Suami Kejamku Bucin

Suami Kejamku Bucin
60


__ADS_3

Semua penghuni Mansion tidak ada yang tahu bahwa Kinan dan Pram sudah sampai di Mansion.


Saat ini mereka sedang berkumpul untuk sarapan pagi, semuanya sudah berkumpul.


Tap


tap


Terdengar langkah seseorang menuruni tangga yang membuat mereka heran.


"Siapa itu? Bukannya kita sudah kumpul semua" Ucap Wulan keheranan.


Lalu munculah dua orang manusia dengan senyum mengembang di bibirnyaa.


"Mommy, Daddy" Panggil Twins. Lalu Twins memeluk Kinan dan Pram bergantian.


"Selamat Pagi semuanya" Sapa Kinan tertawa kecil melihat orangtua serta mertua nya memandang kesal.


"Anak nakal kapan kalian pulang?" Kesal Wulan lalu memeluk menantunya.


"Tadi dini hari kami baru sampai di Mansion, Mom" Jawab Kinan


Lalu mereka duduk dan memulai sarapan sebelum berbicara panjang lebar.


Riffa dengan manja nya ingin di suapi oleh sang Mommy. Raffa hanya memandang nya malas saja.


"Raffa apa mau Nenek suapi?" Goda sang Nenek.


"No, aku sudah besar" Jawabnya dengan sinis.


Wulan langsung tertawa karena ia sangat senang menggoda Cucu laki-laki nya.


Kinan hanya menggeleng karena sikap dan sipat Pram hampir menurun semua ke Putranya.

__ADS_1


Setelah selesai mereka berkumpul di halaman belakang. Mereka akan menikmati waktu libur dengan berbincang.


Kinan membawa hidangan penutup ke halaman belakang di bantu pelayan.


"Sayang jangan terlalu lelah dulu" Kesal Pram.


"Maaf, hanya ini saja kok, Mas" Balas Kinan tersenyum.


Lalu pelayan menyajikan hidangan ke hadapan para majikannya.


Riffa duduk memeluk sang Mommy sedangkan Raffa duduk di sebelah Sang Daddy.


"Nak, kenapa kalian sudah pulang? Apa pengobatannya tidak berhasil?" Tanya sang Bunda dengan sendu.


"Kita pulang karena sudah selesai, Bunda. Kinan sudah di nyatakan sembuh bahkan kami saat ini sedang program hamil" Jawab Pram dengan senang.


"Yeayyy punya adik" Teriak Riffa dengan antusias. Raffa hanya tersenyum dan langsung memeluk Daddy nya karena bahagia.


"Ahh benarkah sayang?" Tanya Wulan bahagia.


Robert dan Betran tersenyum bahagia saat melihat wajah bahagia Kinan.


"Boy apa kau di suruh berpuasa oleh, Dokte?" Goda Robert


"Ya , itu sangat membuat aku kesal" Jawab Pram dengan sangat kesal bahkan wajah nya muram.


Sontak Robert langsung tertawa karena melihat wajah Putranya. Betrand hanya terkekeh saja.


"Daddy kenapa Kok puasa? Kan belum waktunya kita puasa?" Tanya Riffa dengan polosnya


"Tidak Nak, Daddy dan Kakek hanya bercanda saja" Ucap Kinan lembut.


Pram menghela nafas saat Riffa menganggukan kepala tanda mengerti.

__ADS_1


Mereka terus mengobrol membahas pengobatan yang di lakukan Kinan selama disana. Mereka sangat bahagia bahwa Kinan benar-benar telah sembuh.


Pram pamit untuk ke ruang kerja, karena ia ingin melihat beberapa berkas penting. Bahkan ia menyuruh Hendra segera ke datang ke Mansion.


"Hmm ternyata Daddy dan Ayah masih bisa menangani masalah perusahaan" Gumam Pram terkekeh.


"Aku kira mereka sudah melupakannya" Gumam nya kembali.


Lalu Pram membuka lagi berkas yang lainnya sambil menunggu Hendra datang.


Tak lama kemudian Hendra datang dan langsung masuk ke ruang kerja Tuan nya.


"Tuan" Sapa Hendra.


"Hmm, bagaimana masalah ke uangan perusahaan? Dan apakah hama itu sudah kalian bunuh" Tanya Pram.


"Untuk hama sudah saya perintahkan mereka membunuhnya tanpa sisa. Untuk masalah keuangan sudah beres dan bahkan Baron sudah mendekam di penjara, sedangkan uang perusahaan sudah kembali" Jawab Hendra dengan tegas.


"Bagus , apa ada masalah?" Tanya nya kembali.


"Tidak ada Tuan, semuanya baik-baik saja" Jawab Hendra.


Lalu mereka mengerjakan beberapa berkas agar esok hari lebih agak santai. Mereka berada disana hingga jam makan siang.


Lalu Pram mengajak Hendra makan siang bersama terlebih dahulu sebelum pulang.


Di ruang makan semua anggota sudah berkumpul bahkan Twins pun sudah duduk dengan tenang.


Kinan mengambil makan untuk Pram lalu memberikannya dengan tersenyum. Lalu ia mengambil kembali untuk Twins baru terakhir untuknya.


Mereka makan dengan tenang hanya dentingan sendok saja yang terdengar.


Bahkan Hendra juga sudah terbiasa dengan kebiasaan di Mansion tersebut. Tuan dan Nyonya Besar tidak membeda-bedakan status. Mereka sangat baik bahkan pada pelayan sekaligus.

__ADS_1


.


.


__ADS_2