
"Berhenti kalian berdua!" Teriak Wina kuta hingga menarik perhatian yang lainnya.
Tapi tidak bagi kedua orang yang menjadi sasarannya. Kal dan Vera tetap acuh berjalan tanpa perduli teriakan Wina.
"Kamu manggil siapa, Win?" Tanya salah satu mahasiswa di sana karena tak memukan siapa yang di panggil Wina hingga berteriak begitu.
"Siapa lagi kalau bukan si tomboy sama perempuan bar itu." Wina menatap Kal dam Vera yang terus berjalan di depannya.
"Memangnya mereka kenapa?" Tanya yang lainnya.
"Sepertinya mereka tidak merasa kalau kamu panggil. Buktinya mereka diam saja dan terus berjalan." Sambung yang lain pula.
"Jelas saja mereka tidak mendengar panggilanku, karena mereka itu kurang pendengaran. Di tambah lagi pasti si tomboy itu habis menangis karena di tolak sama, Boy. Pada hal Boy itu pacarku, tapi dia tidak malu menyatakan cinta sama pacarku. Sedangkan si cewek bar itu, mungkin dia lagi ke capean karena tadi malam melayani om-om di bar."
Wina berucap sedikit keras hingga semua mata menatap ke arah Kal dan Vera yang masih saja acuh.
Sampai akhirnya ada seorang gadis yang menegur keduanya.
"Kal, Ver, kalian di hina tuh sama, Wina. Kok kalian santai banget sih? Jangan-jangan yang di ucapkan Wina bener lagi."
Kal dan Vera menghentikan langkahnya menatap perempuan yang menegur mereka itu. Sedangkan Wina sengaja mempercepat langkahnya untuk mendengar ucapan Kal dan Vera.
"Kamu kalau pernah belajar, seharusnya bisa membedakan yang baik dan salah. Yang mana berita fakta dan mana hoaks, jangan asal menyimpulkan sesuatu hanya berdasarkan pendengaran dan penglihatan tanpa mengetahui fakta yang sebenarnya." Santai Kal tanpa emosi.
Wina yang mendengar ucapan Kal semakin marah. Apa lagi sekarnag semua orang menatapnya dan membicarakannya tentang ucapan bohongnya tadi.
"Siapa yang bicara bohong atau hoaks? Semua yang ku katakan tadi itu fakta," ucap Wina.
Kali ini Kal dan Vera balik badan menatap Wina yang sedang menatap mereka meremehkan.
"Haduh ... Ratu gosib, denger baik-baik apa yang aku bilang, ya. Kalau kita berdua memang seperti apa yang kamu ucapkan tadi, apa masalahnya sama kamu? Apa kami merugikan kamu? Tidak, kan?" Vera melipat kedua tangannya di dada menantang Wina.
"Tentu saja merugikan aku, karena si tomboy miskin itu sudah merebut pacarku. Dan kamu! Sudah mencemarkan nama baik kampus dengan perbuatan buruk kamu itu." Wina menunjuk Kal dan Vera bergantian.
"Bukannya tadi kamu bilang kalau aku di tolak sama pacar kamu? Kenapa sekarang kamu bilang aku merugikan kamu. Dan masalah Vera, kenapa kamu bisa tahu kalau dia sering ke bar? Dan melayani om-om di sana? Atau ... Kamu juga sering ke bar dan melayani om-om juga."
__ADS_1
Kal menyerang balik dengan kalimat yang tadi di lontarkan Wina.
"Tapi sepertinya dia bukan melayani om-om deh, kal. Biasanya kalau melayani om-om itu pasti di kasih duit, kalau dia mungkin melayani pacarnya secara cuma-cuma. Makanya dia bisa bilang kalau kamu merugikan dia, pada hal tidak punya hubungan sama pacarnya."
Vera juga ikutan menyerang Wina yang sudah nampak gugup karena semakin di gosipi oleh yang lainnya.
"Jangan sembarangan kalian kalau bicara. Apa kalian punya bukti kalau aku sering ke bar? Apa kalian juga punya bukti kalau aku melayani pacarku cuma-cuma?" Wina mencoba menyangkal.
"Tidka melayani secara cuma-cuma, itu artinya kamu memang sering melakukan sesuatu yang intim dengannya. Dan kamu di bayar untuk itu, apa begitu maksudnya? Itu sama saja kamu sudah tidak lagi perawan dong," ucap Vera.
"Hah, astaga!" Kal menutup mulutnya dengan wajah kaget, begitupun dengan Vera yang baru saja berbicara.
Wina yang sudah malu karena mendapatkan serangan balik dengan tak terduga, pergi begitu saja meninggalkan orang-orang yang membicarakannya.
Kal dan Vera bertos ria karena berhasil membalikkan keadaan hingga sekarang Wina yang jadi bahan gosipan seluruh kampus.
"Aku yakin dia pasti mau ngadu sama pacarnya, siapa tadi namanya? Boy? Tidak asing namanya." Vera mencoba mengingat dimana ia pernah mendengar nama itu.
"Si brengsek yang dulu kejar-kejar aku," sahut Kal santai. Tali dalam hatinya sudah sangat kesal hingga sangat ingin menghajar laki-laki itu.
Pasalnya Boy sebelumnya terlihat seperti pria baik-baik dan sangat menghargai orang lain. Tapi siapa yang akan menyangka kalau ternyata laki-laki itu mempermainkan Kal.
"Iya, dia deketin aku cuma karena taruhan." Kal mengeratkan genggaman tangannya marah kala mengingat hal itu.
"Wah, tidak bisa di diamkan ini. Kita harus kasih pelajaran yang setimpal buat mereka berdua. Kalau Boy pacarnya Wina, pasti mereka berdua sudah sekongkol untuk menjebak kamu. Mereka pasti menerima hadiah besar, karena Boy itu anak pengusaha. Tidak mungkin dia mau menerima tantangan itu kalau hadiahnya tidak menggiurkan."
Vera menatap Kal dengan sangat percaya diri atas apa yang di ucapkannya.
"Memang, mobil spot keluaran terbaru." Mata Vera semakin melotot lebar mendengar ucapan Kal.
"Kota harus kasih mereka pelajaran, Kal." Tekat Vera dengan semangat membara.
"Iya, tapi tidak sekarang." Vera menatap Kal bingung.
"Kenapa? Lebih cepat lebih baik, Kal."
__ADS_1
Keduanya duduk di dalam kelas setelah tiba.
"Kamu lupa kalau pertengahan bulan depan kita kerja magang?" Tanya Kal.
"Tidak, tapi itu masih lama. Kita masih bisa melakukan pembalasan dulu."
"Iya, memang. Tapi 2 minggu lagi aku cuti kuliah, Ver. Seminggu sebelum kerja magang, baru aku masuk. Saat itu sudah tidak sempat untuk menyiapkan smeuanya. Jadi sekarang aku mau selesaikan masalah magangnya." Kal menjelaskan masalahnya pada Vera.
"Kamu mau cuti? Kenapa?" Tanya Vera.
"Seminggu lagi kamu juga bakalan tahu."
Vera terus mendesak Kal untuk mengatakan apa masalah gadis itu sampai harus cuti. Tapi, Kal tidak mengatakan apapun dan tetap diam.
Setelah kelas selesai, kedua gadis itu pergi menemui dosen yang mengurus masalah magang mereka. Karena pihak kampus mengajukan diri untuk memberi rekomendasi perusahaan.
Kal tidak ingin magang di perusahaan ayahnya karena tidak ingin di istimewakan.
Kal dan Vera di beri surat rekomendasi oleh kampus juga pemberitahuan tentang perusahaan yang akan di datangi oleh Kal.
"Ini perusahaan terbesar pertama di Asia, Kal. Seriusan kita bakalan magang di sini? Mimpi apa aku semalam." Heboh Vera.
Perusahaan Pratama Grup yang mencakup bidang pertambangan, pembangunan, dan segela bidang industri. Perusahaan terkenal yang bahkan sudah menempati posisi ke 2 di dunia.
"Siapa pemimpinnya?" Tanya Kal yang memang tidak tahu siapa pemilik perusahaan besar itu.
"Namanya ... Ah, aku lupa." Vera memasang wajah sedih karena melupakan nama idolanya.
"Pada hal dia itu idola aku, loh. Orangnya tampan banget, Kal. Sudah itu dia juga sangat berwibawa, pokonya, ah ... Luar biasa." Vera merapatkan kedua tangannya dan meletakkannya di pip kiri hingga dagu.
"Astaga, Bohay. Jangan terlalu mengidolakan laki-laki lain seperti itu, karena dia bukan punya kamu sepenuhnya. Masih ada orang lain yang lebih berhak atas dirinya." Nasehat Kal pada Vera yang di panggilnya bohay.
"Aku cuma mengidolakannya, Kal. Kalau dia punya perempuan lain untuk jadi istri, ya tidak masalah. Lagian aku juga nanti bakalan punya suami, tidak mungkin mengharapkan sesuatu yang tidak pasti di dapatkan."
Vera memasang wajah cemberut mendengar nasehat Kal yang memang benar adanya. Vera juga tidak mungkin bisa mendapatkan laki-laki hebat itu, jadi lebih baik tidak terlalu banyak halu.
__ADS_1