Still You

Still You
T-tolong ....


__ADS_3

Bel pulang sudah berbunyi lima belas menit yang lalu, membuat masing-masing kelas perlahan sepi.


Di lapangan ada Yulia berjalan tegak, pandangan lurus bak model, dan kedua tangannya memegang selempangan tas sekolahnya.


Jangan tanya mengapa ia sendiri. Liya pulang bersama Aldi, sedangkan Wulan tak tahu kemana.


"Sendirian ae?"


Pertanyaan itu membuat Yulia tersentak kaget, langsung menoleh ke samping. Langkahnya terus berjalan, matanya kembali fokus pada jalan di depannya.


"Enggak, sama jin di samping gua."


Habil diam, langkahnya berhenti. Matanya melihat punggung Yulia yang semakin menjauh.


"Lah, gua jin?" monolognya. Sedetik kemudian, Habil berlari pelan mengejar Yulia yang sedang menuju parkiran.


"Tega banget lo ngatain gua jin," protes Habil setelah langkahnya beriringan.


Yulia diam, sampai akhirnya mereka tiba di parkiran mobil khusus murid. Mobil merah milik yulia berbunyi sedetik, kemudian pintu mobilnya dibuka.


"Ngapain? Pulang sana!" Usir Yulia, kemudian memasuki mobilnya dan menutup pintunya. Sedetik kemudian, Habil mengetuk kaca pintu kemudi, membuat Yulia membuka kaca tersebut.


"Gua nebeng," pintanya.


"Please!"


Yulia mengerutkan keningnya heran, "lah, motor lo?"


"Di pinjem Afif buat anterin Wulan," jawabnya singkat dan masih menatap Yulia, berharap dirinya di berikan tumpangan.


"Ck, pantes aja tuh orang ngilang! Gak taunya udah balik duluan?" Habil mengangguk, memasang wajah polos tanpa dosanya.


"Ya udah kalo mau nebeng, lo yang nyetir!" Yulia keluar dari dalam mobil, membuat Habil berfikir. "Kok gua?"


"Udah nebeng, gak mau di suruh nyetir. Lo kira gua supir pribadi lo?"


Habil menyengir kuda, memperhatikan Yulia yang kini berjalan memutari mobil dan membuka pintu samping kemudi. "Nunggu apa lagi? Ayok pulang!"


Dengan cepat Habil mengangguk, memasuki mobil Yulia, di ikuti dengan Yulia di samping kemudi.


Canggung.


Habil menggaruk tengkuknya yang tak gatal, memasang seatbelt, menghidupkan mesin, baru kemudian berlalu dari sana.


Hening.


"Gua ikut ke rumah lo ya? Sekalian belajar," celetuk Habil yang kini membuat Yulia menoleh heran.


"Hah?"


Habil menghela nafas, melirik Yulia sekilas, lalu kembali fokus menyetir. "Gua mau sekalian ikut ke rumah lo, belajar buat ujian nasional!"


"Kan gua bilang jam tiga sore, Bil!" Protesnya, bahkan tanpa sadar Yulia sudah mengubah posisinya menghadap ke arah Habil, menatap seorang yang sedang mengemudi di sampingnya.


"Ribet, nanti bolak-balik, Ya!"


Yulia mendengus, ia menyenderkan punggung dan kepalanya di senderan kursi. Menghela nafas panjang, lalu memejamkan matanya. Sangking seringnya ia berdebat dengan Habil, sampai saat ini ia sudah malas kembali berdebat.


"Lagian udah kurang satu jam setengah. Lo mau main dulu apa gimana?"

__ADS_1


Kalimat tersebut sontak membuat Yulia membuka mata, melirik Habil malas dengan posisi masih menyender.


"Pulang sekolah gua selalu ke cafe dulu."


"Ngapain?"


"Wajar gua kesana tiap hari, cafe gua ini!" Tuturnya sebal.


Habil terkekeh, mengangguk-anggukkan kepalanya. Matanya masih terus fokus kepada jalan, karena ia sedang membawa dua nyawa di dalamnya.


Lima belas menit akhirnya sampai, dengan keadaan sedikit canggung diantara keduanya. Habil dan Yulia menghela nafas panjang, lega karena mereka akan segera keluar dari ruang sempit dan hanya berisi dua orang di dalamnya.


Yulia turun terlebih dahulu, membuka gerbang rumahnya lalu membiarkan mobil berisi Habil tersebut memasuki halaman rumahnya.


Kemudian ia berjalan menuju pintu utama, membuka kunci lalu membuka pintunya. Yulia menoleh ke arah Habil yang berjalan mendekat ke arahnya dengan percaya diri.


"Kalo di rumah lo ada siapa?"


"Bunda!"


Yulia menganggukkan kepalanya, menyetujui sebuah ide yang terlintas secara mendadak di otaknya.


"Belajar di rumah lo aja! Di sini gak ada orang," celetuknya kemudian melangkah. Langkahnya kembali berhenti kala ia mendengar suara langkah di belakangnya.


"Oke!"


"Stop stop!" perintahnya seraya berbalik menghadap Habil.


"Lo tunggu di mobil aja, gua gak lama!"


Habil membelalakkan matanya tak terima, kemudian menggeleng. "Mana ada!"


"Atau gak jadi belajar?" Ancamnya.


Yulia tersenyum puas, ancaman darinya ternyata bisa buat seorang Habil nurut, ya!


Yulia bergegas masuk setelah ia melihat Habil sudah memasuki mobil merahnya, duduk di sana.


Yulia berlari kecil menuju kamarnya. Meletakkan tas di kasur, kemudian melepaskan sepatu yang tadi ia pakai. Yulia mengambil kaos dan celana ganti, kemudian berlalu menuju kamar mandi. Lima menit kemudian ia keluar, menampilkan dirinya yang di balut kaos hitam polos dan celana jeans biru, menambah kesan cantik di sana.


Di tambah, air yang sempat ia basuhkan di wajahnya itu membuat wajah Yulia sedikit terlihat lebih fresh.


Yulia berjalan menuju meja riasnya, duduk di kursinya. Matanya menatap pantulan wajahnya, kemudian tersenyum.


Yulia memakai sedikit bedak, liptint dan parfum. Ia berdiri, memandang pantulan dirinya di cermin, kemudian tersenyum lagi.


"Kalo gini gua cakep 'kan?" monolognya seraya memutar-mutar badannya di depan cermin.


"Astaga! Habil nungguin gua kan, ya?" serunya bermonolog seraya menepuk keningnya pelan.


Yulia berjalan menuju kasur, mencari ponsel di dalam tasnya dan ... ketemu!


Yulia mencari nomor Wulan, meneleponnya dan tak lama Wulan mengangkatnya.


"Iya, Ya?"


"Gua hari ini gak ke cafe, ya. Tolong lu gantiin gua bisa gak? Lu ada jadwal nyanyi kan hari ini?"


Di seberang sana Wulan mengernyit heran, "loh, kenapa?

__ADS_1


"Mau ke rumah Habil," celetuknya pelan.


"Oke! Semuanya gua handle, tenang aja!" ucap Wulan semangat. Di seberang sana, Wulan tersenyum.


"Ya udah, thank's ya!"


Tut tut..


Sambungan diputus sepihak oleh Yulia, kemudian ia memasukkan ponselnya ke dalam tas, lagi. Ia juga sempat mengganti isi tasnya dengan buku-buku yang akan ia gunakan untuk belajar bersama Habil.


Setelah selesai, Yulia berjalan ke lemari sepatu, mengambil salah satu sepatu kesukaannya. Bahu kanannya terdapat tas yang ia gendong sebelah.


Yulia berjalan ke luar rumah, melewati lantai satu yang entah mengapa, suasana di sana seperti sepi dan tidak seperti biasanya. Dengan buru-buru Yulia keluar rumah, mengabaikan bulu kuduk yang mulai berdiri. Setelah itu, Yulia mengunci pintu dan berjalan menuju halaman rumahnya. Di sana ada Habil yang sedang menunggu di dalam mobil, seraya bermain game.


Yulia bernafas lega ketika ia melihat Habil bermain game tanpa merasa bosan.


"Seru banget ya mainnya?" ucapnya mengagetkan. Sontak, Habil melirik sebentar ke arah Yulia yang kini sedang memakai sepatunya di kursi samping kemudi.


"Eh, udah? Kok di pake di sini?"


Yulia mengangguk, tetapi Habil tidak melihatnya.


"Tadinya takut lo nunggu kelamaan, ternyata enak-enakan main game!"


Habil diam, terlalu fokus bermain membuat Yulia mendengus. Setelah beberapa saat, Yulia yang baru selesai memakai sepatunya, ia di kejutkan oleh suara Habil yang mendadak terdengar menyebalkan.


"Ah, kalah!"


Yulia melirik Habil, dengusan kecilnya kembali terdengar.


"Itu lo aja yang gak jago!"


Kalimat Yulia barusan membuat Habil sadar jika ia tidak sendiri. Habil menyengir kuda, menampakkan gigi ginsul dan lesung pipinya di sana.


"Gak ada yang ketinggalan?" Yulia menggeleng, "jalan sekarang?" Yulia mengangguk.


Gemas.


Habil terkekeh, menggelengkan kepalanya lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku, kemudian bersiap menjalankan mobilnya menuju rumah.


Sampai di perjalanan, mereka saling diam. Sesekali Yulia melirik ke arah luar jendela dan sesekali Yulia melirik kaca tengah untuk melihat ke arah belakang.


Deg.


Yulia melihat seperti ada seseorang di sana, di jok belakang, membuatnya menoleh dengan cepat.


Kosong


Yulia mengernyit, alisnya tertaut antara takut dan heran. Halusinasi 'kah?


Setelah itu, Yulia membenarkan duduknya menghadap ke depan. merilekskan tubuhnya dan mengatur nafasnya yang sedikit memburu.


Sedetik kemudian seseorang berbisik kepada Yulia, membuat bulu kuduknya seketika meremang.


"T-tolong ...."


Yulia kaget, menatap jok belakang dengan raut wajah takut. Habil menoleh, masih pada fokusnya sebagai supir.


Tangan Habil terulur, mengusap rambut gadis di sampingnya. Berharap bisa menenangkannya dari apapun yang membuatnya takut. "Kenapa, Ya?"

__ADS_1


Sekali lagi, Yulia melirik jok belakang. Satu sosok perempuan yang memakai seragam, muka pucat dan penuh darah tersebut kembali berujar, membuat nafas Yulia mendadak tercekat.


"A-aku Nuri ...."


__ADS_2