
Sarapan sudah siap di meja , Twins dan para Nenek , Kakek sudah berada di ruang makan. Mereka masih menunggu Kinan dan Pram yang belum juga turun.
"Bi" Panggil Wulan pada pelayan
"Iya, Nyonya" Jawab pelayan tersebut sambil mendekati Wulan.
"Tolong panggilkan , Pram dan Kinan" Titah Wulan tersenyum.
"Baik, Nyonya" Balas pelayan. Lalu pelayan tersebut langsung berlalu ke kamar majikan yang berada di lantai dua.
"Ayo sayang kalian makan duluan saja ya" Ucap Nata pada kedua cucu nya.
"Baik, Oma" Patuh Twins.
Nata dan Wulan mengambilkan makanan untuk Cucunya terlebih dahulu. Karena mereka akan pergi ke sekolah pagi ini.
**
Sedangkan pelayan sedang berusaha memanggil kedua majikannya yang masih berada di dalam kamar.
"Tuan , Nona. Nyonya besar sudah menunggu di meja makan" Ucap pelayan tersebut.
Ceklek.
Pram membuka pintu wajah kesalnya.
Glukk
Sang pelayan menelan ludah dengan kasar saat melihat wajah kesal Tuan Muda nya.
"Kau mengganggu saja. Bilang pada mereka suruh makan duluan saja. Dan bilang pada Hendra antarkan Twins sampai selamat" Ucap Pram dingin.
"Ba baik, Tuan muda" Jawab pelayan dan ia langsung memilih pergi.
"Shitttt mengganggu saja" Umpat Pram. Lalu ia masuk kembali ke kamar nya.
__ADS_1
*
Pelayan tersebut langsung ke ruang makan dengan wajah agak pucat.
"Tu tuan , Nyonya di suruh makan duluan saja. La lalu Tuan dan Nona kecil akan di antar Tuan Hendra" Ucap pelayan dengan terbata.
Sontak membuat Wulan heran dengan sikap pelayannya dan melihat wajah pelayan itu agak pucat.
"Bibi apa tidak apa-apa? Kenapa pucat?" Tanya Riffa dengan polos.
"Sudah tenanglah mungkin Pram sedang buka puasa jadi merasa terganggu. Kamu kembali ke belakang saja, Pram tidak akan macam-macam kok" Ucap Robert menenangkan.
Betrand langsung tersedak saat dengan santainya Robert mengucapkan sang menantu sedang buka puasa di depan anak-anak kecil.
Plak.
"Kau ini tidak lihat kondisi, lihat muka Cucu kita" Bisik Betrand gemas.
"Kakek.." Baru saja Riffa akan bertanya sudah langsung di potong sang Opa.
"Hah, baiklah" Dengan patuh Riffa langsung makan kembali.
Robert langsung menghela nafas lega saat Cucu kepo nya sudah tidak membahas masalah buka puasa.
Hendra menunggu di ruang keluarga. Dia sudah menerima perintah untuk mengantar anak Tuannya dahulu baru kembali lagi ke mansion.
Dengan patuh ia mengiyakan saja , karena sebenarnya ia juga tidak tahu apa yang sedang di lakukan sang Tuan pagi-pagi begini.
Twins datang dengan membawa bekal di tangannya. Mereka berpamitan terlebih dahulu pada Nenek nya.
"Hati-hati ya, Nak" Ucap Nata tersenyum.
"Oke, Oma" Jawab Riffa.
Lalu Twins menghampiri Hendra dan mengajaknya berangkat.
__ADS_1
"Ayo lets go, Om" Semangat Riffa , sedangkan sang Abang hanya menatapnya dengan malas.
Wulan terkekeh melihat wajah kesal Raffa saat Adiknya meminta di gendong oleh Hendra.
"Kau tau , Nat. Raffa itu sangat mirip dengan Pram. Wajah serta sipat dinginnya sangat menuruni Pram. Pram sejak kecil sangat Cuek dan dingin" Ucap Wulan tertawa kecil.
"Ahhh sama saja dengan Riffa , dia sangat periang seperti Kinan. Mereka memang menuruni sipat keduanya" Balas Nata tersenyum.
Lalu mereka menghampiri sang suami yang sedang bersantai pagi di gazebo belakang rumah.
**
Sedangkan Pram ia baru saja selesai setelah menggempur istrinya selepas shalat subuh tadi.
"Mas , aku lelah sekali" Keluh Kinan memejamkan mata nya.
"Yaudah kamu tidur saja ya sayang. Mas ke kantor dulu" Pamit Pram yang sudah rapi dengan setelan kantor.
Kinan hanya mengangguk saja tanpa bicara. Ia sangat lelah bahkan ia langsung terlelap saat Pram mencium keningnya lembut.
"Selamat istirahat" Ucap Pram tersenyum senang.
Lalu ia keluar kamar untuk sarapan terlebih dahulu sebelum ke kantor bersama Hendra.
Tak
Tak
Pram langsung berjalan ke arah ruang makan dan langsung duduk disana sendirian.
Ia mengambil makanan dan memulai makan dengan lahap , karena ia merasa lemas setelah bertempur dengan sang istri.
.
.
__ADS_1
.