
Habil berlari, meninggalkan Adi yang baru saja selesai menceritakan apa yang sudah terjadi. Adi tercengang, "kesandung mampus lo!" Umpat Adi pelan seraya menatap kepergiannya.
🦋🦋
Habil berlari menuju parkiran, padahal bel masuk baru saja berbunyi. Buru-buru ia menaiki motornya, kemudian berlalu meninggalkan halaman sekolahnya setelah berhasil menyogok beberapa satpam yang sedang berjaga.
Jarum jam terus berjalan, membuat Habil semakin memacu kecepatan berkendara. Ingatannya kembali mengganggu, kalimat penjelasan dari Adi beberapa waktu lalu kembali teringat.
"Panjang ceritanya," ucap Adi menjeda. "Yang jelas, adik mamanya Yulia di tusuk, jadi Yulia di rumah sakit."
"Malam itu, Yulia, gua dan beberapa temen lainnya ada satu misi. Salah satunya tantenya Yulia."
"Di luar perkiraan, orang itu malah nusuk Alisa dan beberapa sayatan di muka," lanjut Adi menjelaskan.
"Rumah sakit mana?" Tanya Habil. Ia melebarkan matanya, tanda jika ia sedang panik serta khawatir.
Saat ini, di atas motor Habil diam. Matanya menatap jalanan, pikirannya terbang memikirkan sesuatu yang mungkin saja terjadi. Kecepatannya semakin bertambah tanpa ia sadari, karena mata dan pikirannya yang tidak sinkron.
Beberapa detik setelah ia mempercepat laju motornya, Habil tersadar dari lamunan singkatnya. Mata panik karena Yulia, kini berubah menjadi panik terhadap dirinya sendiri.
Lampu merah yang kini baru saja berubah menjadi merah, membuat Habil tak mampu berhenti tepat pada alur zebra cross. Sedangkan dari arah kiri terdapat truk yang juga sedang ingin melintas.
Habil terkejut, ia panik. Matanya membulat, bersamaan dengan kakinya yang kini menginjak pedal rem, sekaligus menarik rem di tangannya Beberapa detik sebelum Habil sampai menabrak mobil tersebut, ia membelokkan motornya ke sembarang arah seraya menutup matanya rapat.
Brugh!
Habil melepaskan setir motornya, membuat dirinya terpental menjauh, sedangkan motornya menabrak mobil lain yang sedang berhenti karena lampu merah.
Kericuhan terjadi. Habil yang kini terkapar, matanya sedikit terbuka menatap beberapa orang yang menghampirinya dan sedetik kemudian ia pingsan.
"Panggil ambulance!"
"Cari informasi diri, hubungi keluarganya!"
Beberapa ucapan tersebut masih sempat ia dengar. Banyak orang mengerubungi dirinya, bahkan seseorang sudah mengambil alih tas yang ia bawa.
Liuliuliuliu ....
Suara ambulance terdengar nyaring. Menyuruh kendaraan di depannya untuk minggir dan menerobos lampu merah karena situasi darurat.
🦋🦋
Yulia tidak bisa diam. Berjalan kesana kemari seraya menatap Alisa yang masih saja belum sadarkan diri.
__ADS_1
"Kami sudah melakukan yang terbaik. Untung saja stok darah untuk pasien masih tersedia."
"Tetapi ... pasien masih di nyatakan koma."
Ingatannya kembali mengingat kalimat dari dokter kemarin malam. Sekali lagi, Yulia menatap Alisa yang sedang berbaring.
Krukk ....
Suara cacing di perutnya terdengar. Seakan sedang berdemo, Yulia berusaha menenangkannya dengan cara mengelus perut ratanya.
"Sayang ... gak sekolah, hm?"
Pertanyaan yang tiba-tiba terdengar tersebut membuat Yulia refleks menoleh ke arah pintu. Ine, mamanya sedang berjalan mendekat membuat Yulia sedikit tercengang.
"Hei?"
Yulia tersadar, kemudian tersenyum kikuk. "Libur, Ma!"
Setelah mendapat telepon dari pihak rumah sakit semalam, Yulia langsung memberitahukan kepada Ine tentang apa yang sudah terjadi dan memutuskan untuk pergi ke rumah sakit bersama.
"Yulia kira Mama udah pulang karena harus kerja."
Ine menggeleng, lalu tersenyum. "Mama ambil cuti, tadi lagi urus masalah kerjaan."
Ine yang sudah berada di depan Yulia pun, kini ia mengusap rambut Yulia, membuat anaknya tersebut menoleh. "Berapa hari?"
Krukk ....
Ine terkekeh geli, kemudian mengusap rambut anaknya lagi. "Ya udah, pulang gih! Mandi, makan, istirahat. Biar Mama yang di sini!"
"Mama cuti panjang!"
🦋🦋
Yulia berjalan santai, dengan hati yang sudah sedikit tenang. Rasa bersalahnya sudah terkikis ketika ia sudah menceritakan semuanya kepada mamanya.
Perutnya semakin terasa perih, membuat Yulia sesekali meremasnya, dengan sesekali berlari kecil menuju parkiran. Langkahnya semakin cepat kala telinganya mendengar suara ambulance yang begitu nyaring.
Ingatannya kembali mengingat ambulance yang beberapa waktu lalu membawa Alisa menuju rumah sakit ini. Sesaat, Yulia merasakan pening. Ia menggelengkan kepalanya guna mengusir rasa bersalah yang ingin kembali hinggap.
"Permisi ... minggir ... minggir dulu!"
Seseorang yang meminta untuk di beri jalan tersebut membuat Yulia menoleh. Jarak dirinya dengan petugas adalah sekitar sepuluh meter, tetapi Yulia sudah membuang pandangannya, tak mau melihat pasien yang berada di atas brankar.
__ADS_1
Lebih tepatnya, Yulia tidak ingin melihat darah ataupun sejenisnya.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Tak ada kehebohan lagi dan tak ada yang lewat di sampingnya.
"Ck, kirain lewat sini!" Decaknya lega seraya melihat beberapa petugas yang kelimpungan membawa brankar berisi pasien tersebut ke lorong lain.
"Se-darurat itu kayaknya, ya?" Monolog Yulia.
Yulia menggeleng-gelengkan kepalanya, mengingatkan dirinya agar tak terlalu mengurusi urusan orang lain dan kembali berjalan menuju parkiran.
"Tapi ... gua kayak kenal sama seragamnya!" Monolognya lagi seraya berjalan. "Dah ah, mau liat mukanya juga gak bakal kenal!"
"Kasian banget, palingan itu kebut-kebutan gara-gara telat ke sekolah!"
"Iya, masih pake seragam, ya?"
"Sayang banget muka gantengnya jadi gak karuan," celetuk orang lainnya.
"Banyak darah banget ya ampun!"
"Semoga dia tertolong!"
Yulia menoleh memperhatikan sekitarnya, terlihat beberapa orang yang ada di sana sedang ber-simpati.
Tak mau pikir panjang, Yulia melanjutkan langkahnya menuju parkiran.
🦋🦋
Yulia memasuki mobil merahnya, kemudian mengambil ponselnya.
"Loh, kok mati?" Monolognya seraya berusaha menghidupkan ponselnya.
Ia menghela napas, lalu membuangnya kasar. "Sangking paniknya, HP kehabisan baterai pun gak nyadar!"
Dan beberapa saat setelah itu, Yulia pergi meninggalkan area rumah sakit tersebut.
"Cepet sadar, Lisa!" Monolognya.
__ADS_1
"Lo tante gua, tapi udah kayak rival yang gak bisa akur."
"Kapan berantem lagi?"