
Malam minggu, malam penuh drama. Mulai dari LDR yang ngga bisa ketemu, Pasangan yang kepergok selingkuh, ngapel di cafe, kerja di malam minggu, sampai jomblo yang ngopi sendirian juga ada.
Sedangkan saat ini, Yulia bersama dua teman dekatnya, kini sedang duduk di dalam restoran, diiringi dengan candaan yang membuatnya tertawa kecil. Mereka sedang menunggu Habil bersama ketiga temannya untuk sampai di sana.
"Eh, mau main gak?" Tanya Liya berceletuk, seraya menatap kedua temannya antusias.
Yulia dan Wulan menatap malas, tetapi tetap menjawab. "Naon?"
Liya tersenyum miring, menatap kedua temannya menggoda.
"Kalo Habil sama temen-temennya udah dateng, salah satu dari kita harus gombalin salah satu dari mereka."
"Misal gua yang kena, kalian yang nentuin gua harus gombalin siapa. Berlaku buat kalian juga, Gimana?"
Yulia tercengang, begitupun dengan Wulan. Mereka menatap Liya aneh, kemudian berdecak meremehkan.
"Oke, gua anggep setuju!" Putusnya sepihak.
Liya menoleh ke sekitarnya, kemudian mengangkat tangan kanannya untuk memanggil pelayan. Setelah pelayannya datang, Liya meminta satu botol air mineral yang terdapat isi di dalamnya.
Liya meminumnya hingga tersisa setengah, lalu menunjukkannya kepada Yulia dan Wulan.
"Gua bakal puter botol ini kayak main truth or dare gitu. Siapapun yang di tunjuk botol ini, dia harus gombalin salah satu dari mereka!" Jelasnya, lagi-lagi ia begitu antusias.
Entah mengapa, Liya begitu bersemangat untuk memainkan game ini. Yulia mengedikkan bahunya acuh, kemudian menyenderkan punggungnya di senderan kursi. Sedangkan Wulan, ia hanya berdeham seraya menatap malas satu temannya ini.
"Gua putar, ya!" Ucapnya seraya memutar botol mineral tersebut.
Tiga pasang mata tersebut kini fokus menatap botol mineral yang sedang berputar, menantikan botol itu berhenti.
"Yash! Bukan gua!" Seru Liya membuat beberapa mata menatapnya aneh dan di antaranya menertawakan dirinya.
Yulia mendengus sekaligus bersyukur, sedangkan Wulan hanya membelalakkan matanya tak percaya. "Gua?"
"Oke, karena lo yang dapet, lo harus nge-gombal!"
"Ya ... belain gua kek!" Rengek-nya menatap Yulia yang hanya tersenyum miris.
"Harusnya tadi kita gak usah pasrah, Lan. Udah terlanjur, anggep aja hiburan, oke?" Ucapnya menenangkan, kemudian menepuk bahu Wulan memberi semangat.
"Ah elah!"
Melihat sahabatnya seakan merasa susah, Liya terkikik pelan, kemudian berdeham. "Oke, lo harus gombalin Afif!"
Baru saja ingin mengajukan protes, Liya memotongnya. "Gak boleh protes, Lan!"
"T-tapi Li--"
__ADS_1
"Kalo protes lo yang traktir! Nangis-nangis dah tuh dompet kalo traktir 6 orang," ucapnya mengancam membuat Wulan mendengus kasar.
"Oke deal!"
"Siapin gombalan lo!" Lanjut Liya berbisik dengan nada mengejek, lalu tertawa pelan.
🦋🦋
Lima menit setelah taruhan tersebut di sepakati, Habil dan ketiga temannya sampai. Liya yang menyambut Aldi dengan senyuman, Yulia yang hanya tersenyum tipis, sedangkan Wulan hanya tersenyum masam kala matanya saling tatap dengan mata elang milik Afif.
"Sorry, kita telat banget!" Ucap Miko mewakili untuk meminta maaf karena merasa tak enak.
Kini Habil, Aldi, Afif dan Miko sudah duduk di atas kursinya masing-masing, seraya menatap Yulia, Wulan dan Liya bergantian.
"Tuh muka kenapa?" Tanya Miko seraya menunjuk wajah Wulan dengan dagunya.
"Udah, cepetan pesen. Gua laper," celetuk Yulia mengalihkan pembicaraan, membuat Wulan sedikit lega di buatnya.
Beberapa menit berlalu, di isi dengan canda dan tawa dari semuanya, termasuk Wulan. Mungkin saja dirinya sudah lupa akan beban yang baru saja di torehkan Liya beberapa saat yang lalu.
Liya mengenggol lengan Wulan, membuat Wulan menoleh. Bola mata cokelat milik Liya bergerak memberi kode, seakan-akan ia ingin berucap, 'sekarang, Lan!'
Wulan mendengus, ingin rasanya memukul Liya sekali ini saja, tetapi ia tahan. "Sialan!" Bisiknya sangat pelan, tetapi Liya masih bisa mendengarnya.
"Ekhem!" Untuk permulaan, Wulan berdeham. "Apipah!"
Wulan menyengir, "Gua mau minta ijin gombalin lo, boleh gak?"
Mendadak hening. Di meja tersebut sekarang hening, dengan mata yang saling menatap satu sama lain.
"Sokin dah mumpung gua lagi baik.'
Liya yang menahan tawa, serta Yulia yang membuang muka seraya meminum jus alpukat di depannya, ikut merasa malu.
'Bukan temen gua!' -Batinnya.
"Eh? Gak jadi deh!" Jawabnya, membuat Afif dan ketiga temannya tercengang.
"Gua maunya seriusin lo aja!" Lanjutnya.
Deg.
Afif yang sedikit salah tingkah, kini bertambah malu karena Habil dan Miko menyorakinya. Sedangkan Wulan, jantungnya berdetak dua kali lipat dari biasanya,
"Ekhem, pengen boker gua, duh!"
"Bau-bau jadian nih, Men!"
__ADS_1
"Asek ... traktiran!"
Begitulah reaksi Miko dan Habil yang sengaja menggoda Afif dan Wulan. Sedangkan Aldi dan Liya hanya terkekeh geli mendengarnya.
"Gua mau nanya deh, Fif!"
Mendengar itu, Afif langsung menoleh. Ia menatap Wulan, seraya mengangkat sebelah alisnya. "Naon?"
Wulan menyengir, "hehe, gak jadi."
"Karena lo udah jadi jawaban atas doa-doa gua selama ini!" Lanjutnya.
Lagi-lagi Habil dan Miko bersiul menggodanya, membuat Wulan menggerutu dalam hati dan menyumpah serapahi Liya di dalam hatinya.
'*Liya s*ialan!' -Batinnya.
"Lo sehat, Lan?"
Afif bertanya dengan tatapan heran, kemudian terkekeh. "Sengaja lo, biar gua makin suka sama lo?"
Kalimat tersebut membuat keadaan meja kembali hening. Jantung Wulan yang kini semakin berpacu cepat, dengan ke-lima temannya yang kini sedang menatap dengan tatapan terkejut.
"What?!"
"Hah?"
"Ulang-in Fif, ulang!"
"Mampus keceplosan, hahaha!"
"H-hah? Ngomong apa lo tadi? Tadi lagi gak fokus," Ucap Wulan berbohong, kemudian tersenyum masam.
Hening.
Rasa canggung yang tadi sempat mengganggu kini berubah menjadi kelegaan yang patut Afif syukuri. Sedetik kemudian Afif bernapas lega, termasuk Habil, Aldi dan Miko.
"Permisi?"
"Maaf Teh, Aa. Tempat ini sudah waktunya tutup."
"Terus?"
"Teteh sama Aa gak niatan pulang? Atau mau bantuin saya beres-beres meja?"
Krik krik.
Mereka saling tatap, kemudian tersenyum masam. "Punten, Teh. Kita mau bayar dulu, hehe."
__ADS_1