
Sasha tengah berbaring di ruang rawat salah satu klinik terdekat dari kantor alex. Sasha masih tidak sadarkan diri, ia seorang diri di klinik itu tak ada siapapun yang menemaninya karena alex sibuk mengurus airin.
"Dok" sasha memanggil seorang dokter yang saat itu tengah datang untuk memeriksanya
"Syukurlah nyonya sudah sadar diri" ucap dokter itu saat melihat sasha sudah sadarkan diri
"Dok bagiamana keadaan kandungannya saya?" tanya sasha yang khawatir jika kandungannya kenapa-napa
"Keadaan kandungan nyonya baik-baik saja, untung saja nyonya cepat di bawah kesini. Jika tidak mungkin janin nyonya tidak akan terselamtkan" penjelasan sang dokter
"Syukurlah" sasha merasa bahagia mengetahui bahwa kandungannya baik-baik saja.
Setelah selesai memeriksa keadaan sasha, dokter itupun meninggalkan sasha seorang diri. Sasha kembali larut dalam kesedihan mengetahui bahwa dirinya kini seorang diri saat menjalani masa yang sulit, suaminya tak kunjung datang bahkan tidak menghubunginya sama sekali. Ia ingin menghubungi reva sahabatnya tapi selama ini ia sadar bahwa diriny selalu saja merepotkan reva.
"Mama akan memperjuangkanmu nak" ucap sasha sambil mengelus-elus perutnya.
*****
Alex sedang berada di salah satu rumah sakit ternama yang ada di dekat kantornya. Alex gelisah menanti bagaimana keadaan adiknya. Pintu ruang itupun terbuka
"Dokter bagaimana keadaan adik saya?" alex langsung membanjiri pertanyaan kepada dokter yang memeriksa adiknya
"Adik tuan baik-baik saja" penjelasan sang dokter yang membuat alex lega. Alex langsung memasuki ruangan perawatan airin.
"Kakak" panggil airin begitu melihat kakaknya
"Iya, kakak ada disini" alex menghampiri airin dan mengelus lembut kepala adiknya.
"Kakak harus menjauhi wanita itu" ucap airin kepada alex
"Iya kakak akan menjauhinya" alex mengiyakan permintaan airin karena menurutnya sasha sudah sangat keterlaluan.
"Terimakasih kakak" airin memeluk alex begit mendengar alex mengiyakan keinginannya
*****
Malam sudah menjelang namun tak ada sedikitpun tanda-tanda kedatangan suaminya ataupun suara telepon dari suaminya. Mengetahui itu semua membuat sasha semakin putus asa untuk memperjuangkan rumah tangganya. Saat dirinya tengah larut dalam kesedihan
"Sasha" seseorang memanggil namanya
__ADS_1
"Reva" sasha kaget mengetahui bahwa sahabatnya itu mengetahui bahwa dirinya ada di klinik ini.
"Sasha kenapa kamu bisa berada di tempat ini?" suara tangis reva pecah mengetahui sahabatnya itu tengah berjuang sendiri di klinik itu. Bukannya menjawab pertanyaan reva, sasha malah ikut larut dan menangis dengan reva.
"Sa tinggalkan alex" ucap reva yang membuat sasha terdiam seketika.
"Va, aku harus kemana" ucap sasha dalam tangis karena ia tidak tahu harus kemana jika ia meninggalkan alex.
"Aku akan membantumu sa" reva benar-benar berniat untuk membantu sahabatnya itu lepas dari hubungan yang membuatnya tersiksa.
*****
Alex sedang berada di dalam kamar, ia gelisah mengetahui bahwa sasha belum pulang. Tapi ego dan gengsi yang terlalu besar membuat alex enggan untuk menghubungi sasha. Malam semakin larut hati alex semakin tidak tenang, entah mengapa wajah sasha selalu terbayang-bayang di kepalanya.
"Halo linda, kemana istri saya tadi saat saya mengantarkan airin?" alex akhirnya menelpon ke Linda untuk menyakan istrinya.
"Halo pak, ibu sasha tadi di bawa ke klinik terdekat dari kantor karena ibu sasha mengalami pendarahan" penjelasan Linda. Setelah mendengarkan penjelasan Linda alex langsung mematikan ponselnya dan mengambil kunci mobil meninggalkan rumah lalu pergi ke klinik yang di maksud oleh linda
Setelah alex sampai di klinik tersebut alex langsung menuju ke bagian menanyakan ke suster jaga tentang sasha namun yang di dapati alex hanyalah sebuah kabar bahwa sasha telah meninggalkan klinik tersebut beberapa menit yang lalu. Mendengar hal itu alex langsung meninggalkan klinik tersebut dan melajukan mobilnya menuju ke rumah saudara sepupunya yaitu andra dan andre.
"Kak Andre" alex mengetuk-ngetuk pintu rumah andre sambil memanggil nama andre
"Kemana kak Andre?" tanya alex
"Kak Andre sudah dua hari mengikuti seminar di Singapura" penjelasan andra yang membuat alex merasa putus asa.
"Kemana lagi aku harus mencari sasha?" tanya alex pada dirinya sendiri dalam hati
"Ada apa kak alex mencari kak Andre?" tanya andra
"Tidak apa-apa kalau begitu aku pamit dulu" bukannya menjawab pertanyaan andra alex malah pamit dan langsung meninggalkan andra yang kebingungan dengan tingkah kakak sepupunya itu.
Saat ini alex benar-benar dalam keadaan bimbang dan cemas hatinya berkata bahwa ada sesuatu yang tidak beres terjadi pada istrinya.
"Kemana lagi aku harus mencarimu" ucap alex sambil berpikir keras siapa yang telah membawa sasha pergi. Tiba-tiba saja ia teringat pada reva sahabat sasha, tanpa pikir panjang alex langsung mengambil kunci mobilnya dan menyalakan mobilnya bergegas ke rumah reva.
Ditengah perjalanan menuju rumah reva, ia kembali teringat pada seorang nenek tua yang di temuinya semalam saat menemani sasha yang ingin makan jajanan kaki lima.
"Apa ini maksud nenek tua itu? ternyata yang ia maksud adalah sasha, kenapa aku sama sekali tidak peka" Ucap alex frustasi begitu mengetahui bahwa nenek itu tengah membicarakan istrinya. Memang benar penyesalan selalu datang di akhir. Setelah sampai di rumah reva tanpa buang-buang waktu alex langsung mengetuk pintu rumah reva dengan harapan istrinya ada bersama reva.
__ADS_1
Tok.... tok..... tok....
(suara ketukan pintu rumah reva)
"Ia tunggu" teriak seseorang dari dalam rumah yang tidak lain adalah reva
"Kak alex?" reva heran ketika ia melihat alex sedang berdiri di depan rumahnya tengah malam seperti ini
"Ada apa kak alex kesini tengah malam buta?" tanya reva heran kenapa alex justru berada di rumahnya dan tidak menemani sasha yang sedang berada di klinik.
"Reva jujurlah, apa sasha berada disini?" alex bertanya dengan nada serius kepada reva
"Tidak" jawab reva yang syok mengetahui bahwa alex mencari sasha ke rumahnya
"Jangan berbohong padaku" bentak alex dengan wajah marah
"Aku tidak berbohong kak, kalau tidak percaya silahkan geledah rumahku" Teriak reva tidak kalah nyaring dari suara alex. Tanpa aba-aba alex langsung menggeledah seisi rumah reva, namun ia harus kembali menelan pil pahit ketika mengetahui sasha memang tidak bersama reva.
"Sial" alex membanting vas meja yang berada di ruang tamu reva, hal itu membuat reva syok.
"Apa sasha benar-benar menghilang?" tanya reva khawatir. Tapi saat reva menjenguk sasha, sahabatnya itu masih terbaring lemah di rumah sakit bahkan ia menolak bantuan reva untuk membantunya meninggalkan alex.
"Aku harus mencarinya kemana" alex menguncang bahu reva.
"Apa mungkin sasha benar-benar menyerah dan memutuskan meninggalkan kak alex?" tanya reva yang membuat alex merasa reva mengetahui sesuatu.
"Apa maksudmu?" tanya alex mencengkram kuat bahu reva.
"Aku sempat menyarankan sasha untuk meninggalkan kak alex karena aku tidak tega melihat ia selalu di sakit olehmu kak" penjelasan reva menggantung
"Lalu apa yang istriku katakan" tanya alex tidak sabaran
"Sasha sempat bertanya ia harus kemana dan aku menawarkan bantuan padanya tapi ia menolak lalu mengalihkan pembicaraan" penjelasan reva jujur
"Lalu apa lagi" tanya alex semakin putus asa
"Sasha memelukku erat lalu mengatakan ia akan berjuang untuk anaknya tapi aku tidak tahu bahwa arti dari berjuang itu adalah meninggalkan kita semua" reva meneteskan air mata setelah ia menyadari maksud dari perkataan sahabatnya
"Ini semua salahku, Kemana aku harus mencari istri dan calon anakku?" Tanya alex putus asa.
__ADS_1