?


"Soal Nuri," cicitnya, tetapi masih bisa terdengar jelas.


Adi mengangguk, "Nuri kenapa?"


Sedetik kemudian, terdengar suara Risa yang kini sedang berdeham, "m-maksudku ... tentang Yulia. Kapan kamu nyelidikin lebih dalam?"


🦋🦋


Keesokan harinya, cuaca mendung membuat Adi terlalu nyaman, hingga ia baru saja bangun dari tidurnya, sejak tiga puluh menit yang lalu. Awan-awan yang sedang berkumpul di langit, berwarna abu-abu kehitaman yang sepertinya siap menumpahkan kesedihannya dari atas.


"Hm, mendung!" Gumamnya.


Penampilan yang sudah siap dengan celana jeans pria berwarna hitam, hoodie hitam, masker hitam dan juga topi berwarna hitam. Adi memasukkan kedua tangannya ke dalam saku hoodie-nya, menimang-nimang, apakah ia pergi hari ini atau tidak (?)


"Jalan gak, ya?" monolognya di depan pintu kos seraya menatap awan yang mendung.

__ADS_1


"Ck," decak nya seraya mengambil ponsel dari saku kirinya, kemudian melihatnya.


Adi membuka pesan yang baru saja masuk, kemudian membacanya. Terdengar dengusan kasar darinya, sedetik kemudian ia kembali memasuki kos-nya.


"Teu jadi!" Teriaknya sebal seraya berjalan menuju sofa, lalu duduk.


Yulia A.S.


Jangan ke rumah gua hari ini, gua ada urusan.


Adi mengingat pesan barusan, kemudian menghela napas. "Niat jelek emang gak pernah di restu-i Tuhan, ya?"


"Enggak-enggak!" Monolognya seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Bukan niat buruk," lanjutnya menjeda. "Tapi cuma mau mastiin!"


Anggap saja saat ini Adi adalah orang yang kurang waras karena kasus Nuri yang terus saja mengganggu pikirannya.


"Adi kenapa?"


Adi sedikit terkejut, menoleh ke bagian pojok lalu mengelus dadanya. "Astaga, kaget!"


Nuri sedang ada di sana, menatap Adi dengan ekspresi tersakiti.


🦋🦋


Cafe C'Brand saat ini sedang ramai-ramainya, dengan pesanan terbanyak adalah kopi dan teh hangat. Karena suasana luar yang sedang hujan, orang-orang berteduh di dalam dan memesan untuk sekedar menghangatkan badan yang semakin terasa dingin.


"Selamat datang, selamat pagi, Mas. Mau pesan apa?" Hari ini Yulia turun tangan, menemui pelanggannya sendiri dan harus selalu tersenyum.


Tiga orang pelanggan di depannya menyeringai, menatap Yulia yang kini semakin risih. "Mau pesan apa, Mas?" Lagi, Yulia bertanya dengan nada yang sedikit di tekan.


"Tapi di temenin kamu, ya?" sambung yang satunya, kemudian tertawa.


Yulia menghela nafas, berusaha mengabaikan dan mencoba sabar. "Pesan apa lagi?"


Mereka terkekeh, menyeringai ketika melihat Yulia yang sepertinya tak mau di goda. "Pesan kamu, bisa?"


Refleks, Yulia menatap seseorang yang berucap tak sopan tersebut, menatap tajam, kemudian sedikit menggebrak meja di depannya, membuat ketiga lelaki itu tertawa. "Marah, guys!"


"Mau lo apa?"


Datar, tanpa nada. Yulia menatap tajam ketiganya, bukannya takut, mereka malah terkekeh mengejek. "Weh sama pelanggan gak boleh gitu, gak sopan."


Yulia terkekeh meremehkan, menghela napas, kemudian membuangnya. Pandangannya menatap pria bertopi yang baru saja berbicara.


"Lo cantik, jadi tunangan gua mau, gak?" tanya salah satu dari mereka yang sedari tadi memang terlihat menantang, dengan hoodie biru yang ia pakai.


Yulia menoleh, menaikkan sebelah alisnya, lalu mendekatkan wajahnya dan berbisik. "Udah se-cakep Kim Tae-Hyung, belum?" bisiknya, kemudian kembali menjauhkan wajahnya.


"Pulang lo pada, nyampah!" Umpat Yulia, kemudian berbalik. Baru satu langkah melangkah, suara berat menyebalkan itu kembali terdengar.


"Cih!" Pria itu berdecih. Yulia berhenti, berbalik lalu menatap pria yang kini sudah berdiri.


Seluruh pasang mata kini tertuju padanya, mengabaikan bisikan-bisikan dari pelanggannya.

__ADS_1


"Mana manager lo?"


Yulia menyeringai, menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya, bersedekap.


"Punya pegawai gak guna gini," lanjutnya.


"Gak sekalian pengen ngomong sama owner?" Tanya nya menantang, seraya menaikkan sebelah alisnya.


"Minta maaf lo, mumpung belum di pecat sama bos lo!" ucap temannya, membuat Yulia terkekeh seraya menggeleng pelan.


"Ada apa, Ya?"


Untung saja Wulan datang, memakai seragam pegawai sama seperti Yulia. Wulan menatap tiga pria di depannya, kemudian kembali menatap Yulia.


"Kenapa?"


"Bilangin sama temen lo, kalo jadi waiters jangan belagak jadi bos!"


Wulan mengeryit bingung. Ada apa? Pasalnya, yang Wulan tahu, Yulia selalu merendah dan tidak pernah menyombongkan dirinya sebagai bos. Tapi ada apa? Ia baru saja sampai.


Wulan mengedarkan pandangan, menatap siapapun yang sedang menatapnya. Berniat mencari jawaban, tetapi tak menemukannya.


"Gini ya, mas. Temen saya ini gak pernah buat yang aneh-aneh di sini. Jadi, kalau pun ada keributan, berarti mas yang mulai."


Sesaat sebelum pria itu membuka mulut, Wulan buru-buru menyelanya. "Dan satu lagi!"


"Dia memang bukan bos yang mas maksud, tapi owner!"


Ciut. Tiga pria itu terlihat terpojok dan malu. Wulan melirik Yulia yang sepertinya sedang tidak baik-baik saja, dengan segera Wulan menatap tiga pria di depannya.


Dua pria dengan tak tahu sopan santun dan satu pria yang sedari tadi diam.


"Kalian liat tiap sudut atap ruangan cafe ini?" Refleks, ketiganya melirik ke sudut atap, terdapat CCTV di sana.


Wulan menyeringai, "Pergi atau saya yang bawa kalian ke kantor polisi? Kebetulan Om saya polisi."


🦋🦋


"Hahaha ... anjir bisa-bisanya lo sarkas!" Puji Liya dengan tawanya.


Yulia, Wulan dan Liya sedang duduk di salah satu meja kosong di cafe milik yulia. Yulia yang masih terlihat murung, menatap lurus dan kosong.


"Udah, jangan di inget!" Ucap Wulan seraya mengusap punggung Yulia.


Liya mengangguk, "gak guna kalo lu pikirin. Mending mikirin Habil, ya 'kan?"


Yulia menoleh, sedangkan Wulan menatap heran. "Habil?" Tanya nya serentak.


Liya mengangguk, membuat kedua temannya mendengus.


"Gua nyuruh Aldi ke sini, mungkin dia ajak Habil juga sih, hehe!" ucapnya di iringi cengiran.


Lagi-lagi Yulia mendengus, sedangkan Wulan terkekeh geli. "Udah, gak papa! Asal gak ngutang, Ya."


"Pagi!"

__ADS_1


"Eh, ini pagi atau udah siang, ya?"


"Lagi ngapain? Gibah-in gua pasti!"


__ADS_2