Suami Arogan

Suami Arogan
Selamat Tinggal


__ADS_3

"Kak andre pergi? Maksudnya?" tanya andra yang kebingungan apa maksud dari ucapan sasha.


"Andre kembali ke inggris" ucap sasha dengan rait wajah sedih. Apa yang dikatakan oleh sasha membuat semua yang berada di ruang makan kaget tidak terkecuali reva yang hampir saja tersedak oleh makanan yang sedang dia kunyah.


"apa" teriak andra kaget karena ia sama sekali tidak tahu menahu dengan kepergian kakaknya


"Kenapa kak andre tidak memberitahu kita?" tanya airin yang juga merasa kehilangan karena kepergian mendadak oleh andre


"Dia tadi sempat mengatakannya padaku tapi aku tidak tahu bahwa akan secepat ini dia pergi" ucap sasha lagi. Sedangkan reva hanya terdiam, berusaha untuk terlihat baik-baik saja. Namun nyatanya ialah yang paling kehilangan.


"Sekarang kak andre dimana?" tanya reva. Ia berharap dapat bertemu untuk terakhir kalinya dengan andre sebelum ia ke inggris. Ia menyesali tindakannya tadi kepada andre.


"Kak andre sedang di bandara dan katanya sejam lagi pesawatnya akan berangkat" penjelasan sasha. Tanpa aba-aba reva langsung meninggalkan ruang makan menuju ke bandara.


"Tunggu aku" teriak andra yang juga merasa bahwa kakaknya pergi karena salah paham terhadap ia dan reva. Akhirnya reva dan andra menyusul andre kebandara.


"Kenapa kamu tidak ikut?" tanya sasha kepada adik iparnya itu.


"Aku merasa mereka lah yang pantas untuk mengantar kepergian kak andre" ucap airin yang sedang mencoba tegar meskipun jauh di lubuk hatinya ia juga terluka. Tapi ia sadar bahwa wanita yabg di cintai oleh andre adalah reva.


"Kamu sudah mulai dewasa" ucap sasha bangga kepada kebesaran hati airin menerima kenyataan bahwa ia harus merelakan andre untuk wanita lain.


*****


Andra mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi tapi ternyata dalam perjalan menuju bandara terjadi sebuah kecelakaan yang membuat jalanan menjadi macet.


"Ah sial" ucap andra ketika mereka terjebak kemacetan yang cukup panjang. Dalam hati reva berdoa semoga ia bisa di pertemukan dengan andre. Hampir 10 menit mereka terjebak di dalam kemacetan dan tidak ada tanda-tanda bahwa kemacetan tersebut akan berakhir.

__ADS_1


"Va, kamu harus berjalan ke depan. Setelah melewati kemacetan carilah sebuah taksi agar lebih cepat sampai di bandara" ucap andra yang tidak tega melihat wajah reva yang terlihat begitu sedih.


"Tapi bagaimana denganmu?" tanya reva kepada andre


"Setelah kemacetan berakhir aku akan segera menyusul" ucap andra. Tanpa menunggu lama reva turun dari mobil dan berlari menyusuri jalan dengan sekuat tenaga.


"Kak andre tunggu aku"ucap reva dalam hati. Kaki kecilnya sudah terasa letih setelah hampir 10 menit berlari menyusuri kemacetan. yang cukup panjang.


"Aduhh" Reva mengadu kesakitan karena tanpa sengaja kakinya tersandung batu jalanan yang menyebabkan kuku jari kakinya terluka tapi ia sama sekaki tak menghiraukannya dan terus berlari menyusuri jalan. Tidak lama akhirnya ia melewati kemacetan dan segera mencari taksi.


*****


Setelah beberapa menit perjalanan sampailah reva di bandara


"Terimakasih pak" ucap reva sembil memberikan beberapa lembar uang kepada pengemudi taksi. Tidak menunggu lama reva langsung berlari memasuki bandara dan mencari ke sana kemari keberadaan andre tapi ternyata ia harus menelan pil kekecewaan karena tidak menemukan andre.


"Heiii kenapa menangis"ucap orang yang sedang memeluk reva yang sedang menjadi pusat perhatian setiap orang.


"Aku sedang berhalusinasi seperti mendengar suara kak andre"ucap reva dalam tangisnya


"ini memang aku" ucap orang itu yang tidak lain adalah andre dengan mengapit kedua pipi reva dengan tangannya dan mendongakkan kepala reva untuk menatapnya.


"Ka andre" reva langsung menubruk badan andre hingga mereka yang tadinya berjongkok jatuh terduduk di lantai karena gerakan refleks reva yang memeluknya begitu erat.


"Cup... cup... cup... " ucap andre mendiamkan tangis reva yang belum reda.


"Aku kira tidak akan melihatmu lagi" ucap reva sesegukan dengan wajah yang merah serta hidung meler karena tangisannya.

__ADS_1


"Hehehehe" andre hanya tertawa mendengar ucapan reva sambil mengelus-elus bahu reva


"Kak andre tidak jadi pergi?" tanya reva antusias meskipun tangisnya belum juga berhenti


"Ayo kita cari tempat yang nyaman untuk gadis cengeng ini leluasa menangis karena disini tidak kita jadi pusat perhatian" andre tidak menjawab pertanyaan reva melainkan ia mengajak reva untuk meninggalkan bandara. Reva menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan perkataan andre.


****


Andre memilih sebuah hotel yang tidak jauh dari bandara. Mereka berbincang dari hati ke hati, reva mengakui bahwa ia begitu tidak ingin Andre meninggalkannya.


"Kak, kenapa kak Andre tega tidak memberitahu ku tentang ini semua?" tanya reva dengan mata sembab dan ucapan yang terbata-bata


"Maaf sayang, aku berfikir bahwa kamu telah benar-benar membenciku" ucap andre sambil mengusap sisa air mata yang berada di pipi reva.


"Jangan pergi kak" mohon reva lalu ia memeluk erat tubuh andre.


"Tenanglah semua akan baik-baik saja, buktinya aku masih disini bersama mu" ucap andre menenangkan reva. Kemudian mereka bertatapan cukup lama dan entah siap yang memulai terlebih dahulu hingga terjadilah malam panjang yang tak terlupakan bagi keduanya


*****


Seorang wanita masih tidur hanya dengan berbalut selimut yang menutupi tubuh polosnya. ia begitu nyenyak dan senyum bahagia terpacar dari kedua sudut bibirnya. Ia meraba sekitar tempat tidur namun tidak menemukan siapapun saat itu, dengan terburu-buru ia bangkit dan melilit badannya dengan selimut lalu berjalan ke seluruh penjuru kamar untuk mencari seseorang.


"Kak andre dimana" panggil wanita itu, yang tidak lain adalah reva.


"Kak andre" panggil reva untuk yang kedua kalinya namun kembali tidak ada jawaban. Perasaan reva mulai tak menentu, ia merasa ada yang tidak beres dengan semua ini. Sampai pada akhirnya ia menemukan sepucuk surat di atas meja rias.


"Surat" ucap reva. Dengan perlahan ia membuka surat itu namun setelah membaca isi surat, reva terduduk lemas diatas lantai dengan berurai air mata

__ADS_1


"Kak andre kejam" teriakan reva memenuhi seisi ruangan. Isi surat andre hanya sebuah kata " Selamat Tinggal" yang sungguh menyakiti reva. Apalagi ia telah memberikan segalanya untuk andre dengan harapan andre tidak akan meninggalkannya, namun naas ternyata itu sama sekali tidak cukup untuk menahan andre disisinya.


__ADS_2