Still You

Still You
Flashback.


__ADS_3

Malam itu, hujan turun. Niat Liya ingin bertemu dengan Aldi pun gagal karena hujan yang menyebalkan ini datang.


Suara dering ponsel milik Liya berbunyi, menandakan ada telepon masuk.


Terpampang nama Aldi di sana, membuat Liya mengangkatnya dengan segera.


"Halo!" Nada ketus karena kesal itu terdengar jelas. Membuat Aldi mengernyitkan keningnya bingung


"Kenapa sih? Kok ketus?"


Liya menghela nafas, baru sadar jika ia melampiaskan rasa kesalnya terhadap hujan itu ke Aldi.


"Hujan!"


Hening sesaat.


"Gak jadi ketemu!" Sambungnya.


Aldi terkekeh di seberang sana, menganggukkan kepalanya.


"Gak papa. Ganti baju, istirahat aja!"


Perhatian itu membuat Liya memanyunkan bibirnya kesal, lalu mematikan ponselnya sepihak. Mengabaikan Aldi yang sedang terkekeh geli di apartemennya.


Liya berjalan menuju lemari, mengambil baju tidur, kemudian berjalan menuju kamar mandi pribadinya.


Setelah sepuluh menit berganti baju, membersihkan make up tipis, sikat gigi dan mencuci muka, Liya kembali berjalan menuju kasur.


Ia merebahkan dirinya di atas kasur, memejamkan matanya sebentar. Sedetik kemudian, matanya kembali terbuka, mengingat ponselnya.


Liya mengambil ponselnya yang terdampar di atas kasur, kemudian melihat notifikasi yang masuk.


5 pesan dari Aldi.


3 panggilan tak terjawab.


2 panggilan vidio tak terjawab.


Liya membelalakkan matanya tak percaya, senyumannya terukir. Baru saja ia ingin membalas pesan dari Aldi, satu panggilan vidio itu masuk lagi, mengagetkannya.


Dengan gerakan cepat dan semangat, Liya mengangkatnya dan berusaha memasang senyum semanis mungkin.


"K-kenapa?" tanyanya sedikit gugup, dengan senyum kaku di sana. Niatnya untuk memberikan senyum manis gagal seketika.


Di sana, terlihat Aldi sedang berada di atas kasurnya, menatap layar ponselnya datar.


Tampan.


"Al?"


Panggilan Liya itu membuat Aldi terkesiap. "Eh? Iya!"


"Kenapa vidio call?"


"Hujan, gak jadi ketemu!" jawabnya singkat.


Menurut Liya, wajah datarnya itu terlihat semakin tampan. Bahkan, tak jarang ia tersenyum melihat wajah datarnya.


"Kalo gak jadi ketemu, kenapa?"


Hening sesaat.


Aldi menggeleng pelan, masih setia menatap Liya dari layar ponselnya.


"Main, yuk?" Mendengar pertanyaan Aldi, Liya mengangguk antusias.


"ayok!" senyum lebar Liya terlihat, membuat Aldi tersenyum tanpa sadar.


"Main apa?" Liya bertanya.


Aldi berfikir sejenak, "ucapin satu kata awal dari kalimat yang aku kasih. Paham?"


Liya yang memang mempunyai kapasitas otak yang minim, ia menggeleng. "Tidak!"

__ADS_1


Bukanya jengkel, Aldi malah terkekeh. "Jadi kalo aku bilang 'Liya jelek', kamu tinggal jawab, 'Liya'. Paham?"


Liya berfikir sedikit lama, kemudian mengangguk.


"Paham, Pak!" serunya memberi hormat.


Aldi mengulas senyum tipis, mengangguk pelan, bersiap memainkan permainan ini.


"Oke, mulai!" seru Liya antusias.


Terlihat Aldi sedang berfikir, memikirkan kalimat yang cocok untuk di pakai. "Aldi ganteng!"


"Aldi!"


Aldi mengangguk puas. Pasalnya, Liya begitu antusias dan menuruti permainannya ini.


"Ular melingkar di kasur?"


"Ular!"


Tentu saja Liya tersenyum bangga. Otaknya ini bisa di ajak kerjasama ternyata.


"Kamu manis, saya suka."


Hening. Kalimat Aldi barusan sepertinya bukan termasuk dalam permainan, ya? Seperti mengakuan.


"Ayo, jawab!" Suara Aldi membuat Liya sedikit terkejut, kemudian menjawab. "Kamu!"


Aldi menganggukkan kepalanya, lalu melanjutkan.


"Mau jadi pacarku?"


Hening, Lagi. Pipinya merona, entah menahan malu atau kesal? Aldi ini mencoba memainkan hatinya, ya?


Masih diam, hingga sebuah panggilan dari Aldi kembali terdengar.


"Li," panggilnya lembut.


Liya terkesiap, menatap Aldi dari layar ponselnya. "Jawab, Li."


"Itu masih permainan?" Liya bertanya polos. Entah mengapa, pipinya sering merona ketika ia bersama Aldi.


Aldi menggeleng, "enggak."


"Mau jadi pacar gua?"


Pertanyaan itu di ulang, membuat pipi Liya semakin merona.


"A-apa?"


Terlihat, Aldi mendengus pelan. Sedetik kemudian, ia tersenyum tipis.


"Mau jadi pacar gua, Liya?" Ulangnya.


"M-mau!"


Matanya sedikit berkaca-kaca, tak percaya rasanya.


"Beneran?" Tanyanya memastikan, seakan tidak percaya.


Liya mengangguk, sedikit terharu. Berlebihan, memang.


"Besok gua jemput. Kita berangkat sekolah bareng!"


🦋🦋


Pagi harinya, Liya terbangun. Sinar matahari yang menyelinap masuk ke dalam kamarnya itu sangat mengganggunya.


Liya duduk, lalu mengusap wajahnya, kemudian merenggangkan otot-ototnya.


Rasanya ada yang beda hari ini, tapi apa, ya?


Mendadak, ingatan tentang vidio call bersama Aldi semalam kembali teringat. Bibirnya tersenyum semakin lebar kala ia mengingat momen tersebut.

__ADS_1


"Ish, malu!" monolognya seraya menutup wajahnya.


"Hati gua udah siap belum ya ketemu si Aldi?"


"Mana lewat vidio call, pula! Tidak romantis sama sekali!" Masih bermonolog, Liya sedikit memanyunkan bibirnya.


Ting!


Satu notifikasi terdengar, membuat Liya mengalihkan pandangannya ke arah ponsel di atas meja.


Liya mengambil ponselnya, membuka pesan yang ternyata dari Aldi, kekasih barunya.


Mine.


Lima belas menit lagi aku jemput. Siap-siap, ya!


Liya membelalakkan matanya, refleks matanya melirik jam dinding di dinding kamarnya.


Jam enam pagi?!


Refleks, Liya melempar asal ponselnya ke kasur, lalu meloncat dari ranjang dan berlari menuju kamar mandinya. Membersihkan diri, lalu bersiap-siap secepat mungkin.


Yang ada di pikirannya saat ini adalah, Jangan sampai kesan pertama Aldi menjemput dirinya adalah 'lelet sekali'. Jangan sampai!


Tiga puluh menit lamanya Liya bersiap-siap. Mulai dari mandi, berpakaian, make up tipis, pakai sepatu, mengganti buku mata pelajaran dan hal penting lainnya.


Dia itu perfeksionis, jadi harus serba perfect!


Walau sebenarnya tidak lebih perfect dari Yulia dan Wulan.


Liya mengambil ponselnya, kemudian berjalan menuju lantai bawah dengan tas di bahu kanannya.


"Lama banget lo dek, kek tuan Putri!" Sindiran abangnya itu membuatnya menoleh sinis.


Sudah biasa, abangnya ini memang suka mencari masalah dengannya.


"Gua kan emang tuan Putri di rumah ini!" jawabnya ketus seraya terus berjalan menuju dapur.


Liya berjalan menuju di mana kulkas berada, membukanya lalu mengambil sekotak susu vanila di sana.


"Ada temen lo, noh! Udah sejam nungguin!"


Liya tersedak karena ulah kakaknya tersebut. Wajahnya merah karena tersedak, membuat Liya menatap Nurman tajam. Seperti ingin mencekiknya sampai ia meminta maaf.


"Gak ada akhlak lo!"


Nurman tertawa pelan, berjalan menuju lantai dua mengabaikan adiknya yang ingin berangkat ke sekolah.


Setelahnya, Liya mengernyit heran, ada teman, ya?


Sedetik kemudian ia terkejut, berjalan cepat menuju ruang tamu.


Ia sempat lupa jika Aldi akan menjemputnya hari ini. Membuat Liya menjadi tenang dan santai kalaupun terlambat.


Sesekali terlambat itu wajar 'kan?


"Maaf, lupa kalo mau di jemput," ucapnya setelah ia berada di samping Aldi yang memegang ponsel. Sepertinya Aldi sedang bermain game online di sana.


Hening. Sangking fokusnya, Aldi tidak menyadari jika Liya sudah duduk di sampingnya.


"Ishh, Al!" Liya sebal, sedikit berteriak agar Aldi bisa mendengarnya.


Berhasil. Aldi menoleh, sedetik kemudian ia menghentikan aktivitas di ponselnya. Seperti tak peduli jika ia kalah.


"Udah selesai?" Aldi bertanya, tetapi Liya masih menatapnya kesal.


"Tadi main game karena lama nunggu kamu," jelasnya seraya menatap Liya.


"Maaf," lanjutnya seraya mengusap rambut Liya lembut.


Hati Liya menjerit, bagaimana bisa Aldi selembut ini? Aldi sedang sakit atau habis kepentok tembok?


"Belum sarapan 'kan? Nanti kita sarapan di kantin sekolah!"

__ADS_1


Dan setelah itu, Liya dan Aldi berjalan dan berlalu dari sana, setelah Liya berteriak.


"Bang, Liya berangkat dulu!"


__ADS_2