
Yulia berjalan menuju parkiran dengan Wulan dan Liya di kanan dan kiri nya. Lima menit yang lalu, sebuah suara di sound system ruang kelas terdengar sangat menyenangkan. Bahkan, hampir seluruh siswa-siswi kelas dua belas bersorak senang dan berhamburan keluar karenanya.
"Pengumuman!"
"Buat semua kelas dua belas, kalian boleh pulang. Kalian di liburkan sampai hari minggu. Sampai jumpa hari senin, ya!"
"Jangan lupa belajar untuk ujian nasional!"
Yulia mendengus, mengingat kalimat terakhir yang ia dengar di sound system ruang kelas tadi. Libur untuk mengistirahatkan otak? Tidak. Tetapi libur hanya untuk terus belajar!
"Yulia!"
"Ya!"
Dua panggilan dari dua orang yang berbeda itu membuat Yulia menghentikan langkahnya. Bahkan, mau tak mau Wulan dan Liya juga ikut berhenti.
Di detik berikutnya, dua orang tiba di depannya dengan napas terengah.
Yulia diam, menatap lurus tanpa berbicara.
"Gua --"
Habil berdecak, menoleh ke samping, di mana Adi berada. Bagaimana bisa Habil dan Adi terus-menerus berbicara secara bersamaan?
"Gua ikut ke rumah lo, ya?" Lagi, Habil dan Adi berucap bersamaan. Adi menoleh kepada Habil, mendengus kemudian berkacak pinggang.
"Mau lo apa, sih?"
Habil yang mendengar itu pun, ia menggelengkan kepalanya, lalu terkekeh geli. "Mau Yulia!"
__ADS_1
"Jauh-jauh lo!" Usir Habil sedikit bercanda. Pandangannya kembali ingin menatap Yulia, tetapi ia tak ada di depannya.
Sontak mereka berdua menoleh ke belakang, terdapat Yulia dan kedua temannya yang sudah berlalu, berjalan semakin menjauh.
"Ck," decak Habil dan Adi bersamaan.
Sedetik kemudian, Habil mengejar Yulia, sedangkan Adi menghela napas seraya menatap kepergian Habil, Yulia dan kedua temannya di persimpangan.
Terdengar helaan napas panjang dari Adi, kemudian membuangnya. "Ribet!"
🦋🦋
"Ya!" Panggil Habil seraya menahan tangan kanan Yulia, membuat sang empunya menghentikan langkah lagi, lalu berbalik menatap Habil.
"Lo kan udah janji mau ajarin gua," lanjutnya memasang wajah melas. Tangannya masih setia menggenggam tangan Yulia, padahal sang empunya sudah menatapnya tajam.
"Pertama, gua bilang bakal ajarin lo di jam-jam sore!" ucapnya memberi jeda. "Kedua, lo kalo di ajarin suka ngeyel, mending belajar sendiri sana!"
"Lo gak kasian sama Bunda gua, kalo gua dapet nilai jelek?"
Yulia berpikir sebentar, kemudian menghela napas. "Tau rumah gua, 'kan? Dua jam lagi lo ke sana!"
"Kenapa gak sekarang?" Tanya nya membuat Yulia memutar kedua bola matanya malas.
"Gua mau ke cafe, Habil!" Jawabnya sedikit menekan nama Habil di sana.
"Ngapain ke cafe?" Lagi-lagi Habil bertanya, membuat tangan Yulia gatal, ingin sekali ia menggaruk wajah Habil saat ini juga.
Yulia tersenyum penuh arti, menatap tajam Habil kemudian berbisik. "Nanya lagi gua ogah ngajarin lo!"
__ADS_1
Diam.
Semenit kemudian ia baru sadar jika Yulia sudah memasuki mobilnya dan bahkan sudah mulai melaju. Habil diam, menatap nanar kepergian mobil merah yang melaju semakin jauh. Ya, Yulia meninggalkannya. Tega sekali, pikirnya.
"Ck, awas aja. Gua bakal buat lo gak bisa jauh dari gua, Ya!" Monolognya pelan.
Dari arah belakang, seseorang mendengarnya. Ia terkekeh geli, kemudian menepuk pelan pundak Habil, lalu berbisik. "Anak orang, jangan lo kasih jurus jaran goyang!" candanya lalu tertawa.
Habil melirik Aldi, mendengus lalu menepis tangan Aldi yang masih menempel di pundaknya. "Minggir!"
"Sensi amat, PMS, lo?"
Bukannya menjawab, Habil malah berjalan menuju motornya, meninggalkan Aldi yang masih berdiri, diam di tempatnya.
Aldi menggeleng, tersenyum penuh arti. "Biar jadi pelajaran buat lo, Bil."
"Setidaknya biar lo tau gimana rasanya mengejar dan berjuang."
"Biar lo gak se-enak nya lagi sama cewek," lanjutnya bermonolog lalu terkekeh pelan. Sedetik kemudian, kepalanya menunduk, menatap aspal yang kini ia injak, lalu mengambil ponselnya.
^^^Anda.^^^
^^^Besok belajar bareng, ya. Aku mau tes otak kamu, udah sampe mana paham sama pelajaran?^^^
^^^Anda.^^^
^^^Biar kita lulus bareng dengan nilai yang memuaskan.^^^
Setelah terkirim, Aldi mengantongi kembali ponselnya, kemudian berlalu, berniat untuk pulang.
__ADS_1