
Hari yang menyenangkan, membuat Yulia lupa akan suatu hal. Yulia yang sedari tadi asik menghabiskan harinya bersama Habil, baru saja pulang ke rumahnya pada pukul sembilan malam lebih empat puluh menit.
Ponselnya berbunyi nyaring karena satu panggilan yang baru saja masuk. Yulia yang baru akan membuka pagar, ia mengurungkan niatnya, beralih untuk mengambil ponsel di sakunya. Seketika matanya membelalak kaget ketika melihat siapa yang menelepon dirinya selarut ini.
Tante Alisa Q.N Is Calling ....
Dengan cepat Yulia mengangkatnya, "Ha--"
"Lo kemana aja, sih? Lumutan nih, gua!"
Spontan Yulia menjauhkan ponsel tersebut dari telinganya sekilas, lalu menatap ponselnya heran.
"Sepuluh menit lagi gua harus udah ada di tempatnya Ana, kalian dimana, sih?" Lanjutnya panik.
Yulia mendengus, "Lo jalan aja dulu, abis ini gua susul bareng Adi dan polisi juga!"
Di seberang sana Alisa mendengus, "bilang dari tadi, dong! Ya udah, gua share lokasi ke lo, ya!"
Tut.
Sambungan terputus. Tak lama setelahnya, satu pesan dari Alisa masuk, berisi tentang dimana lokasi tersebut berada.
🦋🦋
Malam yang semakin larut, kini Yulia sedang berada di salah satu tempat duduk. Ia cemas, menunggu salah satu dokter yang belum keluar dari ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) sedari lima belas menit yang lalu.
Bibirnya pucat, pikirannya buyar, tangannya saling meremas satu sama lain. Beberapa kali ia mengubah posisi dari menyender, menunduk ataupun mendongak. Adi yang sedang duduk di samping Yulia, ia menoleh, menarik napas panjang, lalu membuangnya perlahan.
"Alisa bakal baik-baik aja, Ya!" Ucap Adi berusaha menenangkan.
Tidak menjawab, Yulia hanya meliriknya sekilas. Selang beberapa menit, salah satu dokter yang menangani Alisa baru saja keluar, membuat Yulia dan Adi spontan berdiri seraya menatap dokter tersebut penuh harap.
__ADS_1
"Gimana keadaan teman saya, Dok?"
Seorang dokter dengan nickname dada bertuliskan 'Lukman S.Ked' tersebut menatap Adi, "teman atau pacar, nih?" Candanya seraya terkekeh.
Belum sempat Adi menjawab, Lukman melanjutkan ucapannya. "Banyak darah yang keluar dari bagian perut yang tertusuk."
Wajah Lukman menjadi serius, menatap Adi dan Yulia bergantian. "Golongan darah pasien adalah Rh-null, atau biasa di sebut sebagai Golden Blood."
"Seseorang dengan golongan darah tersebut biasanya adalah penderita anemia hemolitik. Sampai saat ini hanya ada sekitar 43 orang yang memiliki golongan darah tersebut."
Adi diam, sedangkan Yulia menyimaknya dengan detak jantung yang semakin berdetak cepat.
"43 orang, berarti masih ada kemungkinan, 'kan?"
Lukman mengangguk, tersenyum tipis guna menenangkan dua orang di depannya. "Pasti ada kemungkinan untuk menemukan pendonor, jika stok darah dengan golongan tersebut sudah habis."
"Saya dan tim bakal lakuin yang terbaik. Saya dengar, stok dengan golongan tersebut masih tersedia setidaknya satu atau dua kantong darah."
Lukman tersenyum lagi, kemudian menepuk pelan pundak Yulia. "Kamu harus semangat buat temen kamu!" Ucapnya menyemangati, kemudian berlalu dari sana.
Yulia yang masih diam, ia beralih menatap Adi dengan mata yang bersiap membanjiri pipinya.
"Salah gua karena telat bawa polisinya ke tempat Ana!" Ucapnya menyalahkan dirinya sendiri, seraya mengerucutkan bibirnya.
Adi menggeleng, seraya menyeka air matanya yang semakin deras. "Bukan!"
"Harusnya kita serahin aja ke polisi, kenapa harus orang tua itu yang ketemuan sama saiko kek Ana?" Lagi-lagi Yulia berujar, menyalahkan dirinya sendiri.
"Ayolah, Ya!"
"Alisa bakal baik-baik aja!"
__ADS_1
Yulia mematung, menatap Adi penuh harap dengan tangisan yang semakin menjadi. Di detik selanjutnya, Adi menarik Yulia dalam dekapannya, "apapun yang bakal terjadi, itu bukan salah lo dan itu yang terbaik, Ya!"
Yulia diam, tidak membalas. Tangisannya semakin deras, membasahi baju yang Adi pakai.
Hampir tiga menit berlalu, akhirnya Yulia bisa sedikit tenang. Matanya bengkak dengan warna sedikit kemerahan dan napasnya sedikit terganggu karena ingus. Yulia melepaskan pelukan Adi, lalu menatapnya.
"Ih lo kok gitu, sih?" Tanyanya seraya mengerucutkan bibirnya kesal.
Adi yang tadinya hanya menatap Yulia dengan senyuman penyemangat, kini berubah menjadi tawa mengejek. "Apa?"
Berniat tidak menjawab, Yulia berjalan menuju tempat duduk di sekitarnya. Adi terkekeh pelan, mengikuti Yulia yang masih mendiaminya.
"Udah ingusan, matanya bengkak, masak bibirnya di majuin juga, sih?" Rayunya sedikit meledek.
Lagi-lagi Yulia tidak menjawab.
"Pulang?" Tanya Adi.
"Biar nanti gua minta resepsionis rumah sakit yang kabarin lo kalo ada apa-apa sama Alisa!" Lanjutnya ketika Yulia menoleh.
🦋🦋
Yulia ingin memberitahu Ine tentang Alisa, tetapi ia takut. Ia rasa, keberaniannya menciut untuk saat ini. Yulia melihat layar ponselnya, sedikit terheran karena ia belum merasakan kantuk di saat ponselnya menunjukkan pukul 23.50 WIB.
Sudah sekitar lima belas menit Yulia duduk di lantai balkon kamarnya, mengabaikan rasa dingin yang menyentuh kulitnya dengan matanya yang menatap lampu-lampu di depannya.
Drrtt ... drrtt ....
Ponselnya bergetar lama, membuatnya menoleh. Dengan malas Yulia mengambil ponselnya, lalu menerima sambungannya.
"Selamat malam, dengan Hilmi di rumah sakit Cahaya Indah. Apakah ini benar dengan kak Yulia, saudara dari saudari Alisa?"
__ADS_1