Still You

Still You
Jam Kosong.


__ADS_3

"Ya!" Panggil Adam tiba-tiba. Ia berjalan cepat menuju bangku Yulia, membuat sang empunya menatapnya heran.


"Gua semalem ngeliat si Habil jalan sama cewek," adunya, membuat Yulia seketika mengernyit.


"Terus?"


"Lo gak jealous?" Tanya Adam dengan nada sedikit kesal.


Yulia mengedikkan bahunya acuh, kemudian menyenderkan tubuhnya ke senderan kursi. "Gua temennya, bukan ceweknya!"


Adam mendengus, sedangkan Wulan dan Liya memutar kedua bola matanya malas.


"Udah, minggir lo! Jangan jadi kompor!" Usir Wulan dengan menekan kata terakhir. Sedetik kemudian, Adam mendesis dan berlalu.


"Gimana hubungan lo sama Aldi, Li?" Tanya Yulia setelah mengubah posisinya menghadap ke belakang.


"Hah?" Liya menoleh, meninggalkan sejenak aktivitas mengetik di laptopnya. "Apa?"


Yulia mendengus, "hubungan lo sama Aldi!"


Liya berfikir, memikirkan jawaban yang cocok untuk di lontarkan.


"Biasa aja," jawabnya singkat, kemudian kembali melanjutkan aktivitas mengetik yang tertunda.


"Ngapain sih, lo?" Tanya Wulan, tetapi malah di abaikan oleh Liya. Wulan kesal, tetapi masih mencoba untuk bersabar. "Li!"


Liya berdeham sebagai jawaban, matanya masih setia menatap layar laptop dan tangannya mengetik dengan lincah di sana.


"Liya!" Panggilnya sedikit berteriak seraya menutup laptop milik Liya asal, membuat sang empunya membelalak tak terima.


"Wulan!" Teriaknya seraya menatap jengkel.


Bukannya takut, Wulan malah menatapnya menantang, kemudian mengulang dengan nada mengejek. "Wulan!"


"Ngeselin ya, lo!"


Semakin menjadi, Wulan me-meletkan lidahnya mengejek. Yulia yang melihatnya pun, ia hanya terkekeh geli melihat kelakuan kedua temannya ini.


"Lagian sih, ngapain lo bawa laptop ke sekolah?"


Liya berdecak, membenarkan posisi laptopnya, kemudian kembali melakukan aktivitas mengetik yang sempat terganggu.


"Tuh kan, gara-gara laptop, gua di kacangin tau gak?" sebalnya.

__ADS_1


"Sensi banget, Lan?" Celetuk Yulia bertanya, sedangkan Liya menghela napas panjang, sedetik kemudian ia membuangnya kasar.


"Lo tau kan, beberapa hari ke depan bakal jam kosong? Apa salahnya kalo gua bawa laptop?"


"Bukan laptop hasil nyuri ini, 'kan?" Lanjutnya dan kembali mengetik.


Wulan mengabaikannya. Di dalam hatinya, ia mengakui bahwa itu benar. Sah-sah saja jika Liya membawa laptopnya ke sekolah agar bisa menuntaskan ceritanya. Lagi pula, sampai Ujian Nasional senin depan, seluruh pelajaran kelas 12 akan di kosongkan, sebagai bentuk mengistirahatkan otak.


"Udah, Lan. Darah tinggi lo lama-lama," ucap Yulia seraya terkekeh.


"Iya emang, Liya gak usah di temenin!" Candanya. Matanya menoleh kesana-kemari mencari seseorang. "Adi mana? Tumben gak keliatan?"


Kalimat itu sontak membuat Yulia ikut mengedarkan pandangannya. Benar saja, ia tidak menemukan Adi di dalam kelas.


"Kantin, mungkin?" Tebaknya ngasal, membuat Wulan hanya mengangguk-anggukan kepalanya.


"Gua pengen ramyeon, deh!" Celetuk Liya tiba-tiba seraya menatap kedua temannya bergantian.


"Tiba-tiba?"


"Ngidam kali lo!"


Kemudian tertawa. Liya mendengus, bibirnya bergerak kekanan dan kekiri, tidak jelas.


"Ck, ngadi-ngadi!"


"Bodo! Yuk ah beli. Anggep aja ngidam," candanya yang langsung mendapat lemparan bolpoin dari Yulia.


"Sakit lo."


🦋🦋


Di sisi lain, di waktu yang sama. Adi sedang duduk di kantin, berkumpul dengan teman-temannya, Yono, Yanto, Risa, Agus dan Gunawan. Sedari tadi, mereka berkumpul seraya membahas apapun yang ingin di bahas.


Mulai dari hal penting, sampai tidak penting.


"Ujian Nasional kurang 4 hari lagi!" Seru Yono menggebu. Salah satu siswa terpintar di kelasnya, dengan ranking satu setiap tahunnya.


"Yah, gak asik lo! Masak lagi asik jajan bahas nya Ujian!" Protes Risa. Wajah cerianya berubah menjadi raut kusut penuh pikiran.


"Ya maaf," ucap Yono seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Parah emang si Yono!" Ucap Adi seraya menahan tawa.

__ADS_1


"Wah, iya. Parah emang," ucap Agus, juga menahan tawa, berniat mengompori.


"Marahin ae udah, marahin!" Tambah Yanto, membuat Yono mendengus.


"Kembaran gak ada akhlak!" Gumamnya pelan, tetapi masih terdengar. Sontak, hal itu membuat mereka tertawa, memancing seluruh pasang mata agar menatap ke arahnya.


Yono berdecak, pikirannya malah teringat akan sosok Nuri. Kalau di pikir-pikir, sosok Nuri ini memanglah aneh. Bagaimana bisa satu sosok rela membuang tenaga hanya untuk menampakkan dirinya, meminta pertolongan kepada seseorang yang tidak bisa melihatnya, sedangkan di sana ada seseorang yang bisa melihat atau bahkan membantunya?


"Ngomong-ngomong soal Nuri," celetuk Yono, membuat seluruh teman-temannya berhenti tertawa.


"Kenapa Nuri?" Adi bertanya, menatap Yono serius.


"Gua pengen cari tau, sebenarnya hubungan Nuri sama Yulia ini apa?"


Adi mengangguk, di ikuti Risa dan yang lainnya. "Gua juga pengen tau."


"Gua enggak," celetuk Gunawan asal, membuat Adi, Risa, Agus, Yono dan Yanto menatapnya jengah.


"Inget gak waktu gua bilang, gua pernah komunikasi sama Nuri dan dia bawa gua ke dimensi lain?" Risa dan Yono mengangguk, sedangkan yang lain diam memperhatikan.


"Gua ngeliat dengan jelas wajah dua kakak kelas yang nge-dorong Nuri!" Serunya sedikit berbisik, takut jika ada yang menguping.


"Serius lo?" Hampir saja berteriak, untung saja Risa bisa menahan suaranya.


Adi mengangguk, pikirannya kembali mengingat kejadian ketika Nuri di dorong. "Serius!"


"Kita tanya aja ke Yulia. Dulu punya saudara yang sekolah disini atau enggak!" Celetuk Agus yang membuat semua temannya baru sadar, betapa lama nya otak mereka berpikir, tetapi baru ada yang menemukan ide seperti ini.


"Bisa banget buat di coba!" Ucap Risa menyetujui. "Siapa tau Yulia kenal sama pelaku nya!"


Mereka mengangguk, tetapi Adi malah berubah menjadi risau.


"Gua aja yang nanya," celetuk Adi tiba-tiba.


Adi melihat teman-temannya yang sedang menatapnya heran, membuatnya menggeleng. "Cuma gak mau Yulia ngerasa di tuduh."


Risa mengangguk, "ya udah. Itu tugas lo!"


"Iye, bawel!"


"Pantes aja gak ada di kelas," ucap Liya sedikit mengeraskan nada bicaranya, berniat untuk menyindir Adi. Liya duduk di meja samping, di ikuti dengan Yulia dan Wulan di depan dan sampingnya.


Sontak, Adi menoleh. Di ikuti dengan Risa dan yang lainnya. Di detik berikutnya, Adi dan Risa saling tatap kemudian berbisik.

__ADS_1


"Mereka denger, gak?"


__ADS_2