
Sasha menangisi kebodohannya karena membiarkan alex salah paham akan apa yang terjadi di acara tadi.
"Kenapa aku bodoh sekali" ucap sasha merutuki kebodohannya, air mata tak henti-hentinya mengalir dan membahasi kedua pipinya, gaun dan riasan riasan cantik yang tadi melekat padanya kini sudah luntur serta tidak berbentuk lagi.
Sasha berjalan ke arah sofa di ruang tamu dan mendudukan diri di sofa. Lutut sasha semakin sakit karena ia terlalu banyak bergerak dan kedua tangannya pun terasa perih tapi itu semua tidak ada apa-apanya di bandingkan rasa sakit mendengar kata cerai yang keluar dari bibir suaminya.
"Maaf" ucap sasha dengan bibir yang bergetar suara tangis pedih dan pilu terlontar menandakan hati yang benar-benar terluka. Kata perceraian yang terlontar dari bibir alex begitu mengguncang jiwa sasha karena terlalu lengah menangis akhirnya sasha tertidur di sofa ruang tamu.
Alex yang merasa haus dan lapar memutuskan untuk ke dapur tapi saat melewati ruang tamu ia melihat sasha yang tengah tertidur dengan keadaan yang kacau, mata sembab serta riasan wajah yang luntur. Keadaan sasha saat ini tidak mampu membuatnya merasa iba bahkan simpati sedikitpun pada wanita yang berstatus nyonya alexander revano itu.
"Jal*ng" ucap alex berlalu begitu saja setelah melihat sasha yang tertidur di sofa ruang tamu. Rasa marah dalam dada alex mampu menutupi rasa cinta di hatinya kepada sasha.
*****
Waktu menunjukkan waktu tengah malam sasha masih setia berbaring di sofa ruang tamu. Sasha terbangun dari tidurnya karena ia merasa tidak nyaman sama sekali tidur di sofa.
"Pusing" ucap sasha sambil memegang kepalanya saat ia bangun dari tidur karena merasa tidak nyaman dan kedinginan karena ia masih menggunakan pakaian yang di gunakannya ke acara tadi.
Sasha memutuskan ke kamarnya dan alex untuk mengganti pakaiannya sekaligus mengobati luka yang ada di lutut dan tangan serta mengompres lebam di dahinya karena terbentur ujung tempat tidur.
"Tuhan kenapa nasibku begitu sial" ucap sasha meratapi nasib dan masalah yang bertubi-tubi menderanya seakan-akan kebahagian hanya kemustahilan baginya. Sasha berjalan ke arah meja rias dan menatap pantulan dirinya di dalam cermin meja rias.
"Apa aku begitu buruk dan nampak seperti jal*ng?" tanya sasha menatap dirinya di dalam cermin dan memperhatikan penampilannya yang begitu berantakan. Sasha lalu membersihkan diri dan kembali berbaring di atas tempat tidur untuk meratapi nasih pernikahannya yang di ambang kehancuran karena kebodohannya sendiri.
*****
Matahari telah terbit dari ufuk timur memancarkan sinarnya untuk menyinari sepasang suami istri yang berada dalam kegelapan. Sasha dan alex tidur terpisah karena alex tidak mau tidur seranjang dengan sasha akibat peristiwa itu. Alex bangun lebih awal karena ia malas harus melihat wanita yang menjadi istrinya, karena baginya sasha tidak lebih dari seorang wanita jal*ang seperti ibunya.
"Hahahaha semua wanita sama saja" ucap alex di iringi tawa hambar yang menakutkan. Alex kini berada di depan meja rias ruang tamu menatap dirinya tanpa ekspresi sedikitpun.
__ADS_1
Brakkkkk
Alex meninju cermin yang berada di depannya sampai menjadi serpihan kecil.
Edora yang mendengar suara pecahan benda yang berasal dari kamar tuannya bergegas menghampiri kamar tuannya yang sedang berada di kamar tamu dan alangkah terkejutnya ia saat membuka pintu kamar , serpihan kaca berserakan dimana-mana dan yang paling menyita perhatiannya adalah tangan sang majikan yang terkepal erat bersimbah darah.
"Astaga tuan apa yang terjadi?" teriak edora yang histeris terdengar sampai ke kamar yang di tempati sasha tidur.
"Pusing sekali, ada apa sih edora teriak pagi-pagi buta seperti ini?" ucap sasha penasaran. Dengan langkah yang tertatih karena lututnya yang masih luka dan mata sembab serta kepala yang terasa berat sasha menghampiri sumber suara edora.
"Ada apa?" tanya sasha memasuki kamar yang menjadi asal suara teriakan edora dan betapa syoknya sasha melihat lantai yang di penuhi serpihan kaca dan darah yang berasal dari tangan alex.
"Kak alex kenapa bisa seperti ini?" tanya sasha khawatir. Dengan langkah terpincang-pincang sasha menghampiri alex dengan amat hati-hati karena takut tertusuk oleh serpihan kaca yang berserakan.
"Jangan sentuh aku" ucap alex memperingatkan sasha yang sedang berjalan ke arahnya. Rasa khawatir sasha mengalahkan rasa takutnya kepada alex sehingga sasha mengacuhkan peringatan dari alex. Saat akan menggapai tangan alex sesuatu yang diluar perkiraannya terjadi.
Brukkkk ......
"Auuu" aduh sasha kesakitan karena beling itu menancap cukup dalam di kaki dan tangannya, sedangkan alex sama sekali tidak bersimpati pada sasha.
"Berhenti menggangguku atau akan ku buat kau lebih menderita daripada ini" ucap alex yang di penuhi oleh rasa amarah yang mendarah daging.
"Kak, apa hanya karena kesalahpahaman itu membuat kak alex begitu membenciku" teriak sasha frustasi. Meskipun perih di tangan dan kakinya begitu terasa tapi kebenaran yang harus di sampaikannya membuat ia sanggup melawan rasa sakitnya.
"Hanya katamu, dengar wanita jal*ng sekali jal*ng tetaplah jal*ng, ku kira kamu beda tapi nyatanya sama saja" ucap alex yang membuat pertahanan sasha akhirnya runtuh, air matapun tak lagi mampu di bendungnya.
"Edora ikut denganku, obati luka ini" perintah alex kepada edora agar mengobati luka di tangannya.
Sasha jatuh terduduk, hatinya benar-benar hancur bukan hanya hatinya tapi pernikahannya pun di ambang kehancuran.
__ADS_1
*****
Sasha telah kembali ke dalam kamarnya dan alex karena ia butuh tempat tenang untuk meratapi keadaanya dan hanya kamar ini tempat paling tenang baginya. Memori pernyataan cinta dan kata cerai alex terus berputar dan menari-nari di kepalanya membuat sasha pusing.
drtttt...drtttt...drtttt
getar ponsel sasha menandakan adanya sebuah pesan yang ternyata berasal dari tama.
"Bagaimana keadaanmu?" isi pesan tama
"Kak temui aku di taman dekat rumahku sekarang juga" ucap sasha tanpa menjawab pertanyaan tama
Tanpa berlama-lama sasha langsung berjalan ke arah taman dekat rumahnya untuk menunggu kedatangan tama. Sasha merasa kejadian yang dialaminya adalah akibat dari kebodohannya sendiri karena ia masih saja merespon tama yang membuat alex terluka dan kecewa serta tama berani berbuat demikian (memeluknya) di depan umum.
"Sayang kamu kenapa?" tanya tama khawatir saat melihat sasha penuh dengan luka yang di perban maupun luka lebam.
"Maaf kak, ada hal penting yang harus ku sampaikan padamu" ucap sasha menepis tangan tama yang hendak menyentuhnya
"Apa itu?" tanya tama penasaran
"Aku belum sempat mengakhiri hubungan kita selama aku menikah dan aku meminta dengan amat sangat berhentilah mencintaiku, carilah wanita baik di luar sana yang akan mencintaimu dan masih sendiri bukan seperti aku yang sudah bersuami" ucap sasha memohon kepada tama dengan mata yang berkaca-kaca.
"Tapi kenapa?, apa alex yang mengancammu?" tanya tama yang tidak terima sasha memutuskannya.
"Kak, ku mohon izinkan aku bahagia kak, jangan muncul lagi dalam kehidupanku anggap kita tidak pernah saling mengenal" ucap sasha dengan nada memohon serta tangis pilu yang membuat hati tama luluh. meskipun berat bagi tama mengiyakan keinginan sasha tapi demi kebahagian wanita yang sangat di cintainya tama rela mundur.
"Baiklah jika memang itu yang terbaik, maaf karena kekacauan yang ku timbulkan" ucap tama lalu meninggalkan sasha seorang diri.
"Terimakasih kak" ucap sasha pelan yang hanya mampu di dengar oleh dirinya sendiri sambil menatap punggung alex yang mulai menjauh.
__ADS_1
"Aku harus menemuai kak alex dan menceritakan bahwa aku dan kak tama tidak memiliki hubungan apapun lagi" ucap sasha semangat karena ia telah menyelesaikan akar masalah yang membuat alex marah besar padanya.