
Selesai sarapan dan istirahat, Delon mengajak Kal untuk segera pergi.
"Mau kemana sih, Mas?" Tanya Kal yang merasa sangat malas untuk pergi.
Kal malah berbaring di sofa dengan satu kaki di bawah dan satu kaki di sandaran sofa. Sementata kepalanya di ganjal menggunakan bantal sofa.
Delon yang baru berbalik setelah mendorong koper mereka ke dekat pintu. Geleng kepala melihat cara tidur istrinya.
Kal memakai rok panjang dan baju kaos hitam longgar. Sengaja wanita itu memakai rok karena jalannya yang kurang nyaman. Akan malu kalau sampai di lihat orang cara jalannya yang sedikit mengangkang.
"Pergi," sahut Delon singkat.
"Kemana?" Tanya Kal malas-malasan.
"Rahasia."
Kal berdecak mendengar jawaban suaminya itu.
"Mana tempat yang namanya rahasia, Mas. Yang itu Bioskop, mall, kafe, restoran, Bali, Maluku, Raja Ampat, dan masih banyak lagi. Kalau rahasia tidak ada," protes Kal yang tak mengubah posisinya.
Sampai Delon menghampiri dan berjongkok di dekatnya. Wanita itu tetap santai di tempatnya seperti semula, tidak ingin mengubah posisi wuenak yang sudah di dapatnya.
"Bangun, kita berangkat." Kal malah memejamkan matanya acuh. "Sebentar lagi saja, Mas. Masih enak," sahutnya.
Pintu kamar di ketuk dari luar dan terdengar suara seseorang yang memanggil.
"Bos! Semuanya sudah siap." Suara Kris memberitahu.
"Masuk," ucap Delon.
Pintu terbuka dan masuklah Kris ke dalam kamar pengantin baru itu. Meski hanya di depan pintu saja. Tidak berani melangkah lebih jauh.
Mata pria itu melirik kasur yang masih berantakan dan gaun pengantin Kal yang tergeletak begitu saja di lantai.
Bukan Kal tidak mau mengambil gaun itu dan merapikan kasur. Delon lah yang tidak mengijinkan Kal melakukan semua itu. Menurut pria itu, nanti pelayan rumahnya akan datang mengambil gaun itu.
Ganas banget si Bos, batin Kris.
"Bawa." Delon memberi kode dengan dagunya menunjuk koper.
"Siap, Bos." Kris segera menarik dua koper itu keluar kamar dan menutup pintu kembali.
Delon segera mengangkat tubuh Kal dengan mudahnya. Karena wanita itu yang tetap belum mau bergerak, sudah malas rasanya mau melakukan apapun kalau sudah dapat posisi wuenak.
"Jangan paksa aku, Mas." Kal menggoyangkan kedua kakinya tidak mau pergi.
__ADS_1
"Jangan paksa?" Satu alis Delon naik sembari menatap Kal.
Wanita itu mengatakan jangan paksa, tapi kedua tangannya di kalungkan di leher Delon cukup erat. Belum lagi kepalanya yang di sandarkan manja di bahu Delon.
"Namanya takut jatuh, Mas." Alasan Kal saat mendapati tatapan remeh suaminya.
Delon hanya bisa menghela napas sembari melangkah. Ada-ada saja istrinya ini, segala tingkahnya selalu di luar dugaan.
Kal yang membuka pintu kamar karena Delon menggendongnya. Mereka menuju lift dengan posisi Kal di gendongan Delon.
Wanita itu bahkan tidak perduli dengan tatapan orang-orang yang melihat mereka. Entah iri atau ingin, terserah saja.
Masuk ke dalam lift, Kris menekan tombol lantai bawah. Pria itu cukup kaget juga melihat bosnya keluar kamar menggendong sang istri.
Sepertinya si Bos sudah bucin sama istrinya. Atau mungkin karena sudah kelamaan menduda, jadi begitu dapat istri langsung di gempur habis-habisan, batin Kris.
"Mata," ucap Delon tiba-tiba yang membuat Kris gelagapan.
Lupa kalau bosnya begitu teliti dan peka, Kris ketahuan melirik-lirik Kal yang ada di gendongan Delon.
"Hehehe ... Sorry, Bos." Pria itu terkekeh canggung di belakang bosnya.
Delon tidak menyahuti ucapan Kris dan malah melihat Kal yang kembali tertidur di gendongannya. Mengecup kening Kal dengan sayang lalu kembali menatap lurus.
Sesampainya di lantai bawah, mereka segera menuju lobi hotel. Dimana mobil sudah terparkir rapi di sana.
Para pegawai hotel yang berpapasan dengan Delon menunduk hormat. Bos besar lewat dengan penuh karismanya menggendong sang istri. Membuat para wanita mengiri dans angat ingin erada di posisi Kal.
"Iri banget sih sama istrinya, Bos." Para pegawai wanita mulai bicara.
"Iya, mana kelihatan gagah banget lagi, si Bos."
"Untung istrinya cantik, ya! Jad serasi gitu sama Bos kita."
"Iya, mereka memang pasangan yang serasi."
"Tapi tetap saja aku iri."
"Sudahlah, kembali bekerja."
Ketiga pegawai hotel itu kembali melanjutkan pekerjaan mereka. Bisa gawat kalau sampai ketahuan mereka korupsi waktu kerja.
Sedangkan Delon dan Kal sendiri sudah di dalam mobil dan menuju bandara. Karena waktu cuti Kal hanya seminggu lagi, jadi Delin segera membawa istrinya untuk pergi bulan madu.
Bagaimanapun juga Delon sangat menghargai waktu istrinya. Apa lagi masih ada tanggung jawab yang harus di selesaikan sebagai seorang mahasiswa.
__ADS_1
Mungkin nanti kalau Kal sudah selesai kuliah, Delon akan membawa istrinya kemanapun sesuka hati. Tanpa harus memikirkan tanggung jawab istrinya lagi sebagai pelajar.
"Mau kemana, Mas?"
Delon yang sedang memangku Kal melihat ke arah wanita itu sata mendengar pertanyaan sang istri. Delon mengira Kal bangun, tapi ternyata tidak.
Kal malah masih memejamkan matanya dengan damai di pelukan Delon.
Pria itu geleng kepala tak percaya karena istrinya bisa mengingaukan pertanyaan yang tadi di tanyakan sebelum tidur.
Mengecup kening Kal untuk kesekian kalinya, kembali di lakukan Delon. Entah mengapa, mengecup atau menyentuh Kal menjadi kesenangan tersendiri bagi Delon.
Apa karena mereka sudah sah sebagai pasangan halal? Atau karena Delon yang mulai terbiasa menyentuh Kal dan bersama wanita itu?
Beberapa saat kemudian, pasangan pengantin itu sampai di bandara. Kris membuntuti bosnya hingga sampai di tempat pesawat pribadi Delon.
Koper mereka di bawa oleh para petugas yang bekerja khusus untuk pesawat Delon.
"Bos! Saya boleh ikut?" Pinta Kris.
"Hm," sahut Delon singkat.
"Beneran, Bos?" Bahagia Kris tersenyum lebar dan penuh semangat.
Sebab pria itu tahu kemana Bosnya akan pergi bulan madu. Hawai dan Maldives, tempat terbaik untuk pasangan pengantin baru.
Dan Kris sangat ingin pergi ke sana untuk liburan. Karena kunjungan pertamanya dan Delon ke sana untuk kerja.
"Turun di tengah laut."
Senyum bahagia dan semangat Kris luntur sudah. Bos nya ini kalau tidak mau di ganggu memang bisa bersikap sadis.
"Tidak jadi deh, Bos. Dari pada mati di makan hiu, mending saya mengejar cinta temannya, Ibu Bos." Kris menyerah dan batal untuk ikut.
"Semangat," ucap Delon sembari terus melangkah naik tangga pesawat.
Senyum Kris mengembang kembali mendapat ucapan semangat dari Bosnya.
"Pasti, Bos. Saya pasti akan mendapatkan temannya Ibu Bos secepatnya. Bos, semangat juga mengadon Bos kecilnya," teriak Kris dari depan tangga.
Delon menghentikan langkahnya yang tingga satu anak tangga lagi dan melirik Kris tajam. Di depan banyak petugas bicara sembarangan.
"Maaf, Bos. Viis," ucap Kris mengangkat dua jarinya tanda damai.
Delon menghela napas pelan dan melanjutkan langkah masuk ke dalam.
__ADS_1