
Pagi hari yang sama seperti hari yang lalu, hanya saja kali ini alex tidak lagi bersikap angkuh dan dingin kepada sasha. Perlakuan alex kepada sasha sejak kejadian di perkemahan berubah seratus derajat. Alex menjadi lebih penyayang serta lebih perhatian meskipun alex tidak terlalu menunjukannya.
Kini sasha sudah sembuh dan bisa berjalan normal kembali setelah beberapa minggu menjalani terapi. Sasha pun sudah kembali melakukan aktivitasnya secara normal salah satunya adalah mengikuti perkuliahan.
Drtttt.... drttttt..... drtttttt
Dering ponsel alex memecah keheningan di meja makan. Mendengar dering ponsel alex, sasha langsung menghentikan makannya dan bertanya kepada alex "Siapa yang menelpon sepagi ini" alex tidak menjawab pertanyaan sasha dan berjalan meninggalkan meja makan untuk mengangkat sebuah telpon.
Melihat sikap alex muncul pertanyaan dalam otak sasha siapa yang menelpon sampai sampai alex harus menghindarinya. Biasanya, selama beberapa minggu terakhir ini alex tak pernah jauh dari sasha bahkan suara dering ponsel takkan mampu membuat alex kehilangan moment sarapan berduanya dengan sasha.
Tapi kali berbeda alex bahkan harus mengangkat ponsel dengan menjauh dari sasha.
"Aku pergi dulu." ucap alex terburu buru setelah mengangkat telpon dari seseorang. Bahkan sasha yang hendak mencium kedua tangan alex pun tidak di indahkan olehnya dan ciuman di kening sebelum berangkat pun tidak di lakukan alex. Muncul berjuta pertanyaan di dalam benak sasha tapi dia tetap berusaha berpikir positif. "Mungkin saja sedang ada rapat penting." ucap sasha menenangkan dirinya sendiri
"haduhhh mati aku, bisa bisa aku akan di makan oleh dosen killer itu lagi jika aku terlambat." rutuk sasha pada dirinya sendiri setelah melihat jam dinding yang menunjukkan angka jam 7.45 menit yang artinya hanya 15 menit waktu yang dibutuhkan sasha untuk menuju ke kampus yang jaraknya sekitar 4 kilometer dari rumah mereka dan rasanya itu mustahil kecuali rei mau sedikit saja mempercepat laju mobilnya.
"Rei cepatlah." ucap sasha yang berlari dan langsung memasuki mobil sedangkan rei yang kebingungan hanya bertanya"ada apa nyonya?"
"sudah tidak usah banyak tanya, kebut mobilnya atau aku akan terkena hukuman oleh dosen killer itu." perintah sasha sambil merutuk.
*****
Sasha kini berada di dalam ruangan sang dosen killer
"ini kesekian kalinya kamu terlambat memasuki kelasku. Kira kira hukuman apa yang tepat untukmu?" tanya sang dosen killer yang bernama Andre gunawan. Sasha hanya diam tertunduk merasa malu karena di perhatikan oleh dosen yang berlalu lalang. "
Sasha andriawan jawab pertanyaanku." perintah Andre dengan nada suara yang sedikit meninggi karena sasha tidak membalas perkataannya.
__ADS_1
"maaf nama saya sasha alexander andriawan pak, saya tidak akan mengulanginya lagi pak." mohon sasha dengan mengatakan kedua tangannya.
"apa penting aku tahu nama lengkapmu. Tapi baiklah kali ini akan ku maafkan dirimu, tapi jika ini terulang lagi maaf saja nona sasha alexander andriawan kamu harus mengulang mata kuliahku semester berikutnya " ucap andre
"tapi pak.. "ucap sasha hendak protes tapi langsung di potong oleh Andre
"tidak ada tapi- tapi an ." ancam andre
"terima kasih pak, kalau begitu saya permisi." balas sasha dengan nyali yang menciut meninggalkan ruangan dosen killernya dengan hati dongkol
"lebih baik aku mengunjungi kantor kak alex." ucap sasha yang seketika moodnya kembali membaik hanya dengan mengucapkan atau hanya dengan mendengar dan mengingat alex.
*****
"rei kamu boleh pulang. Aku akan pulang dengan suamiku." ucap sasha antusias begitu mereka sampai di perusahaan alex.
"selamat pagi wana." ucap sasha ramah menyapa wana sekertaris alex yang selama ini selalu membantu alex meringankan beban pekerjaannya "selamat pagi nyonya." sapa wana tidak kalah ramah. "kak alex ada?" tanya sasha. "pak alex belum datang nyonya"jawab wana yang membuat hati sasha kembali gusar karena ini pertama kalinya alex tidak pergi ke kantor "ya sudah aku masuk ke dalam ruangan kak alex saja untuk menunggunya." putus sasha lalu berjalan ke dalam ruangan alex
Karena merasa ada yang aneh akhirnya sasha memutuskan untuk menghubungi alex "halo kak. kak alex ada dimana?" tanya sasha berusaha menormalkan suasana hatinya yang sedang gusar. "aku ada di kantor. ada apa?" tanya balik alex. "tidak apa apa kak aku hanya bertanya saja hehehe." jawab sasha dengan nada suara yang di buat senormal mungkin meskipun kini di dalam hati ia merasa kecewa karena alex membohonginya. "ya sudah kalau tidak ada apa apa, aku matikan telponnya." belum sempat sasha menjawab, alex sudah terlebih dahulu mematikan sambungan ponselnya.
Raut wajah kecewa begitu tergambar jelas di wajah sasha "kenapa kak alex tega membohongiku." ucap sasha dalam hati.
Sudah hampir 3 jam sasha menunggu alex namun batang hidungnya tak nampak sekalipun. Akhirnya sasha memutuskan untuk pulang tapi belum sempat sasha keluar dari ruangan alex, dia mendengar suara alex yang sedang berbicara tapi sasha tidak tahu siapa yang bersama alex karena masih terhalang oleh pintu yang belum terbuka sepenuhnya.
"Sayang terimakasih sudah menemaniku berobat seharian ini." gelayut manja siska pada alex yang hanya di balas senyuman oleh alex.
"pak ada..... " belum selesai wana berbicara siska sudah menarik lengan alex terlebih dahulu untuk memamasuki ruangannya sedangkan wana hanya berharap dalam hati semoga saja istri bosnya tidak marah dan kecewe melihat suaminya di rangkul mesra oleh wanita lain
__ADS_1
"dasar wanita pelakor" geram wana melihat siska yang selalu saja mengganggu alex. Wana lebih memihak kepada sasha karena sasha sosok yang ramah dana rendah hati sedangkan siska sejak dahulu selalu gila hormat terutama pada semua pegawai di perusaan alex
"Ayo duduk du........" ucapan alex langsung terhenti ketika memasuki ruangannya dan melihat sasha berdiri tepat di depannya dengan raut wajah yang sudah pasti kecewa.
"ehhhh ada gadis kecil, apa yang kamu lakukan disini?" tanya siska dengan sengaja semakin mengeratkan rangkulan tangannya ke alex untuk memanas-manasi sasha. Sedangkan alex hanya diam tidak bergeming melihat tindakan siska yang sengaja memancing sasha.
Tadi pagi yang menelpon alex adalah siska karena siska terjatuh dari lantai apartementnya, meskipun tidak mengalami cedera serius hanya kepala yang di perban karena menghantam sisi tangga sehingga mengalami sedikit kebocoran tapi itu tidak berpengaruh pada kesehatan bahkan tidak menimbulkan gegar otak. Mendapat kabar siska terjatuh alex meninggalkan sasha begitu saja karena jujur di hati alex masih ada rasa tanggungjawab kepada siska yang telah banyak membantunya selama masa perkuliahan bahkan hanya siska yang menjadi temannya berbagi cerita dan sandaran saat dirinya terpuruk.
"Kak alex, kenapa masih berhubungan dengan wanita ini?" tanya sasha menunjuk siska tanpa mengindahkan pertanyaan siska. "Kenapa memangnya? aku adalah kekasihnya jangan lupakan itu gadis kecil." jelas siska. "kak alex jawab." teriak sasha yang benar benar merasa emosi. "hei gadis kecil siapa dirimu berani meneriaki kekasihku. Ingat kamu hanya gadis yang dinikahi alex sebagai syarat agar alex bisa menjadi ahli waris papanya." balas siska yang langsung menancap sampai ke relung hati terdalam sasha. Air mata sudah tidak bisa terbendung lagi "apa benar yang dikatakan wanita ini kak?" tanya siska dengan suara sesegukan dan air mata yang berlinang "sayang jawab saja dengan jujur." perintah siska ke alex sambil menatap sinis pada sasha. "iya benar tapi...." alex belum menyelesaikan ucapannya sasha sudah berlari meninggalkan ruangnya dengan hati yang terluka.
"Nyonya tidak apa apa?" tanya wana iba melihat sasha berlinang air mata. Sasha tidak menjawab pertanyaan wana.
Setelah berlari cukup jauh akhirnya sasha menghentikan langkahnya dan terduduk menangisi nasibnya. Belum sebulan kebahagiaan yang dirasakannya kini ia harus menanggung derita dari kenyataan pahit di balik pernikahannya. "kak alex hanya menjadikan aku syarat untuk mendapatkan harta, ternyata selama ini semua itu hanya ke pura puraan." sesal sasha akan nasibnya sendiri.
Hujan jatuh membasahi bumi dan sesosok perempuan masih saja berjongkok di pinggir jalan menangisi nasibnya tidak peduli dengan derasnya hujan dan dingin yang menembus kulit tidaklah sebanding dengan rasa sakit hati yang dirasakannya.
Waktu sudah menunjukkan pukul pukul 7 malam alex telah sampai di rumah tapi tidak melihat sasha
"edora." panggil alex. "iya tuan" balas edora. "apa nyonyamu sudah pulang?" tanya alex pada edora. "belum tuan" mendengar jawaban edora alex tidak lagi bertanya tapi langsung melangkahkan kakinya keluar dari rumah dan melajukan kendaraannya membelah hujan. Rasa khawatir kembali menelungkupi hatinya. Alex mengakui memang iya menikahi sasha sebagai syarat menjadi pewaris ayahnya tapi itu dulu sekarang alex benar benar mencintai sasha meskipun alex tidak bisa menjauhi siska. egois tentu saja tapi alex tetaplah tidak bisa memilih antara keduanya.
*****
"Ya tuhan hujannya deras sekali" ucap andre yang melajukan mobilnya. Andre baru saja pulang dari rumah temannya yang sedang mengadakan acara pertunangan.
"Siapa orang yang sedang berbaring di pinggir jalan saat hujan deras seperti ini?" tanya Andre bingung melihat kelakuan manusia jaman sekarang. Merasa ganjil dengan hal itu Andre menghentikan laju mobilnya lalu menghampiri orang yang sedang berbaring di pinggir jalan.
"nona apa yang sedang nona lakukan di tengah deras hujan seperti ini?" tanya andra sambil mengguncangkan badan perempuan itu. Merasa tidak ada balasan dari orang tersebut Andre memberanikan diri membalik badan orang tersebut dan terkejut mengetahui perempuan itu adalah mahasiswanya yang paling sering terlambat memasuki kelasnya.
__ADS_1
"kira kira apa yang akan di lakukan Andre yah?"