Suami Arogan

Suami Arogan
Tamat


__ADS_3

Hari-hari berlalu, kehidupan rumah tangga alex dan sasha semakin membaik. Alex yang semakin perhatian seiring dengan semakin membesarnya janin yang berada di dalam kandungan Sasha, andra semakin fokus pada per-kuliah-annya begitu juga dengan airin yang memutuskan melanjutkan disini tanpa berniat kembali ke inggris. Tapi lain halnya dengan reva yang mengurung diri sejak kepergian Andre. ia hanya keluar rumah untuk sekedar ke supermarket membeli bahan makanan, selebihnya ia habiskan di rumah untuk merenungi apa yang telah dialaminya.


"Nasibku memang selalu buruk" ucap reva yang tengah menatap dirinya di dalam pantulan cermin. Wajah kuyu, kusam tak terurus dan lingkaran hitam disekitar mata menjadi pemandangan yang harus ia lihat ketika menatap dirinya sendiri di dalam pantulan kaca cermin.


"Aku membencimu" ucap reva saat melihat dirinya sendiri.


"Prankkk" suara pecahan kaca. Darah mengucur deras dari buku-buku jari tangan reva yang mengepal erat. Reva sendiri yang memecahkan kaca di depannya dengan cara meninjunya.


"Aku membencimu..... tapi aku merindukanmu" teriak reva dengan air mata yang mengalir deras. Frustasi, tentu saja. Sebulan sudah kepergian Andre namun tak sekalipun ia memberi kabar kepada reva tentang keadaannya. Jangankan kabar sekedar membaca pesan singkat reva pun tak pernah ia lakukan. mungkin saja ia telah menghapus bahkan memblokir nomor reva dari ponselnya.


"Va... reva... " teriak Sasha dari luar rumah reva. Sasha memang sengaja mengunjungi reva karena ia tahu sejak kepergian Andre, reva menjadi sangat pendiam bahkan tak pernah sekalipun reva berkunjung ke rumahnya karena hari-hari nya ia habiskan untuk meratapi kepahitan hubungannya dan Andre.


"Reva..... buka pintunya" teriak Sasha yang tak kunjung mendapat respon dari reva.


"Tunggu sa" mendengar teriakan Sasha, reva langsung menghapus air mata yang masih menggenang di pelupuk matanya lalu bergegas untuk membukakan pintu untuk Sasha.


"Ada apa sa?" tanya reva begitu membuka pintu rumah. Melihat keadaan reva, Sasha terdiam tidak percaya sahabatnya kini menjadi sangat berbeda. Reva yang sekarang tampak seperti seseorang tidak terurus.


"reva tangan kamu kenapa?" tanya sasha begitu melihat darah yang menetes dari buku-buku jari reva.


"ahh... ini hanya luka kecil" jawab reva lalu menyembunyikan tangannya di belakangnya.


"Ayo cepat di obati nanti infeksi" Sasha menarik reva keruangan tamu dan mendudukannya di sofa. Setelah itu Sasha bergegas ke dapur mencari kotak P3K.


Sasha telah kembali dari dapur dan sedang mengobati tangan reva yang terluka.

__ADS_1


"Va.. lupakan Andre" ucap sasha di sela-sela kegiatannya mengobati luka reva. Reva hanya terdiam tanpa berniat membalas ucapan sasha tapi meskipun begitu mata reva tidak bisa berbohong karena air mata telah berkumpul di kelopak matanya dan siap untuk membasahi kedua pipinya.


"Va..." ucap sasha, lalu memeluk iba sahabatnya yang benar-benar telah terpuruk seperti dirinya dahulu. Tapi bedanya dahulu ialah yang meninggalkan sedangkan reva ialah yang ditinggalkan.


"Bisakah aku mati saja" ucap reva yang membuat air mata sasha mau tak mau menetes pilu.


"Hei lihat aku.... Semuanya akan baik-baik saja. Dia masih membutuhkan aunty nya" ucap sasha sambil memegang wajah reva dan menenangkan reva dengan membawa janin yang berada di dalam kandungannya.


"Oekkk.... oekkk" tiba-tiba saja reva merasa mual dan pusing. Reva langsung berlari ke dalam kamar mandi dan berusaha memuntahkan isi perutnya, melihat hal itu sasha tidak tinggal diam. Sasha membantu reva dengan memijat tengkuk reva.


"Aku rasa maag ku kambuh" ucap reva dengan wajah lesu setelah ia mual-mual.


"Aku masakan yah, aku yakin kamu pasti belum makan" ucap sasha hendak berlalu untuk menyiapkan makanan tapi langsung di cegah oleh reva.


"Tapi va.... " ucapan sasha terputus begitu saja karena tiba-tiba saja alex menelponnya dan memintanya untuk pulang.


"Ya sudah pulang saja, aku bisa mengurus diriku sendiri" ucap reva berusaha tegar di depan sasha.


"Kamu yakin va?" tanya sasha yang tidak tega melihat keadaan reva yang begitu memprihatinkan.


"Iya" jawab reva dengan senyum yang menghiasi bibirnya.


"Ya sudah. Kalau begitu aku pamit pulang tapi ingat kamu harus jaga diri yah" ucap sasha mewanti-wanti reva sebelum ia pulang.


"Siap bumil" ucap reva.

__ADS_1


Sasha telah pulang dan reva bergegas mengambil jaket yang menggantung di sudut kamarnya lalu ia berjalan ke suatu tempat.


"Kakak perlu apa?" tanya petugas di apotik itu


"Testpack" ucap reva. Mendengar ucapan reva petugas apotek itu pun langsung mengeluarkan beberapa jenis testpack.


"Silahkan dipilih kak" ucap sang petugas apotik (Apoteker)


"Yang mana yang lebih akurat?" tanya reva yang kebingungan karena ia tidak mengerti sedikitpun tentang test pack


"Yang ini kak" tunjuk sang apoteker


"Ya, saya mau yang itu" ucap reva.


Reva telah kembali dari apotek.


"Apa mungkin sekali saja bisa langsung hamil?" tanya reva pada dirinya sendiri. Ia hanya merasa bahwa maag kali ini tidak seperti maag sebelumnya. ia hanya merasa ada yang beda pada dirinya sendiri. Tapi untuk memastikan itu semua ia membutuhkan sebuah testpack.


"Semoga saja ini hanya kekhawatiran ku saja" ucap reva lalu memilih untuk tidur dan mengeceknya kebenarannya besok pagi.


Reva tengah berada di dalam kamar mandi


"Tidak" teriakkkk lalu membuang testpack yang berada di tangannya. testpack tersebut menunjukkan dua garis merah yang menandakan bahwa dirinya positif mengandung buah cintanya dan Andre. Tapi tidak seperti wanita lainnya ia merasa bahwa ini semua bencana.


"Apa yang harus ku lakukan" ucap reva yang meringkun di sudut kamar mandi dengan air mata yang mengalir dan rasa penyesalan karena telah membiarkan dirinya di hancurkan oleh rayuan manis lelaki yang ia cintai

__ADS_1


__ADS_2