
Di hari yang sama, Aldi dan Liya sedang duduk berdampingan, seraya menatap layar televisi yang berjarak sekitar tiga meter di hadapannya.
Ting!
Liya meraih ponselnya, kemudian membaca pesan yang baru saja masuk.
Pacarnya Apipah.
100 hari jadian tuh emang harus banget di rayain, ya?
Liya terkekeh geli, kemudian berniat ingin membalasnya. Tetapi, Aldi lebih dulu merebut ponselnya.
"Apa?" Tanyanya memasang wajah tanpa dosanya, membuat Liya mendengus kesal.
"Balikin, ih!"
Aldi yang kini sedang mengabaikan Liya, ia meletakkan ponsel kekasihnya di sisi yang kosong, kemudian lanjut menonton televisi.
"Al ... Wulan lagi cerita, loh!"
"Wulan itu tuh, bukan cowo komplek sebelah, kok!"
Liya merengek, memasang wajah imutnya, seraya memanyunkan bibirnya.
"Sayang ...."
Aldi yang pada dasarnya tidak tahan ketika melihat Liya merengek, ia menghela napas panjang.
"Nih. Sepuluh menit! Gak lebih," ucapnya, seraya mengulurkan tangannya, menyerahkan ponsel milik Liya.
"Aaa ... makasih, sayangku!"
Liya bersemangat, dengan tangan kanan mengambil ponsel miliknya, lalu mulai merespon pesan yang ia terima dari Wulan.
^^^Liya.^^^
^^^100 hari?^^^
Pacarnya Apipah.
Iya, woi.
Pacarnya Apipah.
Masa iya, si Afif tadi pagi spam. Terus katanya hari ini 1-00 hari kita jadian.
Pacarnya Apipah.
Sampe ada acara ngambek dia tuh, gara-gara gua lupa.
^^^Liya.^^^
__ADS_1
^^^Hahaha, MIRIS!^^^
^^^Liya.^^^
^^^Ya udah, lanjut nanti. Aldi di rumah soalnya. See you! ^^^
Liya meletakkan ponselnya di samping, kemudian melihat ke arah Aldi yang kini sedang fokus menatap televisi. Senyum tipis mulai terukir di wajah Liya, kemudian dengan perlahan ia mulai menyenderkan kepalanya di bahu Aldi.
Kedua pipinya bersemu merah kala Aldi mulai
menggerakkan tangannya untuk merangkul, kemudian mengelus rambut hitam miliknya. Liya sedikit mendongak, menatap Aldi yang masih fokus menatap layar televisi di depannya.
"Jangan senyum, nanti giginya kering."
Dalam hitungan detik, raut wajahnya berubah menjadi masam. Liya merengut kesal, memasang wajah datar, seraya menjauhkan kepalanya dari bahu lebar milik Aldi.
"Ngeselin banget!"
"Gak bisa uwu-uwu, 'kah?" Gerutunya pelan.
Aldi terkekeh geli kala mendengar gerutu-an dari Liya. Ingin sekali ia tertawa, tetapi ia tahan.
"Aduh kesayangan saya ngomel," ejeknya.
Kini Aldi sudah beralih menatap Liya yang sedang memasang wajah masam. Aldi terkekeh geli, kemudian berucap.
"Sini-sini sayang, sini!" Ucapnya masih mengejek, seraya mengulurkan tangan kanannya.
"Aduh ... makin gemes!"
"Mau aku masakin sesuatu, gak?"
🦋🦋
Sama seperti pertemuan sebelumnya, Aldi selalu menyempatkan bertamu dan menghabiskan waktunya untuk Liya, setidaknya dua kali dalam sebulan.
Sisanya, mereka hanya perlu berkirim pesan seadanya dan sesekali menelepon atau video call.
Jam dinding di rumah Liya kini sudah menunjukkan pukul setengah satu siang. Aldi yang notabene-nya pintar memasak, kini ia bersedia memasakkan sesuatu untuk Liya yang sedari tadi menunggunya di meja makan, seraya melanjutkan aktifitas menulisnya.
Setelah tiga puluh menit lamanya, Aldi berjalan menghampiri Liya, dengan dua piring di kedua tangannya.
"Sayang, udah jadi, nih."
Liya sedikit terkejut. Pasalnya, Aldi langsung mengelus rambutnya, membuat fokusnya terganggu.
"Ih ... ngagetin aja," protesnya, seraya mengerucutkan bibirnya gemas.
Liya melirik dua piring di dekatnya yang berisi ramen, terlihat menggiurkan untuk Liya sang pecinta makanan.
Aldi terkekeh, ia mulai duduk di kursi samping Liya, kemudian menatap Liya yang kini masih memasang wajah cemberut.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Kaget, tau!"
Lagi-lagi Aldi terkekeh geli, menatap Liya yang sedang merajuk kepada dirinya.
"Maaf," ucapnya. Tangan kanannya ia gunakan untuk mengelus kembali rambut kekasihnya sebentar.
"Ya sudah, makan dulu, ya?"
Belum sempat Liya menjawab, Aldi mengambil alih laptopnya, lalu menjauhkan dari jangkauan Liya.
"Makan dulu!"
Liya kembali menatap ramen di dekatnya, kemudian beralih menatap Aldi yang juga sedang menatapnya.
"Silakan di makan, Nona Liya!"
Dan di detik berikutnya, Aldi dan Liya sama-sama tertawa karena ulah Aldi, kemudian memakan masakan Aldi setelah tawanya mereda.
🦋🦋
"Ih sebel banget, kok cepet, sih?"
"Masih kangen," ucapnya sedikit merengek.
Liya yang kini sedang mengantar Aldi ke depan rumahnya, sekaligus membujuk Aldi supaya ia tidak meninggalkan dirinya secepat ini.
Aldi mengacak rambut kekasihnya pelan, kemudian berucap. "Udah malem, gak enak sama Ayah, Ibu."
Liya mengambil tangan kiri Aldi, di sana terdapat jam tangan yang melingkar. Liya semakin kesal kala jam tangan Aldi kini sudah menunjukkan pukul 21.05 WIB.
"Ish, nyebelin!"
"Ya udah, sana pulang!"
Liya merajuk, membuat Aldi bingung harus bagaimana. Ingin tetap di sini, tetapi ia merasa tidak enak dengan keluarga Liya yang sedari tadi sudah berada di rumah.
"Senyum dulu coba," pinta Aldi.
Liya yang masih kesal, ia tersenyum hambar dan menunjukkannya kepada Aldi.
"Gak ikhlas banget!" Aldi protes, seraya mencubit pelan pipi kekasihnya.
"Udah, sana pulang!"
Aldi mengangguk, tangannya kembali mengelus rambut kekasihnya dan berucap. "Jaga kesehatan. Nanti aku kesini lagi."
Mendengar ucapan Aldi tersebut, Liya menatap Aldi penuh harap, sebelum ucapan Aldi selanjutnya merobohkan harapannya.
"Dua minggu lagi."
__ADS_1