
selama berhari-hari Alisa mencoba menghubungi teman lamanya. Sejak kejadian buruk tersebut, dirinya dan Ana sama sekali tidak berkomunikasi dan saling menjauh.
Ah, lebih tepatnya, Alisa yang menjauh.
Hari ini Alisa duduk di meja nomor empat, hatinya gelisah, kedua tangannya tertaut saling meremas jari-jarinya.
Berulang kali Alisa menoleh ke arah pintu utama, setiap kali seseorang memasuki cafe tersebut. Alisa kembali mengingat, betapa susahnya ia menghubungi Ana, bahkan dengan segala cara, sampai-sampai ia ingin menyerah rasanya.
Flashback on.
Hari pertama, Alisa berjalan menuju halaman rumah lama milik Ana, setelah membayar taksi yang ia tumpangi tentunya. Ia mengetuk pintu tersebut beberapa kali, tetapi tidak ada siapapun di sana. Hari kedua dan ketiga pun sama, sampai seorang tetangga melihatnya lalu memberitahukan kepada Alisa bahwa pemiliknya sudah lama tak menempati rumahnya tersebut.
Ana pindah.
Alisa kembali berusaha, mencari media sosial milik Ana yang sudah ia blokir dengan akun barunya.
^^^@Alisaaa^^^
^^^Ana, kita perlu ngobrol. Bisa ketemu?^^^
Begitulah isi pesan yang Alisa kirimkan, tetapi tak kunjung terbalas, bahkan setelah ia menunggunya hingga dua sampai tiga hari.
"Pengen nyerah aja ...," rengek nya frustasi.
Ting!
Satu notifikasi masuk, membuat ia dengan cepat melihat ponselnya. Matanya berbinar, senyum mirisnya berubah menjadi senyum lebar.
@Ml.fzn
Gua sibuk.
Alisa mendengus, kemudian kembali mengetikkan sesuatu dan berusaha merayunya agar Ana mau menuruti keinginannya untuk bertemu.
^^^@Alisaaa^^^
^^^Penting. Sekali ini aja, oke?^^^
@Ml.fzn
Jam 7 malam. Kirimin alamatnya, nanti ketemuan di sana.
Cukup terkejut, tetapi Alisa tersenyum puas. Sedetik kemudian, badannya panas-dingin. Ia baru ingat, sangking bersemangatnya untuk menemukan Ana, ia sampai lupa mempersiapkan bagaimana ia akan membicarakan masalah ini dengannya.
Flashback off.
Dan di sini lah Alisa berada. Cafe C'Brand milik Yulia yang saat ini lumayan ramai dan sepertinya selalu ramai, membuat Alisa memutuskan untuk mengajaknya bertemu di sana.
Tentu saja untuk berjaga-jaga.
Pintu utama terbuka, memperlihatkan seorang wanita berambut pendek, memakai dress putih selutut dengan sepatu berwarna putih.
Alisa memperhatikannya, menyalahkan dalam hatinya. Andai saja Ana memakai heels, itu akan lebih enak di lihat, pikirnya.
"Lama gak ketemu, Lis," celetuknya setelah sampai di depannya. Ana duduk di depan Alisa, lalu tersenyum.
Alisa tercengang, menatap Ana yang masih sesantai ini. Wajahnya terlihat tenang, seperti tak ada beban. Badannya sehat dan penampilan yang jauh sudah berubah dari kala terakhir mereka bertemu.
"Eh, hei, Ana!" Alisa tersenyum kaku, menatap wajah Ana sedikit enggan.
Orang tersebut bernama Ana.
Ana tersenyum, mengetuk-ngetuk meja pelan dengan telunjuk seraya mengedarkan pandangannya. "Gua pernah kesini."
Sedikit terkejut, Alisa mengangguk-anggukan kepalanya pelan. Sekali lagi, Alisa tersenyum kaku. Alisa mengumpat dalam hati kala ia tidak mengingat kalimat yang semalam sudah ia rangkai, dan malah melupakannya di waktu yang seharusnya ia mengingatnya.
__ADS_1
"Kemana aja lo?" Tanya Ana seraya menatap Alisa.
Sedikit terkejut, ia menatap Ana canggung, lalu menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Haha, kamu yang kemana aja?"
"Makin sopan aja bahasa lo," Ana menjawab, lalu terkekeh. "Gua?"
Alisa mengangguk, seraya tersenyum miris.
"Menghilang dari bumi."
Jawaban dari Ana tersebut membuat Alisa mengeryit heran untuk beberapa saat, lalu kembali berdeham karena suasana yang sepertinya mulai memburuk.
Alisa melambaikan tangannya untuk memanggil waiters, kemudian memesankan dua gelas minuman untuk dirinya dan Ana.
"Jadi, apa yang mau lo omongin?" Tanya Ana setelah waiters tersebut pergi.
"Soal Nuri, Na."
Ana mendengus, menatap malas ke arah Alisa.
"Sok, gua dengerin."
Seketika Alisa gugup. Ia menatap Ana yang masih terlihat santai, dengan kedua tangannya di atas meja dan menatapnya malas.
Alisa berdeham untuk mengurangi rasa takutnya, lalu berucap. "Aku tau kamu masih inget sama Nuri."
"Siapa, tuh?"
Alisa mendengus, mencoba bersabar. Mengingat jika ia sudah berjanji pada Nuri saat itu.
"Anak yang meninggal karena kamu dorong dari atas bangunan yang belum rampung," bisiknya se-pelan mungkin, agar tidak ada pelanggan lain yang bisa mendengarnya.
Ana mengangguk, "yang mana?"
Alisa membelalakkan matanya, menatap Ana tak percaya. "Yang mana? Lo ... lo udah nge-bunuh berapa orang?"
Alisa kembali berdeham, menghembuskan napasnya kasar. "Oke, intinya aja deh, ya. Dengerin!" Titahnya, tetapi Ana hanya membalasnya dengan gumaman.
"Gua abis ngobrol sama Nuri beberapa hari yang lalu. Dia mau lo mempertanggungjawabkan apa yang lo lakuin, Na."
"Dan dia juga mau lo sama gua gak nge-bully lagi, ngejalanin kehidupan yang lebih baik."
"Dia belum bisa pergi. Dia masih ada di ambang, Na."
Ana masih diam, tak bereaksi apapun membuat Alisa mulai kesal.
"Lo bilang suruh dengerin, bukan ngejawab, 'kan?" Tanyanya ketika Ana melihat Alisa kesal dengan sikapnya.
Sekali lagi, Alisa mendengus kesal. Bisa-bisanya Ana bersikap menyebalkan seperti ini.
"Ayolah, Ana!"
"Kemana?"
Merasa frustasi, Alisa diam, melihat Ana yang masih tenang, diam di tempat.
"Lo inget kan, kita selalu nyusahin Nuri bahkan waktu kita SMP?"
"Gua tau lo masih inget, ingatan lo gak perlu di raguin, Na!"
Alisa yang awalnya memanggil Ana dengan sebutan 'kamu', kini sudah berubah ketika Ana sangat membuatnya kesal.
"Sejak SMP Nuri di bully, Na. Entah sama kita atau yang lain."
Alisa mengingat kejadian demi kejadian, seraya kembali menceritakannya kepada Ana yang ia yakin, Ana juga pasti masih mengingatnya.
__ADS_1
"Tapi gua gak ada niatan buat ngebunuh, Na. Bahkan dulu, lo juga pernah nyoba ngebunuh Nuri, 'kan?"
"Lo masukin racun tikus diam-diam ke minumannya Nuri, sampe dia sempet kritis!"
"Kenapa gitu? Lo gak kasian sama Nuri?" Tanya Alisa menatap Ana, berharap Ana masih mempunyai sedikit simpati.
"Gak," jawabnya singkat, bahkan raut wajahnya masih terlihat tenang.
Alisa diam, memikirkan kalimat yang mungkin bisa meluluhkan hati teman lamanya.
"Bukannya semuanya udah selesai?" Tanyanya. "Bahkan Nuri udah mati. Gimana caranya ngobrol sama lo?"
"Kasusnya di tutup, karena udah sepakat itu adalah kecelakaan," lanjutnya.
Alisa menggeleng, "justru itu yang buat Nuri gak tenang, Na. Dia mau kasusnya kembali di buka!"
"By the way, orang tua lo ngasih berapa duit sampe kasusnya di tutup semudah itu?" Alisa bertanya, membuat Ana menaikkan sebelah alisnya, tetapi tetap saja, Ana tidak menjawab.
Beberapa saat mereka saling diam, berperang dengan pikirannya masing-masing.
Seketika Ana tertawa pelan, menatap Alisa tajam. "Gak ada bukti dan gak ada CCTV di atap gedung yang belum beres, 'kan?"
"Gua ... bisa jadi saksi mata."
Ana bungkam, menatap Alisa semakin tajam. "Apa?"
Merasa takut, tetapi Alisa sudah bertekad untuk ini. Alisa mengangguk, "gua bisa jadi saksi yang ngeliat itu kalau lo berusaha bilang engga ke pihak berwajib."
"Lo yang ngedorong, Nuri korban dan gua yang ngeliat. Gimana?" Alisa meruntuki dirinya sendiri, mengapa ini terdengar seperti mengancam?
Ana mengangguk, sedikit menyeringai, membuat Alisa semakin takut.
"Kalau lo temuin gua jam sepuluh malem besok, gua bakal serahin diri gua tanpa harus lo jadi saksi."
"Lo harus temuin gua sendiri," lanjutnya.
Alisa yang sedikit terkejut, ia tercengang, menatap Ana yang sedang mengeluarkan uang lima puluh ribu, meletakkannya di atas meja, kemudian berlalu.
Lima menit berlalu, setelah memastikan Ana keluar dan pergi dari Cafe, Alisa bernafas lega. Ia menghela napas panjang, kemudian membuangnya kasar.
"Lega banget," gumamnya seraya menyenderkan punggungnya di senderan kursi.
"Lo gak di apa-apa in, 'kan?" Celetuk Yulia yang membuatnya sedikit kaget. Alisa membenarkan posisi duduknya, kemudian meminum minuman yang tadi ia pesan.
"Sehat wal afiyat!" Jawabnya seraya tersenyum menatap Yulia yang terlihat sedikit khawatir.
"Serius itu Ana yang lo maksud?"
Pertanyaan itu membuat Alisa menoleh, terdapat Adi, Risa dan Yono di sana. Alisa mengangguk lalu tersenyum, "makasih udah mau mantau dari awal sampe akhir!"
Risa terkekeh, "udah kek pidato aja 'mulai awal sampe akhir'!" protesnya dengan nada suara sedikit mengejek.
Adi, Risa dan Yono kini telah menarik kursi kosong di sekitarnya, lalu duduk di dekat Alisa.
"Serius itu Ana?" Tanya Adi, lagi. Seakan tak percaya, Adi menatap pintu utama berulang kali.
"Demi apa itu Ana?" Lagi, Adi bertanya, membuat Alisa terheran-heran.
"Cakep? Jangan nyari yang cakep lo! Percuma kalo cakep tapi saiko, ntar lo tinggal nama!" Canda Yono, kemudian tertawa.
Di sisi lain, Yulia menatap orang-orang di dekatnya dengan raut wajahnya yang datar. Yulia yang sedari tadi berdiri, ia duduk di kursi yang sempat di duduki oleh Ana.
"Gua kayaknya pernah liat dia, Deh!" Celetuk Yulia membuat Alisa mengangguk.
"Dia bilang, dia pernah kesini!"
__ADS_1
Di detik berikutnya, mereka diam. Adi dan Yulia saling tatap satu sama lain, membuat ketiga temannya menatap keduanya bingung.
Di detik yang sama, Adi dan Yulia spontan bertanya. "Siapa nama panjangnya?"