
Siang Hari.
Pram dan Hendra langsung pergi ke markas untuk menyiksa kembali Bella.
Pram sebenarnya sudah ingin membunuh Bella tetapi ia ingin bermain-main sebelum menjadi malaikat mautnya.
"Hend bagaimana keluarga Saputra?" Tanya Pram memecahkan keheningan di dalam mobil tersebut.
"Mereka biasa saja, Tuan. Mereka seperti tidak takut atau merasa bersalah" Jawab Hendra
"Hmm nanti setelah Kinan sehat, aku akan mempertemukannya terlebih dahulu" Ucap Pram
Hampir 30 menit di perjalanan Pram dan Hendra akhirnya sampai di Markas.
Pram langsung masuk ke ruangan penyekapan Bella. Ia sudah tak sabar ingin menghabisinya karena sudah berani menyuruh seseorang untuk mengguncang Kantor Wicaksono.
Brak
"Apa kalian sudah puas?" Tanya Pram pada anak buahnya
"Tuan" Sapa mereka dengan hormat.
"Hmmm, bersihkan terlebih dahulu" Balas Pram lalu ia beralih ke ruangan sebelah.
Ceklek.
"Selamat siang Ayah dan Ibu mertua" Ucap Pram dengan tersenyum menyeramkan.
"Tu tuan Pram" Jawab mereka dengan terbata. Mereka tidak tahu bahwa yang sudah menculiknya adalah Pram
"Ya ini aku, apa kalian terkejut?" Balas Pram dengan aura mematikan.
Pram lalu duduk di kursi yang sudah Hendra sediakan. Ia akan menyiksa nya perlahan.
"Ambilkan aku peralatan bedah" Titah Pram dengan santai.
Anak buah Pram memberikan Pisau bedah , Gunting serta Alcohol.
__ADS_1
Pram mendekati Prisilla lalu dengan sengaja ia menancapkan gunting pada kaki jenjangnya.
"Arrrghhhh sakit" Erang Prisilla dengan histeris.
"Ini bukan apa-apa di bandingkan kalian yang sudah membunuh Adikku Alice" Balas Pram dingin.
Lalu tangan Prisilla di tarik dan Pram mengukir di tangannya dengan pisau kecil yang tajam.
"Ampun Tuan , ini sakit Hiks" Ucap Prisilla menangis.
"Tuan jangan sakiti anakku" Teriak Ibu Prisilla dengan air mata yang sudah menetes.
"Ohh baiklah, aku akan menyakiti kalian saja" Balas Pram.
Lalu "Dor" Pram menembak tepat di perut Saputra.
"Arrggggggggggg" Teriak Saputra kesakitan.
"Tuan aku mohon jangan sakiti kami" Ucap Saputra terbata karena menahan sakit.
"Hei ini bukan apa-apa jika di bandingkan kalian yang sudah membunuh adikku" Teriak Pram dengan emosi.
"Siram lukanya dengan Alcohol" Titah Pram dengan emosi.
Lalu anak buah Pram menyiram Prisilla dengan Alcohol. Mereka tidak ada rasa ketakutan atau apapun.
"Arrgghhhh perihhh" Teriak Prisill dengan histeris.
Lalu Pram mendekati Ibu Prisilla dan menyayat kulit wajahnya dengan santai. Seolah mendapatkan mainan baru Pram asyik dengan 3 manusia tersebut.
**
Kinan sedang duduk di Gazebo belakang rumab mertua nya. Kinan sedang melihat Twins R yang sedang berenang.
"Mommy lihat Abang" Teriak Riffa dengan kesal.
"Abang jangan nakal" Ucap Kinan dengan gemas.
__ADS_1
"Tidak Mom" Jawab Raffa santai.
Kinan hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan anak-anaknya yang menggemaskan.
Seorang pelayan menyajikan camilan dan minuman serta handuk untuk Tuan dan Nona kecilnya.
"Nona ini makanan nya" Ucap pelayan tersebut.
"Hidangkan saja ya, Bi. Jika nanti Mas Pram pulang beritahu saya" Balas Kinan tersenyum.
"Baik Nona" Ucap pelayan tersebut lalu pergi dari halaman belakang.
Kinan memakan camilan yang sudah di resepkan oleh Dokter pada para Koki di Mansion tersebut.
Ia akan bertekad untuk sembuh secepatnya agar bisa mengandung kembali. Meski Kinan sudah mengikhlaskannya tetapi ia masih merasa sedih bahkan kehilangan.
**
Saputra dan Istrinya melihat bagaimana Prisilla di gilir oleh beberapa orang anak buah Pram dengan brutal.
Setelah puas bermain , Pram menyuruh beberapa anak buahnya untuk memuaskan Prisilla dengan di saksikan oleh Kedua Orangtuanya.
"Biadab kau Pram" Teriak Ibu Prisilla terisak.
"Aku sumpahi kau akan mati" Teriaknya kembali.
DOR.
Satu peluru menembus kepala Ibu Prisilla dan ia mati di tempat. Prisilla menangis melihat Ibu nya meninggal.
Sedangkan Saputra ia hanya bisa memejamkan mata nya menahan sakit di sekujur tubuhnya.
Pram dengan tega mencambuk Saputra dan menyiramnya dengan Air garam.
"Henti ti Ahhhh kan" Ucap Prisilla dengan lirih.
"Nikmati saja Nona" Balas salah satu anak buah Pram.
__ADS_1
Prisilla mengutuk Kinan dalam hatinya , bahkan ia mengumpat dengan kasar pada Kinan dan Pram. Anak buah Pram langsung membungkam mulutnya dengan ciuman panas.
"Aku ingin mati saja" Batin Prisilla pasrah