
Andre dan reva sedang berdiskusi di ruang tamu setelah kepergian dokter yang memeriksa sasha.
"Ceritakan apa yang sebenarnya terjadi" ucap andre dengan nada serius menanti apa yang akan di sampaikan oleh reva.
"Aku juga tidak tahu kak, tapi yang pastinya kak alex ingin menceraikan sasha" ucap reva dengan nada iba
"Untuk sementara biarkan sasha tinggal disini, ini demi keselamatannya ibu dan calon bayi yang ada di dalam kandungannya. Apalagi usia kandungan sasha masih muda sangat rentan mengalami keguguran" penjelasan andre yang dibalas anggukan reva tanda mengerti
"Kak, aku ke kamar dulu kasian sasha sendirian" ucap reva lalu kembali ke dalam kamar tempat sasha berbaring tidak sadarkan diri
*****
Alex kembali ke rumah dengan naira yang selalu membuntutinya, sebenarnya alex sangat risih selalu di buntuti naira tapi moodnya sedang tidak mendukung untuk sekedar menegur naira.
Alex mendudukan diri di sofa ruang tamu sambil memijit pelipisnya, setiap kali berada di rumah kenangan lama itu selalu berputar-putar di kepalanya seakan-akan sedang mengejeknya karena ternyata kisah lama itu terulang kepadanya.
"Kak alex, apa perlu aku yang memijit kepala ka alex?" tanya naira menawarkan diri untuk membantu alex meringankan rasa pusing yang menderanya.
"Nai sudah malam lebih baik kamu pulang saja" jawab alex mengusir naira secara halus.
"Tapi kak aku masih ingin menemanimu" ucap naira merajuk pada alex
"Rafael" panggil alex kepada rafael orang kepercayaannya.
"Iya tuan" rafael menghadap ke alex saat mendengar alex memanggilnya.
"Tolong antarkan naira pulang" perintah alex ke rafael
"Baiklah tuan" rafael mengiyakan perintah tuannya
"Mari nona ikut saya" rafael meminta naira untuk mengikutinya tapi naira tidak langsung menuruti perintah alex
"Kakak alex aku masih ingin bersamamu" naira langsung duduk dan memeluk alex agar alex luluh dan membiarkannya tetap menemani alex.
"Rafael antarkan naira pulang" ucap alex jengah melihat tingkah manja naira tanpa berniat menggubrisnya.Tanpa berlama-lama rafael langsung melaksanakan perintah alex.
__ADS_1
"Ya sudah aku pulang dulu kak, besok aku akan menemanimu lagi" teriak naira dari kejauhan karena ia telah di paksa oleh rafael untuk mengikutinya sedangkan alex hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah naira yang membuatnya sungguh kewalahan.
Setelah kepergian naira, alex kembali menutup kedua matanya dan memijit pelipisnya untuk mengurangi rasa pusing yang menderanya. Pertengkarannya dengan sasha membuat harinya benar-benar berantakan. Rasa lelah yang menderanya begitu hebat membuat alex tertidur di sofa ruang tamu tanpa sadar.
*****
"Pusing" ucap sasha pertama kali saat ia sadarkan diri .
"Sa kamu sudah sadar" ucap reva kegirangan melihat sahabatnya itu telah sadarkan diri.
"Va" ucap sasha dengan suara yang parau. Reva langsung membantu sasha untuk duduk bersandar di tempat tidur.
"Aku siapkan makanan yah, kata dokter kamu harus makan" ucap reva menyampaikan apa yang dikatakan dokter yang tadi memeriksa sasha. Sasha hanya menganggukan kepalanya tanda setuju atas perkataan reva.
Kini reva membawakan sasha semangkok bubur dan segelas susu dan tentu saja dengan obat yang telah di resepkan oleh dokter.
"Sa ini aku sudah buatkan kamu bubur dan ingat bubur ini harus kamu makan setelah itu barulah kamu minum obat" penjelasan reva. Perhatian reva membuat sasha luluh karena reva adalah orang terdekatnya selama ini. Meskipun ia masih memiliki seorang ayah tapi sasha tidak ingin membuat ayahnya merasa bersalah karena pernikahannya yang berantakan.
"Terimakasih va, aku tidak tahu harus berkata apa lagi selain terimakasih" ucap sasha terharu melihat perhatian sahabatnya itu tanpa sadar air mata sasha kembali menetes rasa haru dan sedih kembali menyelinap kedalam hatinya.
"Va aku harus bagaimana" Air mata sasha kembali menetes tak terbendung seakan dunianya benar-benar berhenti berputar dan hanya berpusat padanya serta memojokkannya.
"Sudahlah lupakan saja masalahmu untuk sementara" ucap reva ke sasha
"Tapi va, di saat kebahagiaan perlahan menghampiri ku kenapa semuanya harus berakhir dengan begitu menyedihkan" sasha benar-benar terpuruk. Mata sembab dan bengkak selalu menghiasi wajahnya tak pernah sedikitpun senyuman menghiasj wajah cantiknya yang ada hanya wajah muram.
"Sasha kamu harus kuat, tatap aku" ucap reva memaksa sasha untuk menatapnya tapi ucapannya sama sekali tak bisa menenangkan sasha
"Sasha kamu harus kuat demi dia" reva menunjuk perut rata sasha yang membuat sasha berhenti dari tangisnya dan menatap reva kebingungan.
"Va, aa..pa maksud mu?" tanya sasha sesegukan
"Sasha dengarkan aku baik-baik, kamu harus kuat demi janin yang ada di dalam perutmu" ucao reva dengan air mata yang tidak bisa lagi di bendungnya karena merasa kasihan pada sahabatnya itu yang harus menghadapi ujian seberat ini
"Maksudnya aku hamil" ucap sasha yang masih merasa tidak percaya dengan apa yang di dengarnya
__ADS_1
"Iya sa" reva menganggukan kepalanya sebagai jawaban atas keragu-raguan sasha.
Reva berharap dengan memberitahukan sasha yang sebenarnya akan membuat ia menjadi lebih tenang dan mampu mengontrol dirinya karena ia harus menjaga janin di kandungannya tapi ternyata sasha berbuat di luar dugaan. Sasha langsung bangkit dari duduknya dan membuka laci lemari meja rias dan mengambil sebuah gunting kecil.
"Sasha sadar apa yang kamu lakukan?" teriak reva histeris melihat sasha yang akan berbuat nekat
"Va, aku tidak mau anak ini lahir tanpa seorang ayah" teriak sasha tidak kalah histeris dengan menghadapkan gunting kecil tersebut ke arah perutnya sendiri.
"Kak andre" teriak reva memanggil andre dengan berurai air mata tidak sanggup melihat sasha yang seperti orang kesetanan.
Andre yang sedang tertidur di sofa ruang tamu langsung terbangun mendengar teriakan reva. Tanpa pikir panjang andre langsung berlari ke kamar reva, kantuk yang tadi mengusainya seakan lenyap begitu saja.
Plakkkk...
Sebuah tamparan melayang di wajah sasha.
"Sadar sasha" ucap andre setelah menampar wajah sasha karena jika andre telat sedikit saja sudah bisa di pastikan sasha akan berbuat nekat. Wajah sasha semakin memerah menahan sakit karena tamparan dari andre.
"Kak andre" sasha memeluk andre untuk meluapkan semua rasa sakit yang sudah begitu menyiksanya sedangkan andre membalas pelukan sasha untuk menenangkan wanita di depannya yang sudah seperti adiknya sendiri.
"Sasha tenang saja, kami akan selalu bersamamu" ucap andre yang merasa iba melihat keadaan sasha. Sasha yang di kenalnya adalah gadis periang, ramah dan cerewet kini menjadi gadia rapuh yang seperti kehilangan harapan hidupnya.
"Sasha kamu duduk dulu yah" reva menghampiri sasha yang masih memeluk andre lalu menuntun sasha untuk duduk bersandar di tempat tidur.
"Sasha tatap kak andre" andre mengapit kedua pipi sasha dan menghadapkan pandangan sasha ke arahnya.
"Kak andre akan selalu menjagamu dan dia" ucap andre menyakinkan sasha bahwa ia tidak sendirian
"Benar kata kak andre, kami akan selalu menjagamu dan dia" ucap reva sambil menyampirkan rambut sasha yang berantakan lalu mengikatnya agar terlihat rapi.
"Kamu harus kuatkan mama mu yah sayang" ucap reva sambil mengelus perut datar sasha yang membuat sasha kembali meneteskan airmatanya.
"Maafkan mama sayang" ucap sasha masih tidak percaya bahwa ia tengah mengandung buah cintanya dan alex.
Reva dan andre akhirnya merasa lega melihat sasha yang sudah mulai tenang. Meskipun seperti itu reva dan andre tidak pernah meninggalkan sasha sedetikpun untuk menghindari hal-hal yang tidak di inginkan
__ADS_1