
Setelah beberapa jam tak sadarkan diri akibat pengaruh obat dari dokter. Kini Kal mulai membuka ke dua matanya perlahan.
Hal pertama yang di lihatnya adalah wajah khawatir sang ayah.
"Kamu sudah bangun, Nak?" Ayah Indra tersenyum melihat anak gadisnya sudah membuka mata.
Kal mengangguk pelan dan kembali memejamkan kedua matanya. Rasanya ia masih sangat malas untuk berbicara.
Di pegangnya perutnya yang sudah tak sakit lagi. Namun di tangan kanannya terdapat selang infus yang menancap.
"Ayah ..." Kal mengangkat tangannya yang terdapat jarum infus.
"Kamu butuh itu, Nak. Sebentar lagi Dokter datang, nanti di lepas." Ayah Indra mengelus kepala Kal sayang.
Ayah Indra tentu tahu kalau anak gadisnya tidak suka dengan yang namanya jarum. Karena saat Mina melahirkan dan harus di infus, Kal melihat selang yang seharusnya putih berubah jadi merah.
Akibat Mina yang tiba-tiba menggerakkan tangannya karena lupa kalau ada infus. Jadilah cairan infus yang seharusnya masuk ke tubuh, jadi berbalik menarik darah naik ke selang infus. (author sudah mengalami).
Sejak saat itulah Kal tidak suka yang namanya infus dan jarum.
"Nanti kalau darah ku di hisap ke atas sana gimana, Yah?" Kal melirik kantung infus yang menggantung.
"Tidak akan, Nak. Asal kamu tetap tenang dan tidak nakal, selang infusnya tidak akan menghisap darah kamu. Karena itu selang, bukan drakula." Ayah Indra mencoba mengajak Kal bercanda.
"Ish, Ayah. Aku kan serius, Yah." Kal cemberut menatap ayahnya.
"Sudah, jangan terlalu serius. Ayo, Ayah bantu kamu duduk." Ayah Indra membantu Kal menaikkan bed Kal hingga setengah duduk.
"Mas Edo sama Mas Ferdi, kemana Yah?" Tanya Kal karena tak melihat kedua saudaranya.
"Sudah pergi bekerja, tadi kesini sebentar mengantarkan makanan." Ayah Indra membuka paper bag yang berisi makanan dan menyiapkannya.
"Kak Mina?" Tanya Kal lagi.
"Kak Mina, nanti siang baru datang ke sini sama Mas Edo. Sekarang masih repot mengurus Tomy," sahut ayah Kal.
Gadis yang sedang sakit itu mengangguk mengerti. Bagaimanapun keponakannya itu sedang rewel-rewelnya sejak mulai bisa telungkup.
__ADS_1
"Dea, baru saja pulang." Kal menatap ayahnya dengan kening berkerut.
"Dia, ke sini?" Tanya Kal di angguki ayah Indra.
Hubungan antara Kal dan kedua saudaranya dengan Dea memang tidak bisa di bilang dekat, juga tidak jauh. Hubungan mereka biasa saja, dan hanya berkomunikasi seperlunya.
Semua itu juga tak luput dari peran Tuti yang melarang anaknya untuk terlalu dekat dengan Kal dan lainnya. Padahal saat pertama kali datang, Dea sangat senang bertemu dengan Kal dan saudaranya.
Namun Tuti yang mendapatkan sikap kurang ramah dari suami yang menikahinya secara paksa. Membuat wanita itu pun menjauhkan putrinya dari ketiga anak tirinya.
Dea yang hanya beda satu tahu Kal dan saat itu masih kecil hanya bisa menurut saja. Kini Dea yang sudah dewasa bisa melawan sang mama dan tidak takut dengan ancaman lagi.
Apa lagi sejak Dea mengenal papa kandungnya dari foto yang tak sengaja di temukannya di kotak rahasia sang mama.
Kembali pada pasangan ayah dan anak gadisnya...
Kal sangat senang makan di suapi oleh ayahnya. Rasanya sudah sangat lama ia tidak di suapi lagi oleh ayahnya. Terdengar manja dan kekanakan memang, namun memang Kal sangat di manja.
Di luar terlihat kuat dan tomboy, di keluarga Kal tetap anak manja yang suka menangis jika ada sesuatu yang tidak cocok baginya.
"Ayah, sudah sarapan?" Tanya Kal setelah ia selesai makan.
Tak lama Dokter datang memeriksa keadana Kal, juga mencabut selang infus yang sudah sangat mengganggu bagi Kal.
"Kedepannya lebih di jaga kesehatannya, ya? Makanan kamu benar-benar kacau hingga membuat lambung kamu sakit," ucap Dokter wanita yang memeriksa Kal.
"Iya," sahut Kal singkat.
"Apa kamu sempat minum kopi pahit juga ketika makan makanan pedas?" Tanya Dokter yang membuat Kal langsung melirik ayahnya was-was.
Sepertinya sakit perut yang di deritanya ada hubungannya dengan makanan pedas yang kemarin siang, pikir Kal.
"Memangnya ada apa, Dokter?" Tanya ayah Indra penasaran.
"Berdasarkan hasil pemeriksaan darah yang kami lakukan terhadap anak, Bapak. Kami mendapati adanya kandungan cafein dan cabai yang kuat di darahnya. Kandungan itu pula yang membuat perut terasa panas dan perih."
Ayah Indra menatap Kal kesal karena sudah makan sembarangan.
__ADS_1
Sedangkan yang mendapatkan tatapan kesal dari sang ayah langsung menyusutkan tubuhnya ke dalam selimut. Menutupi separuh wajahnya hingga hanya menampakkan kedua mata hingga kening saja.
"Kalau bisa hindari makan makanan terlalu pedas yang di barengi dengan minum kopi pahit. Karena bagi orang yang memiliki lambung sensitif akan snagat berbahaya. Untungnya kandungan gula dalam darahnya tidak banyak."
Ayah Indra menghela napas pelan mendengar penjelasan Dokter yang seakan menamparnya. Bagaimana tak menampar kalau itu membuatnya merasa gagal mengurus putri satu-satunya.
Setelah Dokter keluar dan mengatakan akan datang lagi siang nanti. Ayah Indra baru bisa duduk kembali di kursi samping bed.
"Maaf, Ayah ..." lirih Kal menatap ayahnya dengan kedua mata yang di kedip-kedipkan.
"Hah ... Kamu tahu, Kal! Ibu kamu memiliki sakit yang sama dengan kamu. Lambung sensitif, tapi karena ibu mu bisa menjaga pola makannya, Ayah tidak terlalu khawatir. Namun tetap saja saat kepergiannya, Dokter tetap menyatakan kalau salah satu penyebab meningalnya ibumu karena lambungnya."
"Ayah, benar-benar merasa gagal menjaga kamu. Kamu jadi seperti ini juga karena ke lalaian Ayah yang kurang memperhatikan kamu, Nak."
Kal bisa merasakan penyesalan dan kesedihan ayahnya saat ini. Dan itu pula yang membuat air mata Kal menetes dengan sendirinya.
Betapa ia sangat menyesal sudah bertindak ceroboh dengan menyakiti lambungnya sendiri. Hanya karena emosi sesaat dan sakit hati karena di hianati. Kal malah membuat sang cinta pertama bersedih.
"Maafin aku, Ayah ..." lirihnya dengan air mata yang semakin berderai.
"Aku janji tidak akan makan pedas lagi. Kalau tidak lupa," ucap Kal dengan suara pelan di kalimat terakhir yang membuat ayah Indra terkekeh di tengah kesedihannya.
"Ayah, akan lebih tegas lagi sama kamu mulai sekarang. Dan Ayah juga akan minta calon suami kamu untuk tidak mengijinkan kamu makan sembarangan." Ayah Indra menyentuh kedua pipi Kal yang basah.
Dengan lembut jari-jari tua yang mulai keriput itu membersihkan air mata Kal.
"Jangan menangis lagi, sayangnya Ayah. Kamu itu permata terindah yang Ayah punya. Gadis kecil Ayah yang sudah dewasa dan akan segera menikah." Ayah Indra tersenyum manis pada Kal.
"Sebentar lagi tugas Ayah akan di gantikan pria lain. Ayah, hanya berharap agar kamu selalu bahagia. Dan semoga pilihan Ayah tidak salah ya, Nak."
Ayah indra mengecup sayang kening Kal setelah gadis itu mengangguk setuju dengan ucapan ayahnya.
Tanpa mereka sadari kalau ada orang lain yang mendengarkan perckapan ayah dan anak itu.
------
Mengenai penyakit lambung itu, author sudah mengalami di keluarga. Dan sudah memakan korban juga.
__ADS_1
Kalau ada pendapat lain boleh komen agar yang lain juga tahu.
Terimakasih😊😊😊