
Jam dinding kamar Yulia kini sudah menunjukkan pukul delapan malam. Yulia berjalan menuju dapur seraya melihat ponsel di tangannya. Seperti sedang melihat sesuatu di sana, dengan sesekali ia tersenyum.
Habil.
Mengirimi anda foto.
Mengirimi anda foto.
Mengirimi anda foto.
Mengirimi anda foto.
Loading ....
Yulia bersorak dalam hati, kemudian memasukkan ponselnya ke dalam saku baju tidurnya. Langkah kecilnya membawa dirinya menuju dapur untuk membuat teh hangat untuk dirinya.
Setelah selesai, ia membawanya untuk duduk di meja makan, kemudian kembali memeriksa ponselnya.
^^^Anda.^^^
^^^Empat doang?^^^
Yulia kembali tersenyum, ketika ia melihat foto dirinya dengan Habil, berdua. Memasang ekspresi wajah yang absurd. Bayangkan saja, mereka yang sama-sama me-meletkan lidahnya, dengan bola mata yang di arahkan ke tengah itu membuat keduanya terlihat lucu.
"Lucu banget," monolognya.
Ponselnya kembali bergetar, tanda sebuah pesan kembali masuk.
Habil.
Yang lainnya burik, Ya.
Yulia merenggut, langsung mengetikkan balasan untuk lawan chatting nya.
^^^Anda.^^^
__ADS_1
^^^Masak burik semua, sih?^^^
Di tempatnya, Habil tertawa pelan seraya menggeleng gemas membacanya.
"Astaga, percaya?" Tanya Habil yang tidak dapat di dengar oleh Yulia. Habil mencari satu foto yulia, kemudian mengirimnya.
Satu foto Yulia yang sedang berdiri menyamping seraya mendongak dan tertawa. Foto secara candid yang di sengaja itu terlihat sangat sempurna.
Send.
Habil tersenyum puas setelah memandangi foto tersebut, kemudian segera mengirim nya. Habil meletakkan ponselnya, kemudian menutup matanya dengan tubuh yang masih menyender di senderan tempat tidurnya.
Di tempatnya, mata Yulia berbinar ketika melihat Habil mengiriminya satu fotonya lagi. Dengan cepat ia membukanya dan lagi-lagi tersenyum senang.
"Astaga, kayaknya dia ada bakat fotografer, deh!" Serunya senang seraya menatap satu fotonya.
"Emang bener," jedanya. "Semua punya bakat masing-masing." Lanjutnya bermonolog seraya mengangguk-anggukan kepalanya tanda ia menyetujui ucapannya.
🦋🦋
"Siang ponakan!"
Yulia mendengus, menatap seseorang yang baru saja memasuki rumahnya dengan merentangkan kedua tangannya, tetapi Yulia malah diam memperhatikan.
"Se-abad gak ketemu, gak mau peluk?" Tanyanya sengaja memasang wajah miris.
Yulia menggeleng, kemudian berlalu menuju dapur. "Se-abad, ceunah." [Se-abad, katanya.]
Di tempat yang tak jauh dari Yulia, gadis itu menggeleng. "Gua bawa info buat lo!"
Kakinya melangkah mengikuti Yulia yang semakin menjauh menuju kulkas, kemudian menyenderkan dirinya pada tembok di dekat Yulia yang sedang mengambil minuman dingin.
"Beberapa hari lagi, Mama lo bakal pulang."
Yulia diam.
__ADS_1
"Satu atau dua hari lagi, mungkin?"
"Terus?"
Pertanyaan tersebut membuat lawan bicaranya kesal, lalu menghela napas kasar. "Ck!"
"Ini Mama lo, kok malah gak peduli gitu," lanjutnya seraya memutar kedua bola matanya malas.
"Tanya sama Mama," Yulia menjeda ucapannya. "Mama pulang itu karena kangen anak, atau ada sesuatu yang lebih penting buat di temuin? Partner bisnis, misal?"
Tanpa menunggu jawaban, Yulia berlalu menuju kamarnya, merasa bingung dengan dirinya. Bukannya merasa senang, ia malah merasa kesal.
"Kalo keluar, jangan lupa tutup pintu!" Teriaknya sebelum akhirnya menutup pintu kamarnya lumayan keras, membuat gadis itu mendesis pelan di bawah sana.
🦋🦋
"Gimana? Udah nemu petunjuk?"
Risa bertanya, seraya menatap Adi yang terlihat sedang bimbang. Adi, Risa, Yono, Yanto, Gunawan dan Agus kini sedang berkumpul di sebuah cafe. Sudah menerima pesanannya, tetapi Adi tak kunjung membuka suara tentang apa yang sudah ia ketahui.
Semua pandangan tertuju pada Adi yang kini sedang menatap satu per satu temannya.
"Berasa di interogasi gua," celetuknya, kemudian menyengir.
Agus mendengus, menyenderkan punggungnya di senderan kursi. "Lama lo, pegel nih gua!"
Lagi-lagi Adi menyengir, ia mengangguk. "Iya-iya!"
"Gua udah tau --"
"Tau apa?" Tanya Risa memotong penuturan Adi, membuat Adi memutar kedua bola matanya malas.
"Potong teros," sindir Adi, lalu meminum es jeruk di depannya.
Setelah puas meminum es jeruknya, Adi berucap. "Seseorang yang Yulia kenal, ada sangkut paut nya sama kematian Nuri."
__ADS_1
"Tapi Yulia gak tau apa-apa soal kasus itu," lanjutnya.