
Alex dan sasha tengah menyusuri malam dengan menggunakan mobil alex memutari kitanya untuk mencari lokasi pedagang kaki lima yang tadi sempat di lihat secara tidak sengaja oleh sasha.
Setelah sejam perjalanan sampai lah mereka di lokasi yang dituju, seketika wajah sasha berbinar bahagia melihat jejeran jajanan pedagang kaki lima yang begitu membuat nafsu makannya melonjak seketika.
"Ayo kak alex" ucap sasha antusias lalu keluar dari dalam mobil meninggalkan alex yang masih enggan untuk berbaur dengan mereka semua yang menurut alex bukanlah golongannya. Alex adalah lelaki perfeksionis dan begitu suka akan kebersihan sedangkan tempat mereka sekarang di pertanyakaan kebersihkan dan kehigenisan makanan serta tempatnya.
"Kak alex" panggil sasha dari luar mobil yang menyadarkan alex. Melihat sasha yang begitu antusias membuat alex mau, tidak mau harus menuruti kemauan sasha.
"Baiklah" ucap alex dengan nada suara terpaksa. Alex pun keluar dari dalam mobil dan menemani sasha berkeliling di sekitar tempat itu.
"Kak, kesini" sasha menarik lengan alex ke suatu tempat, Alex hanya pasrah menuruti keinginan sasha. Entah mengapa alex sulit untuk menolak keinginan sasha yang sungguh bertentangan dengan egonya.
"Nek, telur gulungnya sepuluh tusuk" sasha memesan telur gulung jajajan anak sekolahan yang bermaksud dalam jajanan kesukaannya sewaktu masih sekolah.
"Haaaa... tidak, ini tidak higienis" alex melarang sasha untuk membeli telur gulung itu karena menurutnya tidak higienis.
"Kak alex, jangan seperti itu" Sasha menegur alex karena ia kasian melihat wajah sang nenek yang tadinya sumringah saat dirinya memesan berubah menjadi murung saat alex mengatakan makanannya tidak higienis.
"Maaf" alex mengucapkan permintaan maaf kala ia melihat ekspresi sasha yang seakan-akan mengatakan bahwa perkataan alex melukai hati nenek tua renta itu.
"Nek bungkus yah 10 tusuk" sasha kembali memesan telur gulung sang nenek. Dengan senang hati nenek itu membungkuskan pesanan sasha.
"Biar aku yang bayar" ucap alex kepada sasha yang hendak mengeluarkan uang dari dalam tasnya.
"Terimakasih kak" ucap sasha dengan senyum yang mengembang
"Ini nak telur gulungnya" nenek tua renta itu memberikan telur gulung yang telah di bungkusnya ke sasha.
"Terimakasih nek" ucap sasha menerima bungkusan yang di berikan oleh nenek.
"Kembali lah ke mobil, aku akan menyusul setelah membayar telur gulungnya" alex memerintahkan sasha untuk kembali ke mobil. Dengan senyum yang merekah sasha berjalan ke mobil sambil menikmati telur gulung yang di belinya.
"Ini nek" alex menyerahkan beberapa lembar uang kepada nenek penjual telur gulung itu. Tapi ada yang aneh karena nenek itu menatapnya sangat tajam seakan sedang mengamatinya secara jelas.
__ADS_1
"Waktumu tidak banyak nak" ucap sang nenek dengan nada datar yang terdengar ambigu bagi alex
"Apa maksud nenek" alex bertanya karena nenek itu tiba-tiba saja berkata sesuatu yang tidak di mengerti alex.
"Dia adalah hidupmu, Berubahlah sebelum semua terlambat" Bukannya menjawab pertanyaannya nenek itu malah kembali berucap yang tidak jelas sambil menunjuk ke arah mobilnya.
"Ini nek terimakasih" alex meletakkan uang itu di atas meja lalu meninggal sang nenek begitu saja karena ia merasa bahwa nenek itu sudah tidak waras karena berbicara tidak jelas padanya.
"Dasar nenek tidak waras" umpat alex saat ia memasuki mobilnya
"Ada apa kak?" tanya sasha yang melihat alex datang dengan wajah kesal. alex melajukan mobilnya untuk pulang ke rumah dan ia sama sekali tidak berniat menjawab pertanyaan sasha.
Kini mereka telah sampai di rumah. Sasha senang sekali karena setelah sekian lama alex menjauhinya akhirnya ia dan alex memiliki kesempatan untuk jalan berdua dan ia sadar itu semua berkat janinnya.
"Terimakasih sayang" bisik sasha sambi mengelus perutnya. Setelah merasa lelah akhirnya sasha memutuskan untuk masuk ke dalam kamar dan beristirahat. Sedangkan alex masih memikirkan ucapan sang nenek tua tadi.
"Apa maksud nenek itu? Mengapa ia menunjuk mobilku? Kenapa aku harus berubah?" Tanya alex dalam hati. Sungguh perkataan nenek itu membebaninya tapi ia tidak tahu maksud dari perkataan nenek itu. Karena tidak mau ambil pusing perkataan sang nenek, alex memutuskan untuk menyusul sasha ke dalam alam mimpi.
*****
"Akhirnya selesai juga edora" ucap sasha yang telah selesai membantu edora menyiapkan sarapan dan sekaligus membuat bekal untuk alex
"Ia nyonya, kalau begitu saya akan hidangkan di atas meja makan. Nyonya ke meja makan saja" ucap edora karena ia tidak mau nyonya nya terlalu kecapean. Sasha menuruti perkataan edora, setelah selesai membantu edora ia langsung ke meja makan dan di meja makaan telah ada suaminya tercinta dan adik iparnya.
Mereka bertiga menikmati sarapannya dalam diam. Setelah alex selesai makan ia langsung beranjak begitu saja meninggalkan rumah karena ia ada rapat penting pagi ini. Melihat alex yang terburu-buru sasha langsung menyusulnya tapi sayang alex sudah mengendarai mobilnya sehingga sasha tidak bisa mengejarnya.
"Ya sudah biar aku antarkan saja bekalnya ke kantor kan aku sudah lama tidak main kesana" ucap sasha.
*****
Sasha sedang berada di lingkungan kantor alex. Ia baru saja sampai dan sedang berjalan memasuki kantor alex dengan sebuah bekal buatanya yang sedang ia tenteng.
"Pagi Linda" sapa sasha kepada pagawai alex
__ADS_1
"Pagi nyonya" sapa Linda balik
"Saya ke ruangan pak alex dulu yah" ucap sasha berlalu meninggalkan Linda.
Saat sasha sampai di depan ruang alex, sayup-sayup ia mendengar suara tawa seorang wanita. Hal itu membuat sasha penasaran dan memutuskan mengintip dari pintu yang sedikit terbuka.
"Kak alex mau kan?" tanya seorang wanita yang tidak lain adalah airin adik alex
"Entahlah kakak belum bisa memutuskannya" jawab alex yang membuat sasha penasaran.
"Apa yang sedang mereka bicarakan?" tanya sasha penasaran.
"Kakak harus mau menikahi naira, ia sahabatku dan juga ia sudah mencintai kak alex sejak dahulu sebelum kak alex menikahi wanita itu" ucap airin yang membuat sasha merasa tertampar sekaligus terpukul. Bisa-bisanya mereka memikirkan tentang pernikahan saat ia sedang mengandung. Air matanya menetes tanpa ia sadari, lutut sasha terasa lemas seketika.
"Baiklah kakak akan menikahi naira" ucap alex yang membuat sasha semakin syok.
"Brakkk" Sasha mendorong pintu ruangan alex dengan sekuat tenaganya tanpa buang-buang waktu ia langsung berjalan ke arah mereka dan menarik rambut airin
"Apa yang kamu lakukan" teriak airin saat sasha menjambak rambutnya dengan sangat kuat
"Apa yang aku lakukan? seharusnya aku yang bertanya apa maksud kamu menghasut suamiku untuk menikahi wanita lain" teriak sasha histeris. Untuk pertama kalinya sasha benar-benar marah dan tanpa segan menyakiti airin.
"Sasha lepaskan adikku" alex menghampiri sasha dan berusaha melepaskan tangan sasha yang menjambal kuat rambut airin
"Tidak, dia pantas menerimanya ini karena ia berusaha menghancurkan pernikahan kita kak alex" teriak sasha histeris dengan air mata yang berlinang.
"Lepaskan adikku" teriak alex yang membuat sasha semakin tidak berdaya dengan perasaan yang begitu hancur.
"Apa kak alex tidak bisa mencintaiku lagi setelah mengetahui aku mengandung anak kita?" tanya sasha dengan suara yang mulai melemah. Mendengar pertanyaan sasha membuat alex bimbang akan perasaannya sendiri.
"Tidak" jawab alex dengan nada datar membuat dunia sasha runtuh seketika. Mendengar jawaban alex seketika emosi sasha melonjak dan ia mendorong airin kuat sehingga airin jatuh mengenai meja kaca yang ada di ruangan itu. Sampai-sampai airin tidak sadarkan diri dengan darah yang bersimbah karena kepalanya mengenai sudut meja. Melihat hal itu alex tidak tinggal diam, ia menampar sasha dan mendorongnya tidak kalah keras sehingga sasha jatuh terpelanting, bekal yang berada di tangannya juga ikut jatuh berserakan.
"Kak alex sakit" ucap sasha memegangi perutnya yang sakit karena benturan tapi alex sama sekali tidak peduli akan hal itu. Ia malah meninggalkan ruangannya dengan mengendong adiknya tanpa memikirkan sasha sedikitpun. Akhirnya sasha tidak sadarkan diri untung saja pegawai alex sigap membawanya ke rumah sakit terdekat
__ADS_1