Suami Posessif

Suami Posessif
Bab 52.


__ADS_3

Ketua HRD itu merasa kesal dengan tantangan dari Kal.


"Kalau begitu silahkan pergi dari kantor ini," usirnya dengan suara bentakan keras.


Para karyawan menatap tidak tega pada Kal dan Vera yang tanpa salah di tuduh dan di hina oleh kepala HRD yang sangat arogan itu.


"Memangnya kamu siapa bisa mengusir mahasiswa magang? Bukan kamu pemilik perusahaan ini," kata Kal santai.


"Walau aku bukan pemilik, tapi hak kuasa penuh ada di tanganku. Siapa yang aku sukai dan tidak sukai, bisa aku pecat sesuka hatiku. Siapa yang bisa menghalangi?" Sombongnya.


"Bu Ani, jangan seperti itu pada mereka. Mahasiswa magang itu tugasnya membantu karyawan bukan jadi OB." Seorang karyawan buka suara juga.


"Diam kamu! Aku yang berkuasa di sini," bentak Ani.


"Haduh, kasihan banget sih pemilik perusahaan ini. Punya karyawan sok berkuasa," cibir Kal santai.


"Jangan karena kamu tadi datang bersama pak Delon, lalu kamu bisa seenaknya di sini. Aku penguasa di kantor ini," ucap Ani.


"Apa? Dia datang barengan sama pemilik perusahaan? Ya ampun, ternyata selain kampungan dan norak. Kamu juga seorang pelakor, ya? Jadi sama deh kalian berdua." Wina menunjuk Kal dan Vera bergantian.


"Memangnya kenapa? Kalian iri ya karena tidak bisa menggandeng pak Delon?" Kal tersenyum miring sambil mengejek pada Ani si kepala HRD.


"Huh, jangan senang dulu kamu ya. Aku kenal baik dengan istrinya pak Delon, karena aku ini calon adik iparnya." Wina membusungkan dada sombong mengatakan hal demikian.


Kal dan Vera saling pandang lalu terkekeh geli mendengar ucapan Wina.


"Silahkan di telpon kalau begitu, aku menantinya." Tantang Kal sembari menahan senyumnya.


Wina jadi gagap sendiri mendapatkan tantangan dari Kal. Mana mungkin ia bisa menghubungi kakak ipar pacarnya, sedangkan ia baru bertemu hanya di pesta saja.


"Tidak bisa, ya? Atau kamu memang tidak sedekat itu dengan istrinya pak Delon?" Ejek Vera lalu terkekeh bersama Kal.


"Mbak! Suruh mereka segera pergi ke bagian OB saja," ucap Wina karena sudah kapah malu.

__ADS_1


Kal dan Vera kembali tertawa mendengar cara Wina mengalihkan pembicaraan.


"Apa yang kalian tertawakan, hah? Jangan sok hebat ya kalian berdua. Aku bisa membuat kalian tidak di terima di perusahaan manapun untuk magang," ancam Ani.


Kal geleng kepala mendengar ucapan Ani yang merasa sangat berkuasa itu. Karena ia sangat tidak suka dengan orang-orang modelan Ani. Yang sangat membanggakan jabatan dan menindas yang di bawah.


Jadi dengan sangat berbaik hati, Kal mengambil ponselnya lalu menghubungi Delon.


Semua orang melihat Kal penasaran, siapa kira-kira yang di hubungi oleh Kal. Wina kembali mencibir Kal yang di nilainya sangat banyak gaya.


"Cih! Siapa yang kamu hubungi? Apa kamu meminta bantuan pada sugar daddy? Tidak akan mempan kalau di perusahaan ini. Terkecuali kalau sugar daddy kamu itu bekerja di sini sebagai petinggi," ucap Wina yang tidak di hiraukan Kal.


"Halo Sugar Daddy!" Ucap Kal begitu sambungan terhubung.


Delon di seberang sana yang mendengar panggilan Kal padanya mengerutkan kening. Ada dengan istrinya ini, pikirnya.


"Halo sayang! Kamu kenapa?" Tanya Delon.


"Ada yang bilang aku telpon sugar daddy aku loh, Mas. Dan ini kepala HRD nya bilang kalau kami harus ke bagian OB untuk bersih-bersih. Karena di kantor ini dia penguasa uang bisa melakukan paa saja. Apa kami harus menurutinya?" Kal berucap manja untuk meyakinkan orang-orang.


"Dengar kan, Mas. Istrimu ini di hina sama karyawan paling berkuasa di kantor ini," ucap Kal mengadu.


Tidak tahu saja Kal dan yang lainnya kalau sata ini Delon sudah bergerak cepat menuju tempat di mana sang istri berada. Amarahnya yang tadi sudah reda seketika memuncak kembali.


Bukannya dia sudah memberitahu agar Kal di jadikan asistennya dan Kris sudah meminta Vera untuk jadi asistennya pula. Alasannya agar bisa semakin dekat.


"Mas! Maaf aku telat," ucap Boy yang tidak sengaja bertemu dengan Delon dan Kris yang berjalan tergesa ke ruangan HRD.


Delon tidak mendengarkan ucapan Boy dan hanya fokus menuju ruang HRD. Boy yang memang hendak ke ruangan yang sama hanya bisa mengikuti saja.


"Kamu benar-benar wanita murahan, ya? Bahkan menelpon sugar daddy saja panggilannya begitu mesra. Pasti terlalu di manja tuh," ejek Wina.


"Siapa yang di manja?"

__ADS_1


Semua orang sontak menatap ke arah pintu di mana suara dingin itu berasal. Mata mereka melotot saat mendapati Delon dengan wajah marahnya sudah datang.


"Siapa yang paling berkuasa di sini?" Tanya Kris dengan suara datarnya.


Ani jadi gelagapan sendiri, apa lagi Delon mendekati Kal lalu mendekap erat pundak Kal.


"Bukannya saya sudah mengkonfirmasi padamu agar mereka berdua di kirim ke lantai atas?" Kris menatap Ani tajam.


Sedangkan Delon sudah membawa Kal keluar dari ruangan itu sebelum amarahnya kembali memuncak. Ia takut istrinya bisa ketakutan karena sikap marahnya bisa begitu mengerikan.


Boy menatap kepergian Delon dan Kal tanpa bersuara lagi. Ia masih takut kena bogeman dari Delon jika berani bersuara.


"Ma-maafkan saya, Pak. Mereka berdua yang tidak mau di pindahkan ke atas dan memilih untuk ke bagian OB," alibi Ani mencari aman.


"Benarkah?" Ani mengangguk semangat karena mengira kalau Kris percaya ucapannya.


"Siapa yang bisa menjelaskan?" Tanya Kris pada semua orang yang ada di sana.


"Maaf, Pak. Tadi sewaktu kedua perempuan itu keluar, tidak lama Bu Ani juga keluar. Bu Ani juga menghina kedua perempuan tadi dengan mengatakan kalau mereka wanita penggoda. Sedangkan perempuan yang tadi di sebut pelakor oleh Bu Ani dan perempuan itu."


Wina yang ikut di tunjuk oleh pria yang sedang berbicara itu langsung melotot. Ia langsung mendekati Boy begitu menyadari keberadaan kekasihnya.


"10 menit lagi ke ruangan, Bos." Pandangan Kris beralih dari Ani ke Wina. "Dan kamu pergi ke bagian gudang, di sanalah kamu akan bekerja. Sisanya silahkan temui Manager pemasaran," panjutnya menatap peserta magang lainnya.


Wina langsung mengajukan protes karena di perintah ke gudang.


"Tidak! Aku tidak mau di bagian gudang, aku ini calon adik ipar pak Delon. Kamu tidak berhak mengaturku ke sana," ucap Wina.


"Silahkan angkat kaki kalau begitu," sahut Kris enteng. "Kamu ikut saya." Kris menatap Vera yang ada di sampingnya.


Setelah selesai mengatur dan membereskan keributan. Kris segera berlalu pergi menuju lantai atas di mana ruangannya berada. Tentu saja bersama Vera yang mengikut di belakangnya.


Tanpa ragu Vera menjulurkan lidahnya sedikit ke arah Wina. Tentu saja hal itu membuat Wina marah dan kesal.

__ADS_1


"Yang ... Kamu bantu aku bilang sama Mas Delon dong. Aku tidak mau di gudang," rengek Wina mengikuti langkah kaki Boy dan yang lainnya menuju bagian pemasaran.


__ADS_2