
1 Bulan Kemudian.
Sudah 1 bulan lebih pasca masalah Bella. Kini mereka hidup dengan tenang dan damai. Kinan juga sudah membaik tinggal memulihkan rahimnya saja.
Twins R sudah aktif bersekolah kembali. hari ke hari mereka makin aktif dan pintar. Bahkan sekarang Riffa sudah tak membuka lagi Hijab nya kalau bukan di dalam kamar.
Hari ini Kinan akan pergi ke Negara A untuk berobat. Nata dan Betrand sudah datang untuk menemani sang Cucu bersama dengan Wulan dan Robert.
Sementara perusahaan akan di handel oleh sang Daddy dan Mertuanya. Sedangkan Hendra ia akan ikut bersama Pram ke Negara A tersebut.
"Kalian sudah siap?" Tanya Wulan
"Sudah Mom, Twins jangan menyusahkan Nenek dan Kakek ya, kalian harus nurut sama mereka. Dan doakan Mommy agar cepat sehat" Ucap Kinan memeluk Twins R.
"Iya Mom, aku akan selalu mendoakan Mommy" Balas Riffa sendu.
"Semuanya, aku pergi dulu maaf merepotkan kalian dengan menitipkan Twins Mom , Bun" Ucap Kinan lirih.
"Jangan bersedih, Nak. Kita tidak sama sekali di repotkan kok, kamu jangan banyak pikiran ya agar cepat pulih" Balas Wulan memeluk menantunya.
Lalu Kinan memeluk Nata dengan erat , beralih ke arah para Kakek. Mereka mengantarkan Kinan , Pram dan Hendra sampai ke Bandara.
"Hati-hati" Ucap Robert melambaikan tangan.
Twins menatap Mommy nya dengan tersenyum , mereka tak mau menangis agar sang Mommy tak kepikiran. Mereka ingin Mommy nya cepat sembuh dan memberikan Adik.
Setelah pesawat yang membawa Kinan pergi, Betrand mengajak mereka pulang tetapi akan lebih dulu ke Mall untuk sekedar bermain.
__ADS_1
Riffa sangat semangat saat mereka akan ke Mall. Dia akan membeli banyak baju dan akan bermain dengan sepuasnya.
***
Pesawat.
Kinan duduk di sebelah Pram sedangkan Hendra ia memilih duduk di depan sendiri. Pram memeluk Kinan dengan erat.
"Mas, apa aku akan sembuh?" Tanya Kinan lirih.
"Heh kok ngomong begitu, kamu pasti akan sembuh sayang, aku yakin itu" Jawab Pram mencium gemas hidung Kinan.
Kinan merebahkan kepalanya di dada bidang sang suami. Dengan senang hati Pram mengelus bahkan mencium pucuk kepala Kinan.
"Mas , jika aku boleh mengandung lagi apa kau bahagia?" Tanya Kinan dengan memainkan kancing kemeja Pram.
"Terimakasih, kau suami kejamku jadi bucin" Ucap Kinan dengan terkekeh.
"Maafkan aku yang dulu selalu menyiksamu , bahkan aku sampai tidak peduli saat kau hamil. Maafkan aku" Ucap Pram sendu.
"Aku sudah memaafkannya, Mas. Biar saja itu kenangan pahit yang akan menjadi masalalu Kita" Balas Kinan lembut.
"Terimakasih kau adalah Istri , sahabat , ibu , dan rumah bagiku dan anak-anak kita kelak" Ucap Pram. Lalu Pram mencium bibir Kinan dengan lembut. Mereka terus berciuman bahkan Kinan sudah duduk di atas paha Pram.
Hendra menghela nafas saat mendengar decapan di kursi belakangnya. Dia langsung memasang earphone agar tidak sakit telinga mendengar Tuan dan Nyonya.
Pram menggendong Kinan ke dalam kamar pribadi di pesawat tersebut tanpa melepaskan pangutannya.
__ADS_1
Pram sudah sangat merindukan Kinan karena ia harus berpuasa dan sekarang baru boleh melakukannya.
Pram meletakan Kinan dengan hati-hati. Lalu ia membuka hijab sang istri dengan seluruh yang menghalanginya.
Setelah melepaskan yang di pakai istrinya, lalu Pram melepaskan yang melekat di tubuhnya. Setelah selesai Pram langsung menindih tubuh Kinan dan bermain di dada tempat pavorite nya. Pram melakukan dengan lembut karena tak ingin mengguncang istrinya.
**
Sedangkan Hendra , ia sedang mengerjakan beberapa berkas yang ia bawa untuk perusahaan cabangnya.
"Hah nasib jomblo" Gumam Hendra
"Berkas saja yang aku bawa kemana-mana" Gumam nya kembali lalu ia terkekeh.
**
Pram dan Kinan menyelesaikan saat sudah kelelahan. Bagaimana tidak lelah , Pram terus saja membuat Kinan mengerang karena Pram sudah sangat candu dengan tubuh istrinya.
"Tidurlah" Ucap Pram saat sudah selesai dengan pelepasannya.
"Hmmm" Balas Kinan dengan lesu.
Lalu mereka tertidur dengan sangat pulas tanpa sehelai benangpun, hanya di selimuti selimut tebal saja.
.
.
__ADS_1