Suami Kejamku Bucin

Suami Kejamku Bucin
67


__ADS_3

Setelah Pram masuk kedalam mobil. Hendra langsung melajukan mobil ke arah sekolah Twins terlebih dahulu.


Selama dalam perjalanan mereka tidak ada yang bicara, mereka diam dengan pikiran masing-masing.


"Hati-hati, belajar yang benar ya" Tegas Pram lalu mengusap kepala anak-anaknya.


Twins mengangguk dan menyalami Pram dan Hendra. Setelah Twins masuk ke dalam sekolah Hendra melajukan mobil kembali ke perusahaan.


"Apa ada kabar dari mereka?" Tanya Pram.


"Mereka belum melakukan pergerakan" Jawab Hendra


"Awasi terus dan kau tempatkan di tempat calon mertuamu" Titah Pram tegas.


"Itu sudah pasti, Tuan. Saya sudah mengantisipasi nya" Balas Hendra.


Lalu mereka turun setelah sampai di perusahaan Wicaksono.


Pram dan Hendra hanya mengangguk saja saat para karyawan menyapa nya.


Di setiap sudut dinding perusahaan tersebut banyak Poto Kinan dan Twins yang menghiasi nya. Pram menyuruh orang untuk memasang beberapa poto istri dan anaknya di ruangannya juga.


Ting.


Pram dan Hendra langsung berjalan ke ruangan Pram. Di depan ruangan tersebut sudah ada Rani yang menunggu.


"Selamat pagi, Tuan" Sapa Rani tersenyum.


Pram hanya mengangguk dan masuk. Sedangkan Hendra ia berhenti terlebih dahulu.


"Nanti jam makan siang bersiaplah, Nona Kinan serta Nyonya Wulan dan Nata akan menjemputmu untuk belanja" Ucap Hendra lembut.


"Tidak ada penolakan sayang" Ucapnya kembali saat Rani akan protes.


"Baiklah, Tuan" Pasrah Rani


"Aku masuk dahulu, semangat" Ucap Hendra tersenyum.


"Semangat" Balas Rani tertawa kecil.


Lalu Hendra masuk karena ada beberapa berkas yang harus ia bahas dengan Pram.

__ADS_1


***


Makan Siang.


Kinan datang dengan membawa paperbag makan siang untuk suaminya.


Ting.


Kinan melangkah ke arah meja Rani yang terlihat khawatir.


"Kamu kenapa, Ran?" Tanya Kinan mengagetkan Rani.


"Ehh, Nyonya. Emm itu di dalem ruangan Tuan Pram tamu cewenya kegatelan banget" Ungkap Rani.


"Biar aku bereskan" Balas Kinan.


Lalu Kinan masuk dan ya benar saja seorang wanita berpakaian sexy sedang menggoda suaminya.


"Siapa kau wanita kampung berani sekali masuk ke ruangan calon suami saya" Bentak wanita tersebut.


Disana terlihat lelaki paruh baya yang sedang duduk membelakangi nya.


Lelaki bernama Glen langsung menatap ke belakang dan ia sangat kaget melihat Kinan disana.


"Nyo nyo nya" Ucap Glen terbata.


Wanita itu bingung dengan wajah sang Ayah yang seperti takut pada wanita itu.


"Ayah kenapa kau takut pada wanita kampung?" Tanya wanita


Pram sudah mengepalkan tangannya menahan emosi. Lalu ia menatap istrinya yang tengah berjalan padanya.


"Wanita kampung ini adalah istri sah nya Tuan Pram, Nona" Tekan Kinan dengan memeluk Pram mesra.


"Tidak mungkin" Kaget wanita tersebut.


"Tuan Glen, jika perusahaan anda masih ingin beridiri maka bawa pulang putri anda dan jangan biarkan dia mengganggu suami saya" Bentak Kinan


"Ba baik, Nyonya" Jawab Glen takut.


"Lona ayo kita pergi" Ajak Glen menarik lengan wanita tersebut.

__ADS_1


"Tapi Ayah sendiri yang meminta aku untuk merebut hati Tuan Pram" Balas Lona


"Sampai kapanpun aku tidak akan tergoda oleh ja*ang seperti mu" Bentak Pram marah.


"Pergi kalian" Ucap Kinan.


Mau tak mau Lona ikut pergi dengan sang Ayah. Glen tidak tau bahwa Kinan adalah istri dari Tuan muda Wicaksono.


Hendra ikut keluar dan menghampiri Rani yang sedang menunggu nya di ruangan.


**


Kinan duduk di sofa dengan mengatur nafasnya. Pram menyodorkan minuman agar istrinya lebih tenang.


"Sudah tenang?" Tanya Pram lembut.


"Hmmmm" Balas Kinan.


"Makan dulu ya, Mas" Ucap Kinan


Pram hanya mengangguk saja. Lalu Kinan membereskan makanan yang di bawa nya di meja tersebut.


Kinan makan bersama dengan Pram dan sesekali menyuapi suami manjanya.


Sedangkan Hendra dan Rani sudah menunggu di loby. Mereka sudah menebak pasti urusan 1 jam akan menjadi 2 jam bagi pasangan mesra tersebut.


"Duduk dulu" Ajak Hendra. Lalu mengajak Rani duduk di ruang tunggu.


"Sudah biasa sekali jika ada Nyonya lupa waktu, Bos mu" Gerutu Rani.


"Haha biarlah sayang" Balas Hendra tersenyum.


Blush


Wajah Rani langsung memerah seperti tomat yang siap akan di panen.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2