
"Astaga, kenapa sih, Lan?"
Yulia menghela nafas kasar, menatap Wulan jengkel. Bagaimana bisa temannya ini mengomel sedari tadi, tanpa memperdulikan telinganya yang mulai pengang?
"Kesel!"
Yulia memutar bola matanya malas seraya mendengus. Sedetik kemudian, Liya datang dengan sedikit teriakannya.
"Selamat pagi!" Sapa-nya seraya menggebrak pelan mejanya.
Wulan yang sedikit kaget karena ulahnya, ia membelalakkan matanya, menatap tajam Liya yang hanya melempar cengiran.
"Gak ada adab lo!"
Liya mengedikkan bahu acuh, kemudian duduk di kursinya.
"Gua mau cerita!"
Refleks, Yulia menoleh ke arah Liya, tidak dengan Wulan. Sepertinya dia masih marah (?)
Biar saja, nanti juga dia akan dengar.
"Semalem gua jadian sama Aldi!" Pernyataan Liya tersebut di iringi pekikan, membuat beberapa mata sempat melirik ke arahnya.
"Serius lo?" Yulia membelalakkan matanya tak percaya. Liya mengangguk, sesekali melirik Wulan yang bersikap seakan tidak mendengarnya.
"Gua mau cerita semalem, tapi gak enak kalo lewat chat. Kan mending langsung," tuturnya sedikit sedih.
"Gak papa, Li! Traktirannya aja jangan lupa, ya!" Liya mendengus, kemudian melirik Wulan yang sedari tadi diam.
"Lan ...."
Masih diam.
"Wulan ...."
Wulan melirik Liya datar, yang di lirik hanya memasang cengiran tanpa dosanya.
"Maaf deh kalo gua telat cerita," ucapnya sedikit merengek, berusaha merayu.
"Hm!"
Liya mengerucutkan bibirnya, merasa sebal di abaikan oleh temannya.
Yulia yang sedari tadi melihatnya, ia baru tahu. Ternyata ini penyebab Wulan mengomel tak jelas seperti tadi?
"Udah, nanti kita porotin si Liya ya Lan, sebagai ganti-nya karena dia telat cerita!" ucap Yulia, kemudian tertawa.
"Iya deh, lo boleh pesen apapun nanti. Asal jangan ngambek lagi, kayak anak TK lo!"
Kalimat Liya barusan membuat Wulan menatap tajam, membuat nyali Liya menciut.
Liya menyengir, "b-becanda!"
Wulan memutar bola matanya malas, menumpu dagunya dengan tangan kiri di atas meja.
"Lo terima?"
Liya mengangguk bangga, "ya dong!"
"Beberapa bulan belakangan ini, dia lulus uji coba dari lo!" ucap Liya tertawa.
"Mulai dari nyuekin dia, abaiin dia, sampe pura-pura gak liat juga udah pernah!"
"Bahkan sampe gua pura-pura nanya ke Habil punya temen yang ganteng atau gak, di depan Aldi!"
Liya bercerita dengan semangat yang menggebu-gebu. Yulia menatapnya serius, membuat Liya berhenti berucap.
__ADS_1
"Kenapa?"
Yulia menggeleng, "janji dulu sama gua!"
"Apa?"
"Jangan kasih rasa cinta lo ke Aldi! Gua gak minat liat lo mewek-mewek lagi karena cowok."
Liya diam, memikirkan perkataan Yulia.
"Jangan sering galau sampe berhari-hari lagi, jangan sedih karena pacar pokoknya!"
Liya mengangguk, malas melawan. Dia juga yakin jika Aldi adalah orang yang tepat.
"Bahas naon?" pertanyaan itu membuat Liya dan Yulia menoleh, kemudian mendengus. Adi yang baru saja datang itu, dengan santainya mengagetkannya.
"Ini lagi, kenapa lo?" Adi beralih bertanya kepada Wulan, mengacak rambutnya, membuat si empunya melirik Adi dan memasang wajah malasnya.
"Eh, gua ada rencana!" Adi berucap setelah ia mendudukkan dirinya di kursi.
"Naon?" Liya bertanya, sedangkan Yulia hanya mengangkat sebelah alisnya dan Wulan? Hanya diam memperhatikan.
"Gua mau ajak kalian penelusuran sama tim gua. Gua ad--"
"Lah, lo ada tim gituan?"
Adi berdecak pelan, melihat Liya dengan tatapan geram.
"Makanya, kalo gua ngomong tuh di dengerin dulu, jangan asal potong, Maemunah!"
Liya yang tak terima, ia memeletkan lidahnya mengejek.
"Anak TK bukan di sini tempatnya, TK seberang jalan sana kalo mau berantem!"
Sontak, Adi dan Liya menoleh ke arah Wulan. Tak terima jika di samakan dengan anak TK.
Adi menghela nafas, berusaha mengabaikan Wulan yang entah mengapa, hari ini sangat menyebalkan. Tatapannya, sikapnya, bahkan omongannya pun menyebalkan.
"Jadi gimana? Lumayan nambah pengalaman hidup yang serem-serem!"
"Kalo gua ikut, manfaatnya apa?"
Adi mendengus. Temannya yang satu ini benar-benar harus mendapatkan keuntungan di setiap aktivitas, ya?
Yulia menatap Adi, melemparkan pertanyaan yang mungkin saja susah untuk Adi jawab.
"Manfaatnya adalah lo bisa dapet pengalaman, Yulia!"
Yulia menahan tawa, ingin rasanya melempari Adi dengan seribu pertanyaan.
"Timbal baliknya apa?"
Adi mendengus, "permen se-toples, mau lo?"
Yulia mengangguk, sedangkan Wulan menggeleng. "Gua mau mie se kardus!"
Adi menoleh ke arah Wulan, bibirnya tersenyum kala ia tahu jika Wulan sudah tidak marah-marah lagi.
"Oke, kalo Liya mau timbal balik apa?"
Terlihat, Liya berfikir sejenak kemudian berujar. "Cowok ganteng se-komplek!"
"Aldi! Cewek lo ganjen, nih!" Wulan berteriak, membuat Liya langsung menoleh ke arah pintu.
Tetapi nihil, tak ada Aldi di sana.
"Gak ada akhlak lo, Lan!"
__ADS_1
Adi dan beberapa siswa di kelas tercengang mendengar teriakan Wulan. Bagaimana bisa Aldi kepincut dengan Liya? Siswi ter-aneh!
"Traktirannya dong, Li!"
"Iya nih, biar langgeng!"
"Idih, amit-amit kalo gak langgeng kalian muntah-in lagi traktiran dari gua, mau?" Liya menatap teman kelasnya sedikit kesal. Apa-apaan? Mendoakan langgeng jika ada traktiran saja.
"Gampang mah ya, sehari setelah lo traktir juga udah keluar lagi, Li!"
"Iya, di toilet!" Dan kalimat terakhir dari Adam tersebut membuat seisi kelas tertawa.
"Adam jorok," teriak Wulan kemudian tertawa.
Kelas 12 tata busana ini memang banyak yang receh, ya? Tak apa, mereka kompak jika sudah menyangkut traktiran.
Yulia hanya terkekeh geli, seraya menggelengkan kepalanya. Benar-benar ya kelasnya ini, receh sekali.
Setelah beberapa menit, tawa pun reda. Adi kembali menatap Yulia, Wulan dan Liya, meminta persetujuan.
"Jadi, gimana? Ayok lah, sekali-kali. Berkali-kali juga boleh!"
"Gua sih ngikut mbak ketua aja," celetuk Liya.
Wulan mengangguk, "karena gua mager dan gak tega nolak sangking baiknya, jadi gua ngikut mbak bos aja. Semoga mbak bosnya nolak, ya!"
Kalimat Wulan dan Liya membuat Adi menoleh ke arah Yulia, menatapnya sedikit berharap.
"Lah, gua?"
"Kok gua?"
Adi mengedikkan bahu acuh, masih menatap Yulia dengan setitik harapan.
"Ya udah, boleh deh di coba!"
"Kalo gitu ajak Aldi juga dong, Di!" Liya memberi usul membuat Adi menggeleng tak percaya. Baru jadian aja udah bucin, ya?
"Yee, itu mah mau lo. Mau ngapel kan lo?"
Liya melirik Wulan sinis, "sirik ae lo!"
"Ribut mulu lo berdua. Mau gua buatin ring tinju di lapangan?" Yulia menawarkan, membuat Liya menggeleng, seraya menyengir kuda.
"Bentar, kita ini sebenernya sekolah atau ngerumpi?"
Kalimat barusan membuat Yulia, Wulan dan Liya menatap Adi heran. Rumpi?
"Udah jam delapan, gurunya mana dah?"
Adi bertanya, yang di tanya hanya mengedikkan bahu tidak tahu. Matanya beralih mencari Adam, sang ketua kelas.
Astaga ada di pojokan. Nonton apa?
"Woi, Dam! Bu Salwa ke mana? Jam kosong, nih?"
Adam menoleh sekilas, kemudian mengangguk. Matanya kembali menatap layar ponsel di tangannya.
Sedetik kemudian, Adam terperanjat kaget, berdiri, meneguk ludahnya susah payah dan berucap.
"Ada tugas yang di kirim lewat chat, tapi gua baru baca!" Adam menjeda. "Di kumpul sejam lagi, woi!"
Dan sedetik kemudian, Adam berusaha menutup telinganya sejenak karena ia tahu teman sekelasnya pasti akan berteriak jengkel.
"ADAM!"
"BENER-BENER GAK ADA AKHLAK LO!"
__ADS_1