
Hari ini adalah hari senin, hari yang menjengkelkan bagi kebanyakan siswa. Habil bersiap-siap untuk pergi ke sekolahnya, memakai seragam putihnya dengan di lapisi hoody putih miliknya.
Senyumannya terukir kala ia mengingat momen dirinya bersama Yulia kemarin malam. Tangannya bergerak menyisir rambutnya, kemudian mengacaknya lagi. "Lebih bagus di acak," celetuknya, kemudian tersenyum puas.
"Temen kamu yang namanya Yulia itu ... gak kamu ajak main kesini lagi?"
Pertanyaan yang baru saja di lontarkan oleh Ani itu membuat Habil sedikit terkejut, kemudian menoleh ke arah pintu di mana Ani sedang berdiri di sana.
"Bunda kebiasaan, deh! Ketuk pintu dulu kek, Bun!" Gerutunya seraya mengelus dadanya.
"Sejak kapan seorang Bunda harus ketuk pintu kalo ke kamar anak?" Jawab Ani lalu terkekeh.
Habil berjalan mendekat, "menurut psikologi Bun, 'bunda yang baik adalah bunda yang mengetuk pintu sebelum memasuki kamar anaknya'. Bunda kok engga, sih?"
Ani menatap Habil yang kini berada di depannya, lalu berkacak pinggang. "Jadi, secara gak langsung kamu bilang kalau Bunda bukan bunda yang baik, gitu?"
Dengan cepat Habil menyengir, menggeleng seraya menangkup kedua pipi Ani gemas. "Habil gak pernah bilang gitu, tapi Bunda sendiri yang bilang!" Ucapnya, lalu tertawa.
Ani diam, menatap horor ke arah Habil yang sedang tertawa karena ulahnya. Tatapan horor dari bundanya tersebut mampu membuatnya terdiam, lalu menjauhkan kedua tangannya dari pipi bundanya.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Ani mencubit perut Habil pelan, membuat sang empunya refleks menjauh karena geli. "Bunda gak masuk kamar kamu tanpa ijin, ya! Bunda cuma di ambang pintu, salah kamu kenapa gak tutup pintunya!" ucapnya membela diri, kemudian berbalik berniat pergi.
"Jangan lupa ajak Yulia kesini, Bunda kangen!" Lanjutnya, kemudian berlalu.
Habil menatap punggung Ani yang semakin menjauh, kemudian tersenyum. "Bau-bau dapet restu nih dari Bunda!"
🦋🦋
Sekali lagi Habil berkaca pada spion motornya, seakan-akan ia mengagumi wajahnya sendiri. Ani tersenyum melihatnya, kemudian berucap. "Ganteng banget anak Bunda!"
"Padahal dulu pas hamil kamu, Bunda gak suka sama Manu Rios. Eh, malah anaknya persis dia," ucapnya seraya tertawa pelan.
"Bunda aneh, orang ganteng kayak dia gak di demenin, orang kayak si Bambang malah di suka-in!"
"Bambang siapa?"
"Oh iya salah server, Bambang 'kan bapaknya temen Habil," jawabnya dengan tawa, membuat Ani menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Dasar," celetuknya. "Ya udah, berangkat sana! Jangan lupa bawa Yulia nya kesini!"
Habil hanya bergumam, kemudian mencium tangan bundanya, lalu pipinya. "Habil berangkat, Bun!"
Ani mengangguk seraya tersenyum, membuat lesung pipinya sedikit terlihat.
__ADS_1
"Jangan pulang sebelum bawa Yulia!" Ucapnya sedikit meninggikan suaranya, membuat Habil lagi-lagi menoleh, lalu mengacungkan jempol ke arah Ani seraya tersenyum.
Jalan raya semakin padat karena kendaraan yang semakin banyak. Jam sekolah, kerja dan aktivitas lainnya baru saja di mulai pada pekan ini.
Habil yang sedang fokus mengendarai motornya dengan tas yang ia sampirkan di kedua bahunya. Terlihat sempurna, membuat siapa saja gadis yang melihatnya akan terpana karena wajah fokusnya.
Lampu hijau yang berubah menjadi kuning itu pun membuat Habil semakin menambah kecepatan motornya, mengabaikan keselamatan dirinya dan orang lain.
Tepat beberapa detik sebelum Habil melewati lampu merah, lampu tersebut berubah menjadi merah. Refleks, Habil menginjak dan menarik remnya dalam, dengan napasnya yang seakan berhenti.
Ciiitt.
Motornya berhenti tepat sebelum garis zebra cross di depannya. Ia menghela napas dalam, lalu membuangnya kasar. "Masih selamet," ucapnya bersyukur.
"Kamu kalo lampunya udah kuning, artinya kurangin kecepatan, bukan makin ngebut!" Gerutu seorang lelaki paruh baya yang baru saja berhenti di sampingnya. Lelaki dengan setelan baju kaos, dengan seorang lelaki di depannya yang sedang memakai jaket bertuliskan 'ojek online'.
Lelaki tersebut menatap jengkel. Pasalnya, ojek yang ia tumpangi tersebut hampir saja oleng karena ulah Habil yang tiba-tiba berhenti.
Habil hanya menoleh sekilas, kemudian membuang pandangannya menatap lampu yang akan menjadi hijau beberapa detik lagi.
Wajahnya datar, membuat seorang lelaki paruh baya tersebut mengumpat dalam hati.
Tiga,
Dua,
Satu.
Beberapa menit kemudian, Habil sampai di depan rumah Yulia. Ia turun, kemudian berjalan menuju pintu utama, lalu mengetuknya.
Tok tok.
"Assalamualaikum!"
Tok tok tok.
"Yulia ... Tante ...!"
Tak ada jawaban, bahkan setelah Habil menunggunya. Habil melihat jam tangannya yang kini menunjukkan pukul 06.40 WIB.
"Udah pada berangkat kali, ya?" Monolognya. Ia berkacak pinggang, dengan mata yang menatap pintu di depannya, berharap pintunya tiba-tiba terbuka.
"Tante ... Yulia ... Habil berangkat deh, ya?" Monolognya, lagi.
"Iya, hati-hati!" Jawabnya sendiri dengan nada yang di buat-buat, membuat dirinya tertawa karena ulahnya sendiri.
🦋🦋
"Tau gak lo kasus siswi jatuh dari bangunan yang belum jadi tiga tahun lalu?"
__ADS_1
"Iya, gila. Ternyata itu bukan jatuh, tapi di dorong!"
"Dan lo pada tau gak siapa yang ngedorong?"
"Psikopat!" Serunya kompak.
Habil berhenti sejenak, telinganya fokus mendengarkan. Tak heran jika sesuatu terumbar cepat karena siswa-siswinya yang aktif dalam hal bergosip.
Habil melanjutkan langkahnya, dengan wajahnya yang datar. Langkahnya tegap, pandangannya lurus dengan kedua tangannya di dalam saku celana. Rasanya ia sama sekali tidak memperdulikan apapun yang sedang di bicarakan.
"Si Yulia!"
Langkahnya kembali berhenti kala ia mendengar nama gadis incarannya di sebut. Habil menoleh ke arah di mana segerombolan siswi di dekatnya. "Yulia kenapa?" Tanyanya.
Siswi berambut pendek dengan tinggi sebahu Habil tersebut menoleh. "Hah?"
"Tadi lo nyebut nama Yulia!"
Sesaat, beberapa siswi tersebut saling tatap, lalu kembali menatap Habil. "Lo gak tau?"
Habil menggeleng acuh.
"Alumni sini, saudaranya si Yulia ternyata pernah nge-bunuh temen seangkatan," ucap salah satu siswi berambut panjang.
"Terus ngapain lo bawa-bawa Yulia?"
"Siapa tau dia keturunan pembunuh! Ya gak, Guys?"
Habil mendengus kala melihat para siswi tersebut mengangguk setuju, kemudian menggepalkan tangannya kuat seraya menatap tajam siswi di depannya. "Mending ajarin otak kalian cara nilai orang dari sikap, bukan keturunan!" ucapnya seraya menunjuk para siswi tersebut menggunakan dagunya, kemudian berlalu.
Sesaat, Habil terlihat acuh. Ia terus berjalan, mengabaikan orang-orang yang sedang bergosip di sekelilingnya.
"Jangan deket-deket Yulia, takutnya dia juga saiko!"
"Bener!"
"Eh, itu beneran emang?"
"Siapanya tuh? kakak kandungnya?"
"Tantenya, Cuy! Tapi cuma beda tiga tahun-an dari dia."
Telinganya terasa panas dan pengang. Habil mempercepat langkahnya dan semakin cepat kala ia melihat Adi yang sedang berjalan tak jauh di depannya.
"Ikut gua dulu!" Pintanya setelah berhasil menyusul Adi dan meraih tangannya, lalu mengajaknya pergi menjauh dari koridor yang penuh dengan gosip.
🦋🦋
"Bisa jelasin sama gua?"
__ADS_1
"Tentang?"
"Yulia dan tantenya!" Titahnya, kemudian menatap jam tangannya. "Lo punya waktu sepuluh menit buat jelasin, sebelum bel masuk bunyi!"