
Pagi hari....
Kal duduk diam di kursinya tanpa bersuara, bahkan wajah gadis muda itu nampak tak bersemangat dan cenderung cemberut.
"Kamu kenapa, Nak?" Tanya ayah Indra menatap Kal.
"Tidak ada," sahut Kal singkat.
"Kok cemberut gitu mukanya?"
"Huh, aku lapar, Ayah." Kal menatap ayahnya meyakinkan.
Namun pria tua itu malah menatap ragu pada putrinya. Tentu saja ia tahunapa yang terjadi pada putri bungsunya itu.
"Nih kalau Ayah tidak percaya, lihat ya!" Kal mengambil beberapa lauk ke piringnya tanpa nasi.
Gadis itu makan sayur dengan lahapnya untuk meyakinkan ayahnya kalau ia memang lapar. Padahal sesungguhnya ia sedang kesal karena keputusan ayahnya yang tak meminta pendapatnya lebih dulu.
Ayah Indra hanya diam saja memperhatikan Kal makan. Hingga ia menyadari kalau di piring putrinya tidak ada nasi.
"Mana nasi kamu?" Tanyanya.
"Tidak ada, mau makan sayur saja," sahut Kal.
"Nanti kamu tidak kenyang."
"Makan lagi."
Ayah Indra menghela napas pelan mendengar jawaban putrinya. Sudah jelaslah jika memang putrinya itu sedang kesal padanya.
"Kamu mau ayam goreng, De?" Tanya ayah Indra menawarkan ayam goreng pada Dea karena di piring gadis itu tidak ada ayam goreng.
"Mau, Yah." Dea mengangkat piringnya dan mengarahkannya ke ayah Indra yang bergerak mengambil potongan ayam.
"Nih, makan yang banyak." Ayah Indra menyerahkan potongan ayam yang di ambilnya ke piring Dea.
"Terimakasih, Yah." Gadis itu tersenyum pada ayah tirinya yang di balas senyuman pula oleh pria itu.
"Loh! Mau kemana, Kal?" Tanya ayah Indra saat mendapati Kal berdiri.
"Kuliah," sahutnya singkat sembari terus berlalu.
Kening ayah Indra mengkerut heran menatap anak gadisnya.
"Ini kan akhir pekan, mau kuliah dimana dia?" Gumam pria itu.
"Biar saja, Yah. Mungkin ada tugas yang mau di selesaikannya." Dea berucap di tengah-tengah kunyahannya.
"Iya, juga." Ayah Indra mengangguk setuju dengan apa yang di katakan anak tirinya itu.
Sedangkan Tuti hanya diam saja tanpa perduli dengan percakapan antara ayah dan anak itu. Hatinya sangat berbunga saat ini, karena ia berpikir sebentar lagi akan mendapatkan keuntungan besar.
__ADS_1
Kal sendiri sudah keluar rumah membawa helm dan tas ranselnya. Gadis itu memasuki garasi di mana motor spot besarnya berada.
Setelah motor keluar dari garasi dengan kondisi hidup. Kal langsung memacu motornya keluar dari lingkungan rumah menuju keluar komplek.
Gadis itu terus melaju dengan motornya menuju perumahan mewah lainnya yang jarak tempuhnya satu jam dari komplek perumahan ayahnya.
Tin tin
Gerbang di buka oleh Satpam yang sudah sangat hafal dengan motor Kal.
"Mas Edo di rumah tidak, Pak?" Tanya Kal pada Satpam yang membuka pintu gerbang.
"Di rumah, Non. Belum ada keluar setelah pulang lari pagi," sahut si bapak Satpam.
"Terimakasih, Pak. Aku masuk dulu."
"Silahkan, Non."
Kal membawa motornya masuk ke dalam lingkungan rumah Edo. Gadis itu memarkirkan motornya sembarangan saja karena merasa malas harus membawa ke garasi lagi.
Gadis itu langsung masuk ke dalam rumah Edo sembari memanggil nama saudaranya itu.
"Mas! Mas Edo! Mas!" Teriak gadis itu dengan wajah cemberutnya.
"Kal! Kenapa?" Kal menolehkan kepalanya ke arah ruang keluarga.
"Mana Mas Edo, Kak?" Tanya Kal pada kakak iparnya yang sedang duduk memangku anaknya.
Mina menghentikan ucapannya karena Kal yang sudah bergerak ke ruang kerja suaminya. Mina hanya bisa geleng kepala melihat Kal berlalu.
Mina sudah paham jika Kal bersikap seperti itu, pasti telah terjadi sesuatu pada gadis itu. Kal akan memaksa bertemu dengan orang yang di inginkannya jika sedang merasa bersedih atau apapun itu.
Kal membuka pintu ruang kerja Edo dengan tergesa. Ia sudah tidak tahan lagi menanggung perasaan sedihnya. Jika sang ayah tak bisa di jadikan sandaran, maka Kal akan mendatangi Edo atau Ferdi.
"Mas ..."
Pandangan Kal mengedar di ruang kerja Edi dan mendapati jika di sana ada Ferdi juga.
"Kal! Ada apa?" Edo berdiri dari duduknya mendekati Kal. Begitu juga dengan Ferdi yang turut mendekati Kal.
Jika Kal sudah tergesa menemui mereka, pasti ada sesuatu dengan gadis itu. Dan bagi Edo juga Ferdi, mendengarkan keluhan Kal selalu di uatamakan.
Karena jika Kal sudah tenang dan damai, maka mereka bisa kembali berkinsentrasi bekerja.
"Hua ... Mas ..." Kal memeluk Edo sembari menangis sedih.
"Kenapa, Kal? Siapa yang jahatin kamu?" Ferdi mengelus kepala Kal dengan perasana sedih pula.
"Kasih tahu, Mas. Siapa yang sudah buat kamu jadi sedih? Mas bakalan kasih dia pelajaran," ucap Ferdi menggebu.
"Ayah, Mas." Suara Kal terdengar lirih di telingan Edo dan Ferdi yang semakin membuat mereka tak tega.
__ADS_1
Namun juga penasaran dengan apa yang di ucapkan Kal tadi.
"Ayah, kenapa?" Tanya Edo penasaran di angguki Ferdi yang setuju dengan pertanyaan Edo.
"Ayah ... ayah mau jodohin aku, Mas. Hua ... hiks hiks."
Edo dan Ferdi mengkerutkan kening heran, merasa tak mungkin jika ayah mereka akan menjodohkan Kal.
Apa lagi sang ayah adalah pria yang cukup posesif pada Kal. Meski masih wajar, tapi Kal tidak di ijinkan bergaul sembarangan dengan pria.
Bahkan setiap Kal ingin pergi hingga lama belum kembali. Maka sang ayah akan sangat sibuk menghubungi Kal dan meminta Eso juga Ferdi mencari gadis itu.
"Masa sih, Dek?" Ragu Ferdi.
"Iya, Mas. Mamanya kak Dea yang awalnya mau jodohin aku, tapi ayah malah setuju."
Air mata Kal mengalir kembali, hati gadis itu benar-benar sakit dengan keputusan ayahnya. Apa lagi perasaannya memang belum sembuh dari penghianatan Boy dan Wina.
"Sudah, sudah, nanti Mas bicara sama ayah dulu. Bagaimana kebenarannya yang sesungguhnya," ucap Edo.
Kal melepaskan pelukannya dari Edo dan menatap saudaranya itu sembari mengelap air matanya.
"Bener ya, Mas? Mas harus bilang sama ayah kalau aku tidak mau." Kal menyusut ingusnya lalu menarik kaos yang di pakai Ferdi untung membersihkan sisa ingusnya.
"Ehm ... memang dasar bayi besar. Kotor baju Mas, Kal." Ferdi menatap bajunya yang terdapat bekas ingus adiknya.
Kal hanya diam dengan bibir yang di majukan menatap Ferdi.
"Aku bukan bayi!" Ucap Kal yang tidak pernah suka di panggil bayi.
"Kalau bukan bayi, lalu apa? Cuma bayi yang bersihin ingus sembarangan, seperti kamu itu." Tunjuk Ferdi pada kaosnya yang malang.
Kal yang tidak terima di sebut bayi lagi oleh Ferdi, langsung melompat ke gendongan pemuda itu. Kal bahkan tanpa ragu mengusap-usapkan hidungnya ke pundak Ferdi.
"Rasain jurus bayi besar nempel buat rusuh."
Ferdi yang mendapatkan serangan dari Kal berusaha menghindar. Meski sia-sia karena gadis itu sudah nemplok dan meletakkan hidungnya di pundaknya.
"Astaga, Kal. Mas, bisa tidak laku kalau begini, tidak akan ada perempuan yang mau kalau Mas bau ingus." Pasrah Ferdi dengan apa yang di lakukan Kal.
"Rasain, gendong aku sampe keluar." Manja Kal melingkarkan kedua tangannya di leher Ferdi.
Sedangkan kedua kakinya melingkar di pinggang Ferdi erat. Kepalanya di letakkan di pundak kanan yang tak di berinya bekas ingus.
"Hah ..." Ferdi bergerak keluar dengan Kal di gendongannya.
Edo hanya menjadi penonton kedua adiknya sembari tersenyum.
Kal yang selalu mereka manjakan memang kerap kali bertingkah layaknya anak kecil pada keduanya. Meski mereka juga mengajari Kal bela diri dan lainnya untuk pertahanan diri.
Kal tetaplah perempuan yang senang di manja dan bermanja. Apa lagi ia sangat kekurangan kasih sayang sosok ibu.
__ADS_1
Tidak pernah malu untuk menangis dan merengek manja pada ayah dan kedua saudara laki-lakinya. Meski kini gadis itu sudah dewasa, namun tingkahnya dengan ketiga itu tidak ada yang berubah.