
Hari ini Kal dan Delon memutuskan untuk pulang saja. Mereka berdua sudah berada di dalam pesawat yang mengudara menuju ke tanah air.
Selain waktu liburan yang sudah habis, Kal juga malas terlalu lama di tempat itu karena adanya si kutu alias mantan istrinya Delon.
Beruntung saat naik kapal kemarin ia bisa menginap semalam seperti keinginannya. Paginya juga ia tidak kemana-mana setelah kembali ke hotel.
Pasangan pengantin baru itu menghabiskan waktu mereka di kamar hotel. Dari pada harus keluar dan harus bertemu lagi dengan Selly.
Bukan masalah takut pada Selly, tapi Kal tidak mau suasana kebahagiaannya bersama sang suami harus terusik.
Meski bisa saja Selly di keluarkan dari hotel itu. Delon tidak pernah mau mencampurkan urusan bisnis dengan pribadi. Selama Selly tidak berbuat kasar kepada istrinya dan menimbulkan kerugian bagi hotel.
Sesampainya di bandara, Kris yang sudah menunggu menyambut antusias ke pulangan bosnya.
"Halo, Bos dan Nyonya Bos. Bagaimana perjalanannya?" Tanya pria itu sembari tersenyum.
"Seru, Sekretaris Kris. Dan bagaimana pendekatanmu dengan Vera? Kamu tidak macam-macam dengannya, kan?" Kal menjawab sekaligus bertanya pada Kris.
"Semua aman terkendali, Nyonya Bos. Saya juga cuma satu macam kok," jawab Kris.
Delon membukakan pintu mobil untuk Kal dan menutupkan setelah istrinya masuk. Kris juga segera berlari ke sisi mobil lainnya untuk membukakan pintu bagi bosnya.
Setelah semua orang masuk dan duduk dengan nyaman. Kris melajukan mobil menuju kediaman papa Adi lebih dulu.
Kal menyandarkan kepalanya di dada bidang Delon. Memejamkan kedua matanya karena merasa ngantuk.
Delon mendekap tubuh istrinya kala di rasa Kal sudah sangat nyenyak dalam tidurnya.
Hingga tiba di rumah papa Adi, wanita itu belum terbangun juga. Tentu Delon tidak akan membangunkan istrinya hanya untuk masuk ke dalam rumah.
Pria itu merasa masih sangat kuat untuk menggendong sang istri dan membawanya masuk.
"Loh, loh, loh, ada apa ini, Nak? Kenapa menantu Mama?" Mama Asti yang baru keluar untuk menyambut sang menantu dan anaknya.
Di buat kaget dengan keadaan Kal yang menutup mata di gendongan Delon. Wanita paruh baya itu jadi khawatir sendiri, takut terjadi apa-apa dengan menantunya.
"Tidak ada apa-apa, Ma. Tadi di pesawat Kal tidak bisa istirahat dengan baik, jadi ini dia tertidur." Delon menjelaskan secara singkat saja.
__ADS_1
"Oh begitu, ya sudah bawa masuk ke kamar sana. Biar Kal istirahat dengan cukup," ucap mama Asti tidak ingin membangunkan Kal.
Delon menaiki tangga menuju kamarnya yang ada di lantai dua. Kris mengikuti di belakang sembari membawa koper dengan di bantu seorang penjaga keamanan rumah.
Saat pintu kamar sudah di buka dan Delon hendak masuk. Terdengar suara Boy memanggil dari arah kamarnya yang berada tidak jauh dari kamar Delon.
"Mas! Kalian sudah pulang?" Pria itu berjalan mendekati Delon.
"Kenapa?" Tanya Delon.
Boy menggelengkan kepalanya, tapi pandangannya jatuh pada sosok wanita yang ada di gendongan Delon. Ia sangat oenasaran dengan rupa sang kakak ipar yang tanpa make up.
Merasa ini kesempatan yang baik untuk melihat secara langsung. Boy lebih mendekat dengan pandangan terus menuju pada kakak iparnya.
Delon yang tahu arah pandangan adiknya merasa sangat tidak suka. Apa lagi pandangan Boy itu seolah menuntut untuk menatap lebih jauh.
Dengan cepat suami Kal itu melangkah masuk ke dalam kamarnya. Pintu juga ia tutup begitu daja dengan kakinya hingga terdengar suara yang cukup kuat saat pintu tertutup rapat.
"Anak kucing lari-lari, astaga." Kris yang kaget sampai latah saat mendengar suara pintu segera mengelus dadanya.
Kris tidak mau mengusik pribadi bosnya mesku hanya sebatas masuk ke dalam kamar. Karena kamar adalah area privasi yang dapat mengungkapkan jati diri seseorang.
Tidak berapa lama pintu kembali terbuka dan muncullah Delon. Pria itu mebarik kopernya dan sang istri masuk ke dalam sebelum akhirnya menatap Boy yang masih setia menunggu.
"Katakan," ucap Delon menatap adiknya datar.
"Eh, e ... ka-katakan apa?" Tanya Boy sedikit gugup sembari mengusap lehernya.
Delon masuk kembali dan menutup pintu rapat-rapat. Lebih baik menemani sang istri tidur dari pada harus meladeni adiknya yang entah ingin bicara apa.
Delon membuka kemeja dan celananya dan hanya menyisakan celana pendek saja, lalu berbaring di samping istrinya. Ikut tidur memejamkan mata dan tertidur memeluk Kal.
Di luar kamar, Kris berbalik arah hendak turun setelah bosnya menutup pintu. Tapi langkah pria itu harus tertunda karena Boy.
"Kris! Boleh aku tanya sesuatu?" Kris menoleh.
"Apa?" Tanyanya.
__ADS_1
"Boleh aku tahu siapa sebenarnya kakak iparku itu?"
Kening Kris mengkerut mendengar pertanyaan Boy. Untuk apa pula harus ada pertanyaan seperti itu?
"Maaf, itu bukan hak saya menjawab. Silahkan bertanya langsung saja pada Bos," ucap Kris sembari menunjuk pintu kamar Delon.
Boy berdecak kesal mendapat kalimat yang tidak sesuai harapannya. Kris sendiri masa bodo dengan kekesalan Boy.
Pria itu lebih memilih untuk pergi saja dari sana karena besok pagi ia sudah harus bekerja keras. Apa lagi Delon sudah akan masuk kerja besok pagi.
"Ck, siapa sih sebenarnya istri Mas Delon? Buat penasaran saja. Mana Mas Delon galak banget lagi," gerutu Boy berjalan menuju ruang tv untuk bermain game.
Pukul 2 malam, Kal terbangun karena merasa sangat lapar. Di lihatnya sang suami yang juga tertidur hanya menggunakan celana kolor pendek. Sedangkan dirinya masih menggunakan pakaian saat di pesawat tadi.
Kal bangun dan menuju kamar mandi membawa pakaian ganti. Setelah ganti dan mencuci wajahnya, Kal berniat turun untuk makan. Tapi sadar dirinya bukan di kamar sendiri. Kal membangunkan Delon.
"Mas! Bangun, Mas." Kal mengguncang tubuh Delon pelan.
Hingga beberapa saat barulah Delon membuka matanya meski berat.
"Kenapa, sayang? Apa sudah pagi?" Tanyanya dengan suara serak.
"Masih jam 2 malam, Mas." Delon melihat jam di dinding yang memang baru menunjukkan pukul 2.
"Kenapa bangunin, Mas? Ada apa?" Pria itu duduk menghadap Kal.
"Laper, Mas. Ini kita di mana?"
"Ini di rumah papa, mama. Sebentar Mas ganti dulu."
Delon berdiri dan menuju lemari mengambil kaos saja. Mencuci muka lebih dulu agar tidak terlalu mengantuk. Setelah selesai barulah ia dan Kal turun ke bawah untuk mencari makanan.
Suasana yang temaram karena sebagian lampu sudah di matikan. Hanya beberapa lampu saja yang masih hidup agar tidak terlalu gelap.
Di ruang tv juga masih ada cahaya yang terang dari tv yang ternyata masih menyala. Delon dapat melihat adiknya terkapar di sofa.
Mengabaikan Boy, pria itu segera membawa Kal menuju dapur.
__ADS_1