Still You

Still You
Meet Or?


__ADS_3

Ting!


Ting!


Suara notifikasi dengan suara yang lumayan nyaring tersebut membuat Liya mendengus kesal. Matanya menyipit, mencari keberadaan Wulan. Kemudian tangannya bergerak mengambil boneka kecilnya, lalu ia lempar keras ke arah Wulan.


"Mode senyap kek, Lan!"


Jam dinding kamar Liya kini sedang menunjukkan pukul 03.00 WIB. pagi hari. Wulan yang kini baru saja selesai melaksanakan sholat, ia menatap Liya tak percaya. "Bangun lu, sholat tobat!"


Tak ada jawaban, Liya mengantuk dan kini sudah terlelap.


Wulan kembali duduk di samping Liya, memgabaikan Liya yang sedang terlelap. Tangannya mulai mengambil ponselnya, kemudian mulai mengecek pesan yang masuk.


"Yulia dah balik, Lan. Kalo pengen ketemu, kerumah aja!"


Alisnya terangkat, kemudian melihat nama sang pengirim.


A-lisa manoban.


Wulan menutup mulutnya, sedikit kaget, kemudian membaca ulang pesan yang tadi masuk.


"Yulia pulang?!" Jeritnya tertahan. Tangan mungilnya kini membekap mulutnya, sedangkan matanya melotot.


Liya yang mendengar jeritan Wulan pun, kini menjawab dengan mata yang masih menutup. "Mimpi lo, Lan!"


🦋🦋


Pagi hari di hari senin. Yulia masih terlelap dengan nyenyak. Setelah menjadi wisudawati terbaik di Universitas nya, Yulia kini bisa tidur dengan tenang. Tak ada lagi tugas yang mengganggu, atau bahkan skripsi yang belum ia selesaikan.


Tok tok!


Suara ketukan pintu kamarnya tak di hiraukan. Tak lama, teriakan yang cukup mengganggu mampu membuat Yulia sedikit kesal.


"Yulia! Bangun gak?!"


Tok tok tok tok!


Yulia mendengus. Sedetik kemudian, ia duduk, lalu berjalan kesal ke arah pintu.

__ADS_1


"Apa sih, Tan?" tanya Yulia setelah ia membuka pintunya.


Terlihat Alisa menampakkan cengiran-nya, membuat Yulia makin kesal karenanya.


"Gak jelas lo, Tan!"


Yulia berbalik, ingin berjalan menuju ranjangnya. Sebelum itu terjadi, Alisa terlebih dahulu menggapai lengan Yulia, lalu mendorongnya menuju kamar mandi.


"Ponakan Tante harus mandi! Cepat, ya!"


"Di bawah ada yang nunggu!" Lanjutnya berbisik.


🦋🦋


Di sisi lain, Habil bersemangat. Hari senin kali ini sangat berbeda dengan hari senin kemarin, pikirnya.


Di pagi hari tadi, ia mendapatkan kabar dari Alisa, bahwa seorang yang selalu ia tunggu kemarin sudah kembali.


Ya, Yulia. Dia kembali.


Setelah mendengar kabar tersebut, Habil bergegas untuk mengunjungi Yulia sebelum ia berangkat untuk bekerja.


"Gak sabar!" Monolognya.


Sesampainya di rumah Yulia, ia menemui Alisa. "Bentar yaa, Yulia nya mandi dulu."


Habil tersenyum menanggapinya. Telapak tangannya dingin, ia gugup, sekaligus senang.


Sesekali ia melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, hingga saat ini sudah menunjukkan pukul 06.50 WIB.


Habil gelisah, ia bimbang. "Masih lama ya, Kak?"


"Gak tau nih, lama banget kayak Ratu," jawabnya.


Habil tersenyum kikuk, seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Tante maaf, waktunya mepet banget. Saya harus kerja," ucapnya terjeda.


"Nanti saya balik lagi, sekarang saya berangkat dulu. Titip salam sama Yulia ya, Kak."

__ADS_1


Alisa yang mendengarnya pun, ia tersenyum kaku. Merasa tak enak, tetapi ia tetap mengangguk.


"Maaf ya, Bil. Besok-besok kamu kalo mau ke sini langsung ke sini aja, ya. Jangan sungkan."


🦋🦋


30 menit berlalu semenjak Yulia bangun. Yulia berjalan menuruni tangga, seraya menoleh ke sana ke mari.


"Mana? Katanya ada yang nunggu?"


Alisa mendengus, kemudian menyenderkan punggungnya ke senderan sofa. Tangannya memegang cemilan, dengan mulut yang sedang mengunyah.


"Udah berangkat! Lo mandi apa betapa, sih?!"


"Lo tau kan ini hari senin? Gak keburu sama kerjaan, ntar aja dia balik lagi, katanya!"


Yulia memutar bola matanya malas, kemudian berjalan duduk di samping Alisa. "Emang siapa, sih?"


"Habil."


Yulia merebut cemilan yang Alisa pegang, kemudian mengerutkan keningnya heran, "Habil?"


"Habil sia--,"


Mendengar ucapan Yulia yang tak selesai, Alisa menyipitkan matanya. "Jangan bilang lo lupa?!"


Alisa di abaikan.


Yulia berusaha santai, duduk dengan kaki menyilang. Tangannya tetap memegang cemilan yang kini hampir habis.


"Siapa yang nyuruh lo kabarin kalo gua udah di sini?"


"Inisiatif, sih."


"Lagian lo kenapa, sih? Ketemu dulu, kalo emang udah gak bisa sama dia, lo bilang baik-baik!" Lanjutnya.


Yulia mendengus, mengabaikan Alisa yang kini kelewat kesal.


"Gua udah ada pacar, Tan."

__ADS_1


__ADS_2