Suami Posessif

Suami Posessif
Bab 10. Pilihan Delon


__ADS_3

Setelah selesai makan malam, semua orang duduk bersama di ruang tamu.


Para pria mengobrol ringan seputar perusahaan, sedangkan para wanita tidak banyak bicara.


Kal yang wajahnya sudah polos tanpa riasan lagi, kini sedang bermain dengan sang keponakan sembari mengganggu pria kecil itu.


Dea bermain ponsel, Tuti diam dengan khayalannya sendiri. Sedangkan Asti memperhatikan Kal yang sedang berinteraksi dengan bayi satu tahu di pangkuan Mina.


Wajah polos Kal benar-benar menarik perhatian Asti. Begitu cantik alami dan nampak bersinar di mata Asti. Ia tidak menyangka jika gadis yang awalnya terlihat seram kini begitu cantik.


Bahkan pakaian yang di kenakan Kal telrihat cocok di tubuh gadis itu.


"Berapa umur kamu sekarang, Kal?" Tanya Asti yang membuat Kal melihat ke arahnya.


"21 tahun, Tante. Kenapa?" Tanya Kal balik.


"Tidak ada apa-apa. Tante, hanya merasa kamu seperti masih gadis remaja."


"Itu sih karena badannya pendek, Tante." Sambar Ferdi yang tiba-tiba menyahuti kalimat Asti.


"Aku tidak pendek, hanya kurang tinggi." Kal menatap kesal pada Ferdi.


"Sama saja," ejek Ferdi yang membuat Kal mendengus.


"Sudah cukup, Ferdi. Jangan mengganggu adik kamu lagi," ucap ayah Indra melerai.


Kal menjulurkan lidahnya ke arah Ferdi, ia merasa menang karena mendapatkan dukungan snag ayah. Sedangkan Ferdi hanya mengangkat kedua bahunya tak perduli dengan ejekan Kal.


"Bisa kita bicarakan sekarang masalah perjodohannya?" Tuti buka suara karena sudah tak sabar dengan perjodohan anaknya.


"Tentu," sahut Asti.


"Jadi, siapa yang akan di jodohkan dengan Delon?" Tanya Adi menatap ayah Indra.


"Tentu saja Dea, Pak Adi. Bukankah kita sudah sepakat kalau Dea yang akan di jodohkan dengan, Nak Delon." Tuti tersenyum menatap tamu-tamunya.


"Bagaimana kalau kita bertanya lebih dulu pada, Delon? Apa dia mau atau punya pilihan lainnya?" Asti menatap anak sulungnya dengan mata yang seakan memberi kode sesuatu.


Delon yang mengerti kode dari sang mama hanya bisa menghela napas saja.


"Saya mau di jodohkan, tapi bukan dengan Dea. Melainkan dengan gadis tomboy itu." Delon menatap Kal yang sedang asik sendiri dengan keponakannya.


Kal menghentikan kegiatannya mengganggu anak Edo saat merasa dirinya terpanggil. Juga tatapan semua orang yang mengarah padanya.


"Kenapa? Apa ada yang salah?" Tanya gadis itu.


"Delon, memilih kamu untuk jadi calon istrinya. Apa kamu mau, Nak?" Tanya Asti tersenyum penuh harap pada Kal.

__ADS_1


"Bukannya ... Kak Dea yang mau di jodohin? Kenapa jadi aku?" Kal menatap bingung semua orang karena ia memang tak menyimak apa yang jadi pembicaraan tadi.


"Delon memilih kamu, Kal." Ayah Indra menatap Kal dengan senyuman lembutnya, yang membuat Kal tak bisa berkata lagi.


"Loh? Ya tidak bisa begitu dong, Jeng Asti. Kita kan sepakatnya kalau anak kamu dengan anak aku yang di jodohkan. Sedangkan Kal, dia bukan anak kandungku. Anak kandungku ya, Dea." Tuti tidak terima dengan kenyataan itu.


"Tapi anakku memilih, Kal. Bukan Dea, Bu Tuti." Santai Asti menatap Tuti dengan senyumannya.


"Tapi, Kal bukan ..." ucapan Tuti tergantung karena ayah Indra angkat suara.


"Baiklah kalau begitu, kami akan menerima perjodohan ini. Lalu, kapan kira-kira acara tunangan akan di gelar?" Tanya ayah Indra.


Adi melihat ke arah istri dan putrinya.


"Bagaimana, Del? Kapan kamu punya waktu?" Tanyanya.


"Minggu depan," sahut Delon singkat.


"Apa tidak sebaiknya langsung menikah saja, Pa?" Asti menatap suaminya lalu beralih pada sang anak.


"Kenapa begitu, Ma?" Tanya Adi.


"Delon, sudah lama sendiri. Umurnya juga sudah tak lagi muda, sudah saatnya untuk langsung menikah. Bukan lagi sekedar tunangan." Asti mengutarakan maksudnya.


"Bagaimana, Del?" Adi melihat Delon lagi.


Kal menatap malas Delon yang sejak tadi hanya bicara singkat-singkat.


Seperti mengirim pesan saja, batinnya.


"Menurut kamu bagaimana, Ndra? Kalau kalian tidak setuju langsung menikah, kita bisa adakan pertunangan lebih dulu." Adi dan ayah Indra hadap-hadapan untuk berdiskusi.


"Kalau aku sih bagaimanapun pasti setuju. Asal baik bagi kedua anak kita, karena niat baik memang harus di segerakan."


"Aku juga setuju denganmu, kalau begitu. Bagaimana dengan bulan depan? Kami akan persiapkan acara megah untuk kedua anak kita."


"Kami juga akan membantu persiapannya."


"Kalian duduk manis saja, serahkan semuanya pada kami. Yang harus kalian lakukan adalah menjaga menantuku dengan baik, jangan sampai dia lecet."


"Kalau masalah itu tenang saja. Kal, kesayangan kami. Tentu kami akan menjaganya dengan baik, karena kami memang selalu memberikan yang terbaik untuknya."


Kedua ayah itu terus saja berbincang berdua, seakan tidak ada orang lain di sana yang bisa di mintai pendapat.


Bahkan orang yang akan di nikahkan tidak di mintai pendapat juga.


"Ayah! Tidak bisakah bertanya padaku lebih dulu?" Kal menatap ayahnya dengan cemberut.

__ADS_1


Ayah Indra dan Adi menatap Kal bersamaan lalu terkekeh.


"Kalian berdua asik sendiri membicarakan masalah pernikahan tanpa melibatkan kami. Bahkan calon pengantinnya juga tidak, memangnya kalian yang mau menikah." Asti menatap suaminya malas.


"Sorry, Ma. Habisnya Papa sudah tidak sabar ingin segera memiliki menantu yang cantik dan imut itu, Ma." Adi terkekeh pada istrinya.


"Mama tahu, Pa. Mama juga begitu, tapi jangan lupakan kami yang ada di sini."


"Maaf, bukan maksud kami seperti itu. Baiklah, jadi apa pendapat kalian?" Ayah Indra menatap yang lainnya termasuk sang putri yang nampak berpikir.


"Apa kamu punya impian, ingin pesta pernikahan yang seperti apa, Kal?" Tanya Asti pada calon menantunya.


"Tidak ada, Tante. Hanya ... kalau pernikahannya bulan depan. Itu artinya saat aku akan mulai kerja magang," sahut Kal


"Kapan tepatnya kerja magang kamu di mulai?" Tanya Adi.


"Pertengahan bulan, Om."


"Kalau begitu acara akan di gelar awal bulan, jadi kalian bisa pergi bulan madu setelahnya. Dan kamu juga masih sempat untuk kerja magang," ucap Asti.


"Kamu magang dimana, Kal?" Tanya Edo penasaran.


Apa lagi di perusahaan mereka juga akan menerima anak magang. Dan formulir mengenai para pesertanya belum ada.


"Belum tahu, Mas. Soalnya perusahaannya rekomendasi dari kampus."


Delon menatap Kal dengan serius, karena ia memang tak banyak bicara. Hanya tatapan saja yang bisa ia berikan pada Kal.


"Ya sudah, kita bicarakan lagi masalah itu besok. Yang jelas sekarang, Kal dan Delon telah bertunangan secara resmi di hadapan para keluarga. Tentang pesta pernikahan, serahkan saja pada kami para orang tua," ucap Adi menutuskan.


"Iya, kamu urus saja dulu masalah magang kamu, Kal. Jangan merasa terbebani dengan masalah pernikahan ini." Ayah Indra menatap Kal tersenyum.


"Kalau begitu kamu pasangin ini untuk, Kal." Asti menyerahkan sebuah kotak cincin pada Delon.


Delon menerima kotak itu dan berdiri mendekati Kal.


"Berdiri, Kal." Perintah Edo yang di turuti oleh Kal.


Delon membuka kotak cincinnya dan mengambil isinya. Lalu memasangkan cincin berlian itu di jari manis Kal.


Semua orang tepuk tangan bahagia melihat itu, kecuali Tuti yang berwajah sangat masam. Pada hal ia sudah sangat senang tadi karena anaknya yang tertarik dengan Delon.


Jika Dea menikah dengan Delon, maka yang akan di dapatkannya bukan hanya 3 milyar dari Asti saja. Tapi ia juga bisa mebdapatkan uang banyak dari Dea anaknya.


Dea melirik mamanya yang begitu masam, ia menghembuskan napas lega karena buka ia yang di pilih. Dea juga tidak berharap menikah dengan Delon. Meski ia sempat terpana akan ketampanan Delon. Nyatanya itu hanya bentuk kekaguman saja.


Tanpa ada niatan untuk memiliki pria itu sebagai suaminya.

__ADS_1


__ADS_2